Setiap manusia mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda, mempunyai permasalahan yang berbeda dan cara menyelesaikannya berbeda pula. karena minimnya rasa saling menghargai di dunia saat ini, membuat perbedaan itu menjadi permasalahan yang semakin menjamur. Ada yang ingin dirinya dianggap paling benar, ada yang dirinya tidak ingin dilihat dunia, dan ada pula dirinya yang mengikuti arus hidup seperti air mengalir. Tidak bisa dibenarkan atau disalahkan karena setiap manusia mempunyai cara dan pilihan untuk menjalani hidupnya. Hanya dirinya sendirilah yang mengerti alasan mengapa memilih hidup demikian.

melihat bagaimana cara manusia hidup di dunia saat ini, aku tidak bisa hanya berdiam diri menontonnya dari jauh. Salah satu bagian tubuhku memang sangat jemu melihat permasalahan-permasalahan saat ini, tapi bagian tubuhku yang lain tidak bisa hanya diam saja. Ini bukan tentang permasalahan politik saat ini yang suhunya semakin panas, karena aku memang tidak ingin membahasnya dan sedikit bosan melihat tingkah para manusia itu. Aku lebih menenggelamkan diriku pada dunianya Alex.

Dunianya alex lebih menarik untuk ku jelajahi. ayahnya sudah lama meningalkan ia, dua saudaranya dan ibunya yang sakit. usianya saat ini 15 tahun tapi sayangnya ia masih duduk di bangku SD. Menurut kurikulum pendidikan Indonesia, seharusnya ia sudah duduk dibangku SMP. Di setiap akhir pekan, aku berjalan melewati gang sempit itu untuk menemuinya. Dari depan rumah mungil itu, aku memperhatikannya sedang sibuk dengan buku ditangannya. Sesekali ia membalas perkataan ibunya yang sedang menjahit disebelahnya. Aku menghampirinya, seperti biasanya ia menyambutku dengan senyum yang lebar.

Dengan wajah polosnya, ia menagih bantuan dariku untuk memahami soal matematika yang membuatnya berkelimpungan menjawabnya. Alex adalah anak yang rentan putus sekolah, jadi tugasku adalah untuk membantunya. Dengan keadaan ekonomi keluarga yang tidak baik, hal itu juga mempengaruhi pergaulannya hidupnya. Tapi meskipun demikian, tidak sekalipun ia menyalahkan-Nya atas hidup yang demikian.

Aku tahu, dibalik senyum wajahnya ia menyembunyikan segala kepahitan hidupnya. Mencoba menahan tangisnya. menyimpan luka yang sangat hebat sakitnya. Bahkan terkadang saat didepanku ia tertawa tapi seakan tidak tertawa. Ia hanya mengikuti karena aku tertawa. Tapi anehnya, ia tidak pernah berbagi cerita tentang masalah hidupnya. Ia memilih menguburnya di dalam hati. Jika kutagih ceritanya, ia hanya menjawab “Aku tahu kalau kamu sudah cukup faham dengan hidupku tanpa perlu aku mengatakannya”. Aku hanya tersenyum menjawabnya.

Advertisement

Dengan usia 15 tahun dan masih duduk dibangku SD, bukan berarti alex tak mempunyai mimpi. sekolah sambil bekerja di usia yang masih dini tidak mematahkan semangatnya untuk menggapai impiannya. mimpinya jauh berbeda dengan anak-anak zaman sekarang yang ingin jadi doker, polisi, dll. tapi alex hanya ingin masuk SMP. katanya, SMP adalah proses untuk meraih mimpi yang lebih tinggi, karena itu SMP juga merupakan bagian dari mimpi tinggi itu.

Melihat wajah anak periang itu, membakar semangatku untuk membantunya. meskipun aku belum benar-benar mengenalnya, aku ingin berbagi beban dengan anak tersebut. Aku tidak bisa membantunya secara materi tapi aku masih banyak tenaga dan pengetahuan yang akan kubagikan dengannya. Memang kuakui aku tidak bisa mengubah dunia layaknya superhero, tapi aku ingin mengubah dunianya Alex. Membantunya menaiki tangga impian itu hingga ia menjadi orang yang lebih baik kedepannya.