10 tahun lalu,kawanku bercerita bahwa matahari ternyata bisa berbicara.
“Jangan mengatakan cerita ini kepada sembarang orang,karena mereka tidak akan percaya dan menganggapmu gila”
Ia meyakinkan. Aneh bukan, justru pemikirannya yang menentang kewarasan. Bukankah dia yang justru gila?. Sesaat setelahnya, dia menyeretku untuk memancing di tepi laut Kejawanan Cirebon.
“Dengar baik-baik. Saat matahari mulai terbenam, kamu pasti akan mendengar suara”
“Siapa?” “Matahari” ia menjawab seenaknya.

Aku tidak mengerti apa yang ia katakan. Waktu itu,Ia menikmati pikirannya sendiri tanpa menjelaskan apapun. Namun sekarang, aku mulai faham. Jejak langkah kaki di pasir dari para wisatawan, adalah bukti bahwa matahari dapat menyihir mereka dengan mantra anehnya. Orang-orang tidak mengerti bagaimana caranya, tiba-tiba saja mereka faham apa yang dikatakan matahari saat senja. Ketika disuruh menjelaskan, hanya kata pendek “senja yang indah” atau kalimat Pujian kepada Yang Maha Kuasa.

Telinga sudah pasti tuli. Tapi mata kita mendengar kisah hidup nya dari semenjak terlahir di timur, hingga beristirahat di barat. Aku tidak tahu bagaimana menyampaikan dengan benar,tapi ketika pagi aku mendengar matahari berkata “kuhangatkan tubuh dan hatimu yang hampir membeku kedinginan semalam. Ceria lah, jangan khawatir, aku bersamamu sekarang”. Ajaib, seketika wajah-wajah murung keluar dari persembunyian kotak-kotak bata dan semen. Cahaya nya sibuk berkeliaran. Membantu dunia menghilangkan gelap. Membantu angin membuat arus ombak. Membantu air membuat hujan. Membantu pohon membuat oksigen. Membantu suhu membuat hangat.

Hingga menjelang senja, matahari kembali berkata “aku hanya mahluk Tuhan yang bisa binasa. Lihat, aku telah senja. Kubakar semangatmu saat pagi hingga siang. Saat senja ini, aku ingin mengajarkan kedamaian. Mengistirahatkan tubuh yang lelah. Merefleksikan pikiran yang rumit. Dalam koridor ketenangan. Jangan takut setelah aku pergi, malam adalah sahabatku”. Sesaat setelahnya, uban matahari berwarna indah di langit. Memendar melukis atap bumi. Mengisi memori pada setiap kepala dengan ketenangan.

Aku kagum padamu kawan, bagaimana dulu kau memahami senja di usia belia. Bagaimana dulu kau mempertajam telinga dengan matamu. Aku perlu berjilid-jilid buku untuk mencermati perkataanmu.

Advertisement

Seperti biasa kau selalu seenaknya meminta bantuanku. Sekarang aku di laut tempat kita memancing dahulu. menabur bunga dan do’a di tepi pantai saat senja sesuai permintaan terakhirmu. Kau bilang agar persahabatan kita akan tetap terjaga. Aku, kau dan matahari.

Kau terbenam saat muda dengan pikiranmu yang senja. Matahari terbenam saat sore dengan kehangatannya yang bijak. Sedangkan tubuh dan pikiranku masih mentah. Pertanyaan menyeruak dari pikiran tentang bagaimana senjaku nanti. Aku pasti akan binasa seperti kalian berdua. Tapi akhir senjaku belum tentu sama. Bimbing kami, Tuhan.