Masih tentang purnama yang merindu. Tak kusaksikan lagi hadirmu seperti dulu, tak kulihat lagi langkahmu yang mengendap-endap hanya untuk mencuri pandang terhadap gerak-gerikku tanpa kau ingin aku tahu. Memang untuk berpisah tak perlu ucapan selamat tinggal sebagai tanda atas jejak yang harus dihapuskan. Tak perlu lagi melihat ke belakang jika memang harus ditinggalkan sebagai pelajaran. Maka kuputuskan untuk mengenangmu hanya sebatas penggal tangkai bunga yang tak perlu lagi kusiram, ku biarkan mahkotahnya kering dan berguguran lalu hilang dalam terpaan angin yang entah akan kemana.

Tak ada sakit, tak ada sesal, dan tak ada dendam. Bila aku saja sedamai ini, maka kuharap kau juga menjadi seringan kapas untuk kembali melangkah. Pada akhirnya sakit hanya akan terhapus oleh waktu, dan kenangan akan mengering seiring perubahan musim. Tak perlu aku berusaha menghapus ingatan, sebab ia akan meluntur bersama deras hujan. Tak perlu pula aku membalas luka sebab ia akan mengering bersama matahari yang tak pernah lupa bersinar.

Kau dan aku tak lagi menjadi kita, karena kau memilih hilang, dan aku memilih diam. Tak pernah ada yang salah diantara kau dan aku. Semua yang dimulai pasti memiliki akhir, semua pertemuan juga akan menemui perpisahan.

Aku masih sama, tak memutus hati dalam merasa. Aku hanya meretas rasaku terhadapmu sebab menggarami laut adalah sia-sia, sebab persediaan gula telah habis, dan pahit bukanlah rasa yang kusuka. Maka biarkan segala yang hambar semakin menghambar, karena dengan begitu seharusnya kita tak pernah takut lagi untuk mencoba rasa yang lainnya.
Kini musim hampir berganti. Inilah waktu tepat untukku menutup payung sementara waktu dan membiarkan mentari menghangatkan hatiku. Kehadiranmu memang pernah kunanti dan tak lupa pula kusyukuri tapi ternyata tak kulihat kau melakukan hal yang sama sepertiku. Untuk itulah aku berhenti berlari mengejarmu, sebab kau hanya diam ditempat tanpa berusaha menghentikanku saat tepat dihadapanmu. Mengapa aku mengiba bila nyatanya kau memang tak benar-benar menginginkanku. Mengapa harus berair mata, bila kau masih bisa tertawa.

Sekarang biar rindu hanya mekar sekali lalu luruh bersama bulan. Hari-hari selalu akan hadir selama dunia masih berputar dengan atau tanpa hadirmu. Hidup tetap akan berjalan sebab aku hanya berhenti berlari dan tidak akan berhenti melangkah. Aku merindumu serupa purnama yang tenggelam setelah esok datang. Ketakutan untuk kehilanganmu sudah tak berarti apa-apa, sebab bukan hanya kau yang memilih hilang tapi juga cintamu tak pernah sedikit kau sisakan. Tak perlu aku mengais sebab aku bukan pengemis, tak perlu aku hancur sebab aku memilih tangguh.

Advertisement

Mari biarkan putik-putik rinduku terbang bebas dan memilih jalannya sendiri. Aku tak pernah memaksamu untuk segera lindap dari sel memori otakku.

Karena yang terbaik adalah membiarkan segala sakit untuk sembuh bersama waktu. Kita hanya tak perlu lagi saling berkabar, itu sudah lebih dari cukup untuk mengakhiri segala.