Jatuh cinta, lumrah sekali terjadi dirasakan manusia. Begitu pun aku. Berawal dari perkenalan sederhana, perasaan nyaman yang menyergap jiwa. Seakan bagai tunas tumbuh cepat, hanya dalam hitugan minggu aku sudah jatuh cinta. Dia orang yang tepat menurutku. Sosok yang aku inginkan, pas sekali dengan kriteria. Wajah nya yang teduh menenangkan, senyum manis yang kelihatan tulus, berwibawa dan pandai menjaga diri. Aku jatuh cinta bahkan sebelum melihat langsung wajahnya. Hanya selembar foto yang dia kirim aku sudah bisa menyimpulkan dia orang yang tepat. Memang berasa buru- buru sekali menyimpulkan perasaaku waktu itu. Aku mulai terhanyut memimpikannya. Sepanjang hari ku selalu dipenuhi dia,dia,dan dia. Hingga pada suatu hari Tuhan mengijinkan pertemuan pertemuan pertamaku dengannya. Dan memang benar sesuai dugaan sebelumnya, wajah nya menenangkan dengan senyum manisnya. Pertemuan pertama yang mengasikkan. Aku tanpa canggung bercanda dan membicarakan banyak hal dengan dia. Dia pun sebaliknya. Seakan kita sudah lama mengenal. Dan tahukan perasaanku semakin tumbuh liar tak terbendung lagi. Aku semakin yakin jatuh cinta dengan orang yang tepat.

Semakin hari semakin berjalannya waktu dia mulai memberikan kejutan- kejutan kecil. Sekedar mengantar makan malam ke tempat aku bekerja. Perasaanku yang mulai subur kembali mengembang. Beberapa kali dia datang membawa makan malam tanpa aku memintanya. Dia memberikan perhatian lebih.

Aku yang dengan wajah memerah malu dan bahagia, beberapa teman sepekerjaan mulai menggodaku. Aku hanya senyum-senyum. Mereka banyak bertanya tentang dia. Dan aku hanya bilang dia teman. Mereka semakin hari semakin menggodaku. Dan aku mulai mengembangkan harapanku.

Hubungan kami berjalan seperti biasa. Meski dia tidak pernah mengatakan cinta. Aku sadar karna dia tipe manusia yang tidak suka pacaran, dia suka keseriusan, dia tidak suka main-main dengan perasaan. Aku aku percaya hubungan kita memang serius.

Namun semakin berjalan, perasaaku mulai lenyap saat dia terlalu banyak kesibukan di tempatnya bekerja. Bahkan hanya untuk membalas pesan singkatku saja dia tidak punya waktu. Dia tidak pernah membawakanku makan malam lagi. Pikiranku mulai goyah. Yang semula yakin dia yang terbaik, dan sekarang semua berbalik. Aku merasa diacuhkan. Namun aku masih bisa meredam semua. Aku masih sabar dengan keadaan.

Advertisement

Dan pada akhirnya aku sudah tidak tahan dengan kondisi seperti ini. Dia benar- benar berubah. Otakku mulai usil untuk mencari penjelasan mengapa keadaan bisa berbalik seperti ini. Apa mungkin aku yang terlalu berharap, sedangkan dia hanya menganggapku teman.

Hingga tiba dipaling ujung kesabaran, aku memberanikan diri bertanya tentang bagaimana kita. Dan dia menjawab dengan pertanyaan “ya teman kan?”

Berasa diguyur air es, seketika tubuhku membeku. Tuhan ternyata selama ini aku yang terlalu banyak berharap atas hubungan tanpa kejelasan ini.

Sekarang aku menyadari bahwa mendung belum berarti hujan, begitupun cinta terkadang orang yang begitu perhatian belum tentu cinta.