Teruntuk kau yang ribuan kilo jauhnya disana.

Apa kabar, kata itulah yang kau tanyakan padaku disini setiap hari. Seakan kau tak pernah ingin aku tak merasa bahagia. Baik, jawaban itulah yang kulontarkan tiap kali kau bertanya (meski belum benar-benar ku rasa baik seperti yang terucap dengan mudah dari bibirku).

Kau datang tiba-tiba, tanpa pernah kuharapkan, tanpa pernah kuduga sebelumnya. Dan berselang dalam waktu seumur jagung kau bisa dengan mudah mengatakan cinta? Bagaimana bisa kau jatuh cinta begitu mudahnya? Tapi kau datang di waktu yang tidak tepat, aku sedang patah hati dan sedang tak ingin merasakan apa-apa yang berhubungan dengan cinta.

Seperti tak punya aturan, kau begitu saja menyerobot dan menggedor-gedor pintu hatiku. Apa maumu? Aku bukan seperti es yang mudah mencair setelah mendapatkan kehangatan. Kau orang asing dan tak akan bisa mengenalku.

Memang kau punya segalanya tapi bukan berarti kau bisa memberiku segalanya, wajah aria yang rupawan, dan mata coklat menawan yang sempat akan menjerat perhatianku, nyatanya semua itu telah luput dengan kewarasanku. Ketika aku berpikir, maka disitulah letak kesadaranku sesungguhnya.

Advertisement

Ini bukan hanya tentang kau dan aku dengan segudang bayangan menakjubkan yang sama untuk berusaha diwujudkan, tapi bagaimana kita melihat bukan dengan mata telanjang yang buta akan cinta, melihat lebih dalam dari mata hati rasa. Realita tidak pernah mudah.

Tentu kau akan menangggung resikonya, tapi bukankah dalam setiap mempertanggungjawabkan pilihan selalu ada resiko keteledoran? Dan, nampaknya kau memang keras kepala. Kau begiti gigih mengetuk pintu hati yang belum sempat kukunci. Kau menghadang terus disana, seakan kau punya ribuan cara untuk menaklukkan hatiku yang telah retak.

Bgaimana aku harus menilaimu? Di satu sisi tak dapat dipungkiri dibalik kerasnya hatiku, aku pun masih merindukan sosok sepertimu. Tapi disisi lain kau memulainya dengan etiket yang salah. Aku selalu benci jika tak dapat menentukan keputusan seperti ini. Kau terlalu mempesona, dan terlalu pandai mengucapkan kata-kata manis yang bahkan aku sendiri bingung mana yang benar dan mana yang hanya menjadi bualanmu semata.

Sudah setahun kita mencoba untuk saling mengenal, tapi apa yang kurasakan dan apa yang kau rasakan? Banyak sekali mereka yang berlaku sama sepertimu, tapi kau bilang kau berbeda. Lalu apa bedanya?
Disaat aku mengharapkan kejujuranmu, mengapa yang selalu kutangkap dari matamu adalah kebohongan? Kalau memang dari awal kau hanya ingin bermain dan memperdayaiku, lantas untuk apa membuang waktu dengn skenario berbelit-belit seperti ini.

Untuk kau yang menyatakan mencintaiku, datanglah kesini jika kau memang benar ingin mengenalku lebih jauh. Tapi bila semua itu hanya pemanis buatan dari rayuanmu, maka mohon dengan sangat biarkan aku pergi dan melupakanmu hanya sebagai bayangan masa lalu.

Someday:
is about You and I to be together or separate.
-Naz