Kamu, yah kamu.

Kamu yang awal pertemuan begitu hangat, begitu baik, begitu mempesona, sampai akhirnya aku harus mengakui, aku mulai jatuh cinta padamu. Aku suka semua tentangmu. Candamu, perhatianmu, tatapanmu, sampai akhirnya kita pernah nonton bioskop dan ke pesta pernikahan teman.

Rasa suka dan mungkin bisa dikatakan cinta itu pun semakin menjadi. Kita bahkan chat sampai jam 11 atau 12 malam, dan besok paginya ketika aku bangun, aku langsung memulainya dengan ucapan 'Selamat Pagi Kak'. Aku pun mulai terbiasa dengan balasanmu yang selalu 5 atau 6 jam setelah chatku terkirim, lama memang. Tapi balasan chatmu langsung membuat badmoodku berubah baik.

Kamu nggak pernah sadar, bahwa semua itu sangat membuatku bingung. Ya iya, mana pernah kamu tahu, bahwa aku ingin sekali ada chat darimu yang berisi 'selamat pagi' dan tentunya kamu yang memulai, bukan aku. Akupun berharap ada chat-chat dari kamu, yang tentunya kamu yang memulai, sekedar bertanya kabar, tanya sudah makan belum, sudah pulang kantor belum, sekedar… Yah, sekedarnya yang penting kamu yang memulai.

Kamu cowok, aku cewek. Selama ini aku yang memulai. Aku malu sendiri jadinya, seolah-olah aku ini wanita agresif, wanita yang mencari lelaki, huffftttt.

Dengan berjalannya waktu, entah apa yang terjadi, entah apa yang ada di pikiranmu, chat BBMku tidak dibalas sama sekali. Chat Facebook pun tidak dibalas. Tega ! Ya benar sekali, kamu tega. Padahal rasa sayang aku ke kamu semakin menjadi. Semakin suka, bahkan semakin cinta, karena kamu begitu baik ketika kita bertemu. Kita ngobrol begitu akrab seolah-olah kita sudah kenal beberapa tahun. Ketika kamu menjemputku di rumah, kita boncengan begitu dekat, ketika aku ke kantormu, dan kamu memberikan sekotak nasi dan sebotol air mineral, itu semua terus menari-nari di pikiranku.

Apa yang sebenarnya terjadi, sehingga kamu begitu berbeda antara ketika kita bertemu dan jika kita di room chat BBM atau di Facebook. Dan sangat menyakitkan lagi ketika aku memberi komentar di status Facebookmu, kamu tidak meresponnya, sedangkan komentar orang lain kamu merespon dan saling membalas.

Dengan perasaan kacau merasa tidak dihargai aku delete contact kamu di BBM dan unfriend di Facebook.

Namun apa mau dikata, setelah dihapus dari BBM dan Facebook, malah jadi kangen, jadi penasaran tentang kabar kamu. Kamu di mana, lagi di mana, status di Facebook apa, dan sebagainya. Sampai aku pun suka melihat timeline facebook kamu, sehari bisa ratusan kali liat profil kamu. Bahkan aku membuka facebook bukan untuk membuat postingan baru di timelineku, tapi hanya untuk melihat status apa atau postingan terbaru apa yang ada di timeline profil facebook kamu, dan tentunya, aku selalu berharap kamu lupa mengatur settingan postingan kamu menjadi Friend Only.

Yah, dan thanks God, postingan terbaru kamu selalu diposting dengan pengaturan public, sehingga aku yang tidak dalam daftar temanmu di facebook, dapat melihatnya. Hanya itu memang yang Tuhan berpihak padaku. Sedangkan doa-doaku setiap hari yang meminta Tuhan menumbuhkan rasa dalam hatimu untuk menghubungiku, tidak kunjung datang. Oh Tuhan.

Aku galau, sangat.

Aku mulai tanggalkan egoku sebagai cewek yang kata orang, 'jangan cewek yang duluanlah'. Hmmmm, Akhirnya aku mulai mengirim sms-sms termasuk sms permohonan kata maaf. Dan aku pun mulai meng-add kamu kembali di Facebook.

Tapi apa mau dikata, sudah 2 purnama friend request aku belum kamu confirm di facebookmu. Sudah 2 purnama smsku juga belum dibalas satu pun. Seandainya kamu tahu, sikapmu ini membuatku tersiksa. Ini yang namanya galau. Di mana pun dan kapanpun, aku selalu memikirkanmu. Sampai terkadang aku suka bilang, "Tuhan, dia koq tenang-tenang saja yah di sana, gak ngerasa apa aku suka dia, aku galau sekarang gara-gara dia. Please…. ketuk kepalanya Tuhan, jadi orang kok bego banget". Segitunya kamu ada di pikiranku.

Entahlah apa yang kamu pikirkan sampai kamu bgitu membenci aku. Namun yang pasti, kamu sudah terlanjur menjadi sosok yang special buat aku. Ya, special karena bisa buat aku jatuh cinta, special karena buat aku merasa nyaman, special karena buatku semangat dalam bekerja, special karena akhirnya buatku galau, special karena buatku rindu, special karena namamu selalu kupinta kepada Yang Memberikan rasa ini…

Sungguh aku menyesal karena mungkin saja kamu marah dan tersinggung. Tapi cobalah berpikir alasan mengapa aku seperti itu. Cobalah mengerti sedikit saja tentang rasa ini. Semoga kamu memahami dan tidak mendiamkanku seperti ini. Karena aku mencoba menjelaskan dari curahan hati ini, aku mencintaimu…

Lagi dan lagi aku merasakan ini, ketika aku menyukai seseorang, orang itu seperti orang paling bego yang nggak peka terhadap perasaanku. Sampai terkadang pertanyaan-pertanyaan konyol aku katakan kepada Sang Khalik "Tak pantaskah aku untuk dicintai? Tak pantaskah aku untuk seorang pria sebaik itu? Seperti apa wanita yang pantas untuknya? Dan seperti apa pria yang memang pantas untukku? Di mana dia berada saat ini?"

Ada kalimat yang sudah sering aku dengar dari jaman aku SMP atau SMA dulu, ada yang mengatakan "Jodoh Tak Ke mana kok, ada saatnya: ada saat dipertemukan. Dan kalau memang berjodoh, dia gak ke mana-mana kok".

Kalimat itu begitu jelas, bahkan aku begitu memahami arti dan maksudnya. Tapi kok pada kenyataannya jadi sulit menerima penolakan-penolakan secara halus, di mana ia datang kemudian pergi begitu saja.

Ada apa dengan diriku? Selalu ini yang kurasakan. Ketika aku menyukai seseorang, orangnya pergi begitu saja. Dan ketika seseorang menyukaiku, perasaan sebaliknya tak kunjung datang. Sehingga aku mengerti: 'Tempat Nasi yang dibuat pengrajin, tutupannya selalu pas dengan wadahnya'. Demikian 2 orang yang sudah berjodoh, yang satu takkan tertukar dengan pasangan milik orang lain, karena mereka sudah diciptakan dan ditakdirkan untuk berjodoh.

Tidak salah memang jika perasaan suka dan cinta dari orang lain muncul dan ada untukku, namun tidak salah juga ketika aku tak dapat membalas rasa itu. Sebaliknya, jangan marah terhadapku, jangan menganggap aku wanita rendah karena mempunyai rasa suka dan cinta kepadamu. Karena rasa sayang ini pun muncul, ada, dan ditumbuhkan oleh Sang Khalik.

Karena jika aku bisa memilih, akupun tidak mau mempunyai rasa yang tak terbalaskan ini. Jika aku mampu memilih pun, mana aku mau rasa yang akhirnya membuatku galau seperti ini.

Dalam diam aku berdoa, semoga diriku yang berulangkali gagal memiliki rasa cinta yang terbalaskan, suatu hari dapat memiliki seseorang yang pantas untukku, paling tidak, yang pernah gagal mencintai dan pernah melewati proses memantaskan diri untuk mendapat cinta yang sesungguhnya.