Cinta itu indah. Benarkah?

Aku tidak setuju mengenai kata-kata manis, cinta itu indah. Cinta itu menyakitkan, itulah yang aku rasakan. Dan aku telah mencintaimu sejak beberapa waktu lalu, dan sejak itulah aku mulai merasakan sakitnya mencintaimu. Aku senang melihat senyum manismu, aku senang melihat rambutmu yang terurai, aku senang bercanda bersamamu, aku senang pergi bersamamu, teman-teman kita, dan kekasihmu. Ya, mencintaimu yang sudah bersama temanku sangat menyiksaku.

Aku senang melihat senyum manismu, saat kekasihmu mengunjungi mejamu. Aku senang melihat rambutmu yang terurai, setelah kau rapikan sehabis turun dari boncengan motor kekasihmu. Aku senang bercanda bersamamu, mengenai kekasihmu. Dan aku senang pergi bersamamu, meskipun aku tau ada kekasihmu di sampingmu.

Ingin rasanya memendam dalam-dalam rasa ini, rasa yang membuatku sakit setiap kali merasakannya. Tapi apa daya, aku mencintaimu. Mungkin memang aku tidak mengungkapkannya kepadamu, karena aku menghargaimu dan kekasihmu. Dan aku pun takut kehilangan senyum manismu, jika kamu berubah karena tahu aku menyimpan rasa ini.

Haruskah aku menyerah pada rasa sakit? Haruskah aku membohongi diriku sendiri bahwa aku tidak mencintaimu?

Advertisement

Tidak, aku tetap memilih untuk menyimpan rasa cintaku padamu, karena aku percaya akan ada waktu yang sempurna dari Tuhan, untuk aku bisa menyampaikan rasa cintaku padamu. Untuk aku bisa sedikit lega dari rasa sakit yang selama ini aku rasakan. Aku mencintaimu meskipun hatiku teriris. Bukan kamu yang menyakitiku, bukan dia yang menyakitiku, hanya perasaan cintaku ini yang menyakitiku.

Untukmu yang aku cintai, untukmu aku rela sakit mencintaimu. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita.