Selama mencintamu, tak lagi ku kenal bunga mawar, batangan coklat maupun sapaan hangat di pagi dan malam hari. Pagi ku masih sama seperti belum menyentuh hatimu. Sama – sama sepi. Malam ku masih hangat seperti sediakala, tidak bertaburan bintang – bintang maya. Snack ku masih keripik manis, tidak berubah menjadi coklat batangan. Bunga edelweis yang ku beli dari kantong sendiri juga masih berdiri manis dan kering di atas meja belajar. Belum terganti dengan kelopak – kelopak mawar, apalagi dari pemberianmu. Tidak ada. Semua masih sama. Dari segala sudut.

Kadang rasa bersalah mengeluarkan diri dari persembunyian, saat hati kecil mulai merengek minta diperhatikan. Sibukmu telah merengut manisnya perhatian. Maklum ku sudah mencapai ambang batas sabar. Kemudian hanya mengelus dada dan ingat bahwa ini untuk masa depan.

Berbincang ala kadarnya dengan sepiring makanan menjadi waktu yang sangat kunanti. Padahal di luar sana itu menjadi ritme hidup yang biasa saja.

Terkadang Kamu menjadikan ku sedikit gila. Menggila dengan segala maklum yang ku bentuk dengan sabar. Pembatalan janji yang sudah tidak lagi seperti roket ditelingaku.

Tapi, tanpa kusadari, diam – diam kamu mencintaiku dengan caramu sendiri. Dengan jejak – jejak yang tak biasa. Membawa nama mungilku di atas puncak gunung – gunung yang kau daki. Menyimpan sedikit waktu dari "me time" yang kau punya.

Advertisement

Segala tentangmu seolah berubah menjadi menyenangkan. Apapun tentang kamu menjadi intens untuk kuperhatikan. Cara mu menyunggingkan senyumku yang berbeda. Langkah – langkah kaki ku yang kau ajak berjalan dengan aspal yang tidak biasa.

Semuanya terasa berbeda, dan Aku suka.