Ibu.. tanganku hampir kebas menulis apapun tentangmu. Semua yang ada di dalam dirimu berkilau dengan sendirinya. Menari-nari bersama buih di lautan, menghempas lembut bebatuan karang. Tak perlu pena dan kertas lagi bercerita, narasi itu sudah memaksa keluar dan menceritakan segalanya. Tak perlu mawar dan beribu tanaman bunga di pekarangan, kau jauh lebih indah dari itu semua.

Sering sekali sekelebatan pertanyaan muncul dalam dada. Bagaimana ibu bisa? Bagaimana ibu bisa melewati segalanya. Saat ibu harus dan mau tidak mau mengikhlaskan ayah yang terbebas dari ketersiksaan kumpulan rasa sakitnya, dan pergi jauh dari dunia, saat kau tau kau telah terpisah antara langit dan bumi dengannya, kau masih kuat menebar peluk hangat laksana mentari senja.

Sayang sekali dulu aku masih terlalu belia bu, sehingga aku tidak tahu betapa hebat guncangan itu meracau dalam dada mu. Aku terlambat tahu, bahwa setengah dari jiwa mu telah pergi dan memaksamu menghadapi dunia ini sendiri. Bahkan untuk membayangkannya saja rasa nya pening sekali kepala ku, juga nyeri di dalam sanubari. Hebat sekali kau ibu.

Ibu, patutlah kita bersyukur karena sampai saat ini kita di anugerahi banyak sekali keberkahan dari Sang Ilahi. Namun umur memang tak bisa berkompromi, ia terus bertambah dan bertambah angkanya. Kau semakin menua bu, semakin ringkih bahkan untuk menopang diri mu sendiri. Kau semakin sering lelah dan penat. Aku tahu, tapi aku heran, aku tak bisa berbuat banyak sesuatu.

Kerutan wajahmu pun banyak bercerita ketika kau pulas tidur, dan akulah pendengar setianya. Pendengar rahasianya. Aku dengar ia bercerita, katanya kadang kau begitu terluka akan sikap anak-anakmu. Aku diam. Aku tertohok. Aku juga dengar, katanya seringkali kau merindukan ayah untuk sekedar bercerita. Kali ini aku sulit untuk diam, sulit menahan emosi untuk tidak mengeluarkan air mata ketika mendengar keluhanmu yang satu itu.

Advertisement

Dan aku juga dengar, katanya sebenarnya kau lelah akan semuanya, namun tak kau tampakkan di hadapan semua. Aku bergeming. Bu, kerutan wajahmu pun berkata bahwa cintamu bahkan lebih luas dari samudra ataupun seisi dunia, yang tak bosan-bosannya kau persembahkan untuk anak-anakmu. Kali ini aku tersenyum. Dan berakhir dengan membasahi pipi ku sendiri dengan butiran-butiran air itu.

Rasanya tak ada satupun superhero di dunia ini yang bisa mengimplementasikan jiwa seorang ibu yang sebenarnya. Simbol kokohnya cinta sejati. Lambang batu karang terkuat dari hempasan ombak badai.

Bu, sujud permohonan maaf ku persembahkan untukmu. Dan ucapan terima kasih yang sebesar gunung pun aku rasa tak cukup untuk membalas pertaruhan nyawamu dalam melahirkan ku ke alam semesta. Tak cukup sama sekali. Pun belum tercukupi jika ditambah pengorbananmu membesarkan ku hingga saat ini. Aku malu, bu. Aku malu akan dosa dan nista ku kepada Tuhan, juga kepada mu. Bila boleh aku meminta bu, tetaplah seperti sedia kala.

Jangan bosan menengadahkan tanganmu tuk mendoakan ku, mendoakan cinta kita. Hanya doa yang mampu menembus langit. Tunggulah aku sebentar lagi bu. Aku masih sibuk berdoa dan berusaha, agar mampu membuat bahagia meski sedikit saja untuk sisa sisa umur kita.

Tetap sehatkan tubuhmu, bu. Karena aku lebih tak bisa membayangkan lagi bila hidup ku tak ada sosok hadirmu.