Selama waktu terus berjalan, tanpa ada satu pun yang bisa mencegah, selama itu pula aku terus menambatkan usia, melintasi waktu yang terus menyisakan nostalgia yang tak berkesudahan. Dan ini adalah waktu, terkadang sering menyajikan drama suka dan duka. Soal waktu yang terus menumbuhkan benih-benih kesabaran dalam benakku. Soal waktu yang penuh misteri meski ingin sekali kuintip.

Dalam kegamangan sering kali aku berpikir, apakah aku mampu menjalani waktu ini dengan baik. Tanpa gusar dalam penantian, menghabiskan detik tanpa kesia-siaan.

Aku juga manusia biasa, yang sering kali berimajinasi tentang siapakah yang ada di masa depan, siapakah gerangan?

Lusinan kali benak ini tak pernah kebas mempertanyakanmu. Setiap helaan napas dalam penantian, kapan jejakmu ‘kan kutemukan?

Ada rindu yang terus terkuak dalam hati ini, rindu untukmu yang masih menjadi rahasia Langit. Aku rindu akan pertemuan itu, rindu akan takdir Langit yang sudah tertulis. Siapakah gerangan? Kata orang kau akan menjadi cermin dalam diriku. Jika pun kita berbeda, kau akan menjadi pelengkap hidupku.

Advertisement

Aku tak pernah menuntut waktu tuk bertemu denganmu. Karena masa muda ini terlalu indah jika kusia-siakan dengan mengkhawatirkan kehadiranmu. Siapa pun kau, di sini aku menantimu dalam kebahagiaan menggapai cita-cita, dalam harga diri yang masih terjaga mahal untukmu, dalam doa yang takkan pernah putus untuk bisa bertemu denganmu berapa pun usiaku.

Berapa pun itu, maka di sanalah takdir langit ditentukan. Tidak terlalu cepat, juga lambat. Semua memiliki keseimbangan yang berkesinambungan.

Kau pun ‘kan menjadi penyeimbang hidupku di saat aku benar-benar siap.

Di antara jarak yang terbentang pasti benang merah kita ‘kan mendekat, hingga kita bisa saling bertatap muka. Siapa pun kau, semoga kita sama-sama menanti dalam kesabaran dan kemuliaan. Waiting for u, Jodoh.