“Kau bagai hujan sehari setelah panas setahun. Menyegarkan namun berlalu begitu cepat”

Hei kau yang di sana, kau yang sampai hari kemarin masih teristimewa di hati ini. Sempat terpikirkan olehku bahwa masih ada rasa di hatimu untukku. Kau mantan kekasih yang beberapa bulan lalu kembali hadir mengisi hari-hariku. Kau tau, betapa senangnya hati ini mendapatimu menungguku di sana. Ketika aku baru saja melewati gerbang perpisahan dari pria yang aku miliki setelahmu, kau hadir menyejukkan hati ini dan kau membuatku merasa nyaman lagi. Rasanya seperti ada hujan yang membasahi hati yang sedang kemarau ini. Hadirmu kembali mampu membuatku bernafas legah. Aku mementingkanmu dari segala rutinitasku dan aku lebih mementingkanmu dari mereka yang mencoba mendekatiku selepas berita kesendirianku sebab aku lebih mengenalmu dari mereka semua. Rasanya lebih baik memperbaiki kisah yang pernah gagal dari pada harus memulai yang baru. Terlalu melelahkan bagiku jika harus mengulang dari awal lagi. Dan tak pernah ku sangka kau akhirnya memilih meninggalkanku lagi. Aku tak tau kenapa, kau pergi tanpa alasan dan aku pun tak kuasa bertanya sebab kita memang tak ada ikatan.

“Namun ternyata sesakit ini, aku benci menyadarinya”

Aku membiarkanmu berlalu tanpa pernah ku usik sedikitpun. Pikirku kau ingin bebas hidup tanpa aku, jadi aku membiarkanmu pergi tanpa pernah sekalipun memanggil untuk sejenak menengok ke arah tempatku terjatuh. Bahkan hanya untuk menanyakan dimana kau simpan hatiku saat kau pergi pun aku tak kuasa bersua. Ada kebencian yang muncul dalam hati ini selepas kepergianmu. Bukan membenci dirimu, tapi aku. Yaah, kebencian itu muncul dari sadarku. Aku benci ketika menyadari ternyata aku mencintaimu. Aku benci menyadari bahwa hati ini nyaman bila bersamamu, dan aku benci merindukanmu. Aku benci menyadari bahwa menyayangimu ternyata sesakit ini.

“Akhirnya aku percaya ternyata perpisahan karena cinta itu benar adanya”

Advertisement

Entah seberapa besar cintaku padamu, yang aku tau aku membiarkanmu pergi karena aku mencintaimu. Aku tak ingin kau merasa tersiksa karena iba melihatku dikecewakan lagi oleh kekasihku setelah dirimu. Mungkin kau merasa bersalah karena membuatku jatuh cinta lagi itu sebabnya kau pergi. Mungkin kau pergi karena memang ada yang salah dan membuatmu merasa tak nyaman berada di dekatku lagi. Atau mungkin apa yang kau cari selama ini telah kau temukan di diri wanita lain bukan di diriku. Kau tau, ada banyak kemungkinan yang memenuhi kepalaku namun tak satu kalipun aku menyalahkanmu.

“Bismillah, melepasmu”

Aku berusaha mengikhlaskan setengah hatiku yang terbawa olehmu. Ketahuilah aku tak pernah mengutukmu, aku merestui jalanmu meski kini jejakmu semakin berpaling dari arahku. Aku yakin ini takdir Tuhan untuk kita meski seperih ini, aku terima. Tuhan pasti mau aku belajar, kelak nanti aku tak boleh menitipkan hatiku dengan mudahnya. Dan pada akhirnya aku hanya bisa berkata “Bismillah, melepasmu”. Semoga kau bahagia, tidak kau harus bahagia sebab aku sudah semenyedihkan ini jadi kau harus bahagia. Aku mengikhlaskan hancurnya hatikku untuk kebahagiaanmu, jadi kau harus menghargai pengorbananku.

“Dan kau kembali lagi diantara luka dan harapan”

Kupikir drama ini telah selesai seiring dengan kepergianmu, tapi ternyata kau kembali lagi. Masih dengan wajah polos itu yang mampu membuatku merasa teduh. Apa mungkin cinta yang membawamu kembali? Entah bodoh atau naif, tapi aku berharap cintalah yang membawamu kembali padaku. Seiring terkikisnya luka di hati, aku mencoba memberanikan diri untuk menatap matamu. Dan hati yang terlalu ngotot ini akhirnya membisu ketika tak mendapati apa artinya diriku di matamu. Kembalinya dirimu kali ini membawa sejuta tanya dalam benakku. Aku tak tau apa artinya perhatianmu, yang aku tau sebanyak apapun kau memberikan rasa itu tetap saja aku tak melihat ada cinta di matamu.

“Aku mencintaimu dan juga mengikhlaskanmu”

Dan jelas saja, tak menghitung hari aku akhirnya mendapatimu bersama dia. Dia yang padaku kau akui sebagai wanitamu. Seharusnya rasaku biasa saja mendengar pengakuanmu, tapi entah mengapa hati ini serasa remuk kembali. Dan seharusnya rasa ini telah lenyap seiring dengan ketiadaanmu yang membuatku terbiasa menjalani hari-hariku tanpamu. Aku tak tau betapa berartinya kau untukku sampai akhirnya kehadiran “dianya kamu” membuatku menyadari bahwa perasaanku padamu tak sesederhana yang ku bayangkan. Hati ini pilu ketika menyadarinya, namun apalah dayaku?? Terkecuali mengikhlaskanmu sekali lagi, tak ada hal lain yang bisa ku lakukan.

“Terima kasih sudah pernah pergi lalu datang kembali dan kemudian pergi lagi”

Sekali lagi aku tidak menyalahkanmu atas perasaan yang kau tarik ulur ini hingga akhirnya putus terbawa angin. Kau tau, aku selalu mengerti dan memaklumi keadaan dimana kau yang “sudah pernah pergi lalu datang kembali dan kemudian pergi lagi” tanpa pernah ku pertanyakan dan persalahkan. Ku rasa kini kaulah yang harus mengerti, angin yang membawa terbang perasaan itu tidak akan berhembus dua kali. Kelak nanti jangan lagi kembali membawa luka lama. Terima kasih telah meyakinkanku untuk melangkah ke depan. Melangkah meninggalkan dirimu dan juga kenanganmu.