Pagi selalu menawarkan sinar hangat ketika kubuka jendela diujung ruang. Melihat trampolin yang biasanya kita mainkan bersama. Denyutan karet kemudian memecah tawa yang diam – diam sengaja kita sembunyikan.

"Hai, apakabar kamu ?"

"Sedang apa kamu diujung pulau sana ? "

Aku diam – diam merindukanmu.

Memeluk erat sisa – sisa bayangmu diatas trampolin. Kini loncatanku kering, tak bersemangat. Tak ada daya melompat, meninggi, menghabiskan seluruh tenaga yang biasanya kulakukan.

Advertisement

Sejak kepergianmu, trampolin itu kering. Sama keringnya dengan batas – batas hati yang semakin terbatas. Kemarilah, sambung suara – suara sumbang kita, sebentar saja. Mengobati rindu yang semakin kerontang.

Sore ini, dalam untaian semburat senja kusapu bersih semuanya : dedauan dan kenangan. Biarkan esok pagi kulihat trampolin sudah rapi. Karetnya meliuk – liuk diterpa angin, tapi hanya kunikmati lewat jendela mungil di pojok taman.

Kemudian kubiarkan trampolin itu berdebu, sekali lagi. Sama seperti kerelaanku melihatmu pergi, biarkan saja. Ini hanya urusan waktu. Esok, semoga saja bayangmu pergi. Berganti tawa – tawa baru yang sudah lama menyembunyikan diri.

Untuk terakhir kali, ijinkan Aku memelukmu dalam pergi, sekali lagi.

Waktu kan menyamarkan apa – apa yang tak lagi ada, meski yang datang mungkin tak lagi sama, tapi reruntuhan dinding hati masih mengubur siapapun yang singgah kemudian pergi.