Jika Anda menanyakan mengenai masalah yang saya hadapi dalam hidup, tentu saja jawabannya adalah: banyak. Masalah yang saya hadapi banyak jenisnya, ada yang berasal dari keteledoran saya dan ada pula yang berasal dari orang-orang sekitar saya yang membuat kesalahan. Tetapi, menurut saya, masalah terbesar yang saya alami, karena kebanyakkan masalah saya berasal dari hal ini, adalah keraguan saya terhadap diri saya sendiri. Saya tahu bahwa faktor ini menghalangi saya untuk lebih menikmati hidup karena saya sering kali membuang kesempatan untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Keraguan saya terhadap kemampuan diri saya sendiri sudah ada sejak saya kecil. Saya dibesarkan oleh kedua orangtua yang perfeksionis sehingga buat mereka, hasil yang harus saya raih haruslah merupakan hasil terbaik. Tidak ada nilai 90 yang bisa dibilang baik, yang ada saya haruslah mendapat nilai 100. Sebenarnya, saya baru mengerti kenapa orangtua saya mendorong saya untuk mendapat nilai 100 dan itu karena mereka ingin saya untuk berjuang sampai akhir.

Mereka ingin saya memiliki daya juang yang maksimal karena orangtua saya tidak terlahir dari kondisi keluarga berada. Apa yang keluarga kami miliki sekarang adalah hasil kerja keras kedua orangtua saya yang benar-benar memulai dari 0. Sayangnya, didikan mereka yang sejujurnya bisa menjadi sangat positif ini malah menjadi blunder bagi saya.

Saya tidak bisa bersyukur atas hasil yang saya dapat. Saya terlalu takut dengan tekanan yang diberi oleh orangtua saya atau lebih tepatnya, sudah dikondisikan oleh orangtua saya, sehingga saya malah banyak mengalami kegagalan. Kegagalan yang saya maksudkan adalah nilai yang jelek, ketidakberanian saya untuk ikut lomba yang sebetulnya ingin saya ikuti, dan ketidakpercayaan diri saya dalam bergaul dengan orang lain.

Saya menjadi sangat ragu dengan kemampuan saya sendiri yang sepertinya tidak pernah cukup atau tidak akan pernah bisa mengatasi kegagalan-kegagalan saya. Karena keraguan saya yang sudah cukup kronis inilah, saya sempat jatuh dalam depresi dan kecemasan berlebihan. Kondisi ini sempat mengacaukan prestasi dan hubungan sosial saya dengan orang-orang yang saya kasihi.

Advertisement

Setelah menyadari permasalahan saya, melalui refleksi diri yang cukup panjang dan melelahkan, saya memutuskan untuk bangkit. Di awal tahun 2016 ini, entah kenapa atau saya sendiri lupa ada peristiwa apa yang meyebabkan saya kembali ke cinta pertama saya dulu, menulis.

Saya mencoba untuk menuliskan hal-hal yang sedang menganggu pikiran saya dan melalui ilmu yang saya pelajari (psikologi), saya coba menganalisis jalan keluar masalah-masalah saya. Saya juga mulai berpikir dan melihat dunia sekitar saya, saya mulai mengamati kehidupan orang-orang sekitar saya. Saya mulai mendapatkan topik-topik untuk menulis. Saya menggunakan kemampuan observasi saya untuk mencoba menuangkan ide saya ke dalam bentuk tulisan. Saya mulai menulis artikel-artikel self-help dengan tujuan untuk membantu orang banyak.

Karena saya tahu, saya adalah orang yang perfeksionis, saya mencoba mengubah paradigma secara perlahan, saya ingat saat pertama kali saya mengirim pesan kepada salah satu pendiri self-help website bahwa saya tertarik untuk menulis bagi dia. Saya tidak memiliki pengharapan berlebihan dan bagi saya, saya hanya merasa bila memang ini jalan yang Tuhan bukakan bagi saya, maka Tuhan akan izinkan saya untuk melakukan ini, bila tidak, saya tetap akan mencari peluang lain. Ternyata Tuhan membuka peluang buat saya menulis di salah satu website self-help selama beberapa bulan dan respon yang saya terima sungguh luar biasa.

Ketika saya mengubah paradigma saya, saya mulai mendapatkan ketenangan batin. Saya mulai merasa lebih santai dalam menjalani kehidupan. Bagi saya, sampai saat ini, hidup adalah sebuah proses yang harus dinikmati. Bila saya sudah berusaha dan gagal, it's okay. Saya ingat kutipan dari seorang pembicara terkenal, Jay Shetty, “if you never fail, you never learn anything new.” Kutipan ini begitu menohok di hati saya karena memang benar kata Jay. Kegagalan bukanlah karena kita tidak sukses, kegagalan justru adalah bagian dari kesuksesan kita.

Saya akhirnya belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari kehidupan yang mau tidak mau harus kita jalani. Kegagalan akan tetap menjadi kegagalan saat kita tidak mau belajar darinya. Karena itu, daripada saya stress terus, lebih baik saya belajar merelakan kegagalan saya dan mengubahnya menjadi sebuah pelajaran berharga. Hasilnya? Luar biasa.

Saat saya pertama kali mengajar, saya memiliki ekspektasi untuk menjadi yang terbaik. Saya langsung berharap bahwa saya akan langsung menjadi guru yang hebat. Saat saya gagal di hari H, saya membuat diri saya menjadi begitu stress. Akhirnya saya belajar untuk menjalani hari ke hari dengan lebih santai. Saya banyak bertanya kepada guru-guru senior dan juga mencoba untuk lebih dekat dengan murid. Saya berpikir, bila saya sudah dekat dengan murid-murid, saya rasa suasana belajar mengajar akan lebih cair dan lebih enak untuk dinikmati. Saya juga mencoba untuk menertawakan kegagalan-kegagalan saya dari hari ke hari dan hasilnya memang saya jadi lebih enjoy dalam pekerjaan saya.

Untuk hal menulis, saya menjadikan kisah saya di tempat kerja sebagai topik untuk menulis. Saya tidak selalu sukses dalam mengajar dan menulis, ada saja saat tulisan saya tidak dibaca orang banyak dan saya sendiri menjadi sedih karena saya sudah menghabiskan begitu banyak waktu dan energi untuk menulis. Tetapi, saya selalu coba mengingat bahwa yang penting, saya sudah mencoba, saya sudah memulai. Setiap kali saya mencoba atau memulai sesuatu, saya sudah semakin maju satu langkah di depan.

Hidup memang seperti itu, dan hidup tidak akan menjadi semakin mudah. Menjadi orang yang pintar dalam arti memiliki banyak pengetahuan kognitif tidaklah cukup. Banyak orang pintar yang saya tahu dan kenal menyerah karena mereka tidak suka dengan kegagalan.

Saya bingung, karena bila mereka pintar, seharusnya mereka sadar bahwa kegagalan adalah bagian dari kesuksesan. Tetapi, siapalah saya untuk menghakimi mereka saat diri saya sendiri seringkali tidak sadar akan hal ini? Karena itu, saya ingin memulai dari diri saya sendiri dengan menyadari bahwa masalah itu ada untuk membuat hidup saya lebih berwarna dan masalah tidak perlu dihindari, ia hanya perlu dihadapi.

Bila kita mampu menghadapi masalah dengan hati yang bersyukur dan mentalitas yang mau senantiasa bertumbuh, maka hidup akan terasa lebih baik. Bukankah hidup ada untuk disyukuri? Marilah kita mensyukuri hidup kita dengan menjalaninya dengan dinikmati, bukan disesali.