Siapa yang tidak ingin memiliki hidup yang happily ever after? saya rasa, semua manusia mengharapkan hidup yang bahagia hingga akhir hayatnya.

Seperti halnya ketika kita sedang menjalin hubungan dengan orang yang kita sayang, atau bahasa lumrahnya pacaran. Siapa yang mengharapkan akan gagal ketika menjalin hubungan tersebut? Saya rsa juga tidak ada. Kecuali pasanganmu seorang penjahat atau kamu sudah diperlakukan dengan kasar. It’ s Ok, kalau begitu kamu memang pantas untuk mengakhiri hubungan.

Tapi bagaimana ceritanya dengan hubungan yang baik-baik dan akhirnya harus kandas? Bukan alasan karena “kamu jahat” atau “kamu selingkuh” tapi alasannya adalah “kamu terlalu baik buat aku” .

Apakah salah jika orang berbuat baik, apalagi dengan pasangannya sendiri? Apakah kita harus menjadi seorang yang brengsek? Atau kita harus berselingkuh dulu agar tidak akan pernah diputuskan oleh kekasih. Sebuah alasan yang memunculkan banyak pertanyaan. Apakah ada makna dibalik kata “kamu terlalu baik aku”? Jawabannya adalah YA. Ada makna terselebung dibalik alasan tersebut.

Sungguh terlalu manis untuk diucapkan. Hal yang seharusnya menjadi sebuah kebanggaan kini dipatahkan hanya untuk menutupi sebuah kesalahan. Saya rasa memang untuk menutupi alasan bukan? Jika baik kenapa harus dilepas? Saya tahu orang yang berucap seperti sebenarnya sudah menemukan seseorang lainnya untuk menggantikan posisi kekasih yang diputuskannya.

Advertisement