Adzan maghrib berkumandang dan aku baru menginjakkan kaki kembali dirumah. Mata kuliah yg padat, tugas-tugas yang rasanya tidak ada habisnya, macetnya jalanan kota ini melengkapi seluruh aktifitasku. Dan seluruh kesibukanku yang menguras seluruh tenaga dan pikiranku rasanya tidak perlu lagi kamu tambah dengan lelah hati.

Tidak terhitung berapa kali aku mengecek ponselku hari ini, memastikan jika aku tidak melewatkan pesan singkatmu. Tapi sampai dengan tengah malam begini kamu masih menghilang tanpa kabar. Tidak memberi kabar sama sekali, membiarkan aku menunggu sepanjang hari. Jangankan ucapan selamat pagi, selamat siang, atau selamat malam. Kamu bahkan tidak pernah mencoba menghubungiku lebih dulu. Aku yang selalu saja khawatir saat ponselmu tidak aktif, saat kamu tidak membalas pesan singkatku yang sebenarnya sederhana saja, aku ingin menjalani hubungan kita senormal mungkin. Meskipun aku tau sejak awal kita memutuskan bersama, hubungan kita akan berjalan tidak biasa.

Aku sudah terbiasa dengan kamu yang datar dan ‘sedikit’ tidak pedulian, itulah kenapa aku selalu mengalah dengan selalu menghubungi lebih dulu. Seperti percakapan kita semalam yang membuatku senang sekaligus tiba-tiba merasa hubungan kita percuma. Kamu bercerita tentang perempuan-perempuan disekitarmu. Yang bisa dengan bebas menemui dalam kelas atau dengan gampang saja mencarimu disetiap ujung kampusmu. ‘kamu gak khawatir aku naksir salah satu dari mereka?’ pertanyaan yang menambah kesesakanku setelah cerita soal perempuan-perempuan itu. Jika kamu saja yang seharusnya menjaga hatimu hanya untukku mengajukan pertanyaan konyol macam itu, bagaimana dengan aku? harusnya tanpa pertanyaan macam itu kamupun tau aku takut kehilanganmu. Bahkan saat kamu tidak meluangkan waktu menghubungiku, aku khawatir kamu benar-benar pergi dari hari-hariku.

Aku selalu mengusir keraguan-keraguanku atas kamu dan kelanjutan hubungan kita. Aku selalu meyakinkan bahwa kita akan baik-baik saja. Tapi mendengar pertayaan macam itu, jujur saja aku benar-benar ragu. Jangankan aku, bisa jadi kamupun ragu atas perasaanmu sendiri. Dan tidak cukup cerita soal perempuan-perempuan itu, pertanyaan konyolmu, kamu masih menambahkan kesesakanku dengan mengatakan bahwa hubungan kita mulai membosankan. Kamu bilang aku harus cari cara untuk ‘mempertahankan’ hubungan kita. Dengan cara apa sayang? Jadi kamu pikir aku yang selama ini tidak bosan menunggu kabarmu setiap hari, aku yang tetap mencoba menghubungimu meskipun lebih banyak mendapat pengabaian, aku yang sekian tahun menunggumu sebelum kita berada pada hubungan kita yang baru seumur jagung ini. hubungan yang baru saja kita mulai dan mulai kau bosani. Apakah itu bukan ‘mempertahankan’ sayang? Ingin rasanya aku mengatakan itu semua. Tapi juga tidak mau kamu akan mengatakan bahwa aku ‘minta imbalan’ atau ‘minta pengakuan’. Tapi harus dengan cara apa agar kamu bisa melihat dari sisiku? Beritahu aku agar hubungan kita bisa tetap berjalan tanpa membuatmu merasa bosan.

Hubungan kita memang tidak biasa. Kita tidak punya banyak waktu untuk melakukan banyak hal bersama bahkan hanya untuk menghabiskan akhir pekan. Kita tidak punya banyak kesempatan untuk jalan berdua menghabiskan sisa senja. Pertanyaanku masih sama, apa yang harus aku lakukan? Kita sedang menuju tujuan yang sama, dijalan yang sama. Kita juga sedang tidak berlomba, kita sedang beriringan bukan? Dan berjuang untuk hubungan ini tidak bisa sendiri-sendiri. Kamu bilang kamu sudah berusaha ‘mempertahankan’ hubungan kita yang kamu tunjukkan dengan tidak tergoda perempuan-perempuan itu.

Advertisement

‘kamu juga harus mempertahankan. Masak aku doang?’ lagi-lagi kamu membuatku sesak. Seolah dengan tidak tergoda oleh perempuan-perempuan itu berarti kamu sudah melakukan segalanya untuk hubungan kita. Tapi jika kamu mau berpikir jernih harusnya kamu tau, sudah menjadi keharusanmu untuk tidak tergoda perempuan-perempuan itu. Karena hatimu sudah milikku. Karena kita sudah berkomitmen. Dan ditambah dengan pertanyaanmu di awal tentang apakah aku tidak khawatir kamu tergoda dengan perempuan-perempuan itu, seharusnya kamu tidak penuh percaya diri meyuruhku mencari cara ‘mempertahankan’ hubungan kita. Dan bertindak seolah kamu sudah melakukan segalanya. aku lelah sayang. Tapi rasa sayangku kepadamu, mimpi-mimpiku atas hubungan kita mengalahkan lelahku. Dan maukah kamu memberitauku apa yang harus aku lakukan agar ‘kita’ tetap ada? Beritahu aku.