Suku Baduy mungkin tidak terlalu asing di telinga masyarakat indonesia tapi bagaimana cara hidup mereka lah yang mungkin masih belum banyak orang ketahui. Suku asli sunda ini terletak di desa ciboleger, kurang lebih 2 jam perjalanan naik kereta dr st tanah abang ke st rangkasbitung dan kemudian 2 jam lagi dari st rangkasbitung ke desa ciboleger dengan mengendarai mobil elf.

Saya pribadi sudah 2x berkunjung ke tempat ini. Suku Baduy sendiri terbagi menjadi Baduy dalam dan Baduy luar. Perbedaannya, Baduy luar sudah terbuka dengan dunia luar bahkan teknologi pun sudah mereka gunakan. Sedangkan Baduy dalam masih mempertahankan budaya mereka yang melarang penggunaan teknologi dan peradaban modern. Saat akan memasuki kawasan Baduy dalam jangan takut kita akan tersesat karena masyarakat Baduy dalam akan datang menjemput dan mengantar kembali ke pemukiman mereka di Baduy dalam, tentunya dengan berjalan kaki sekitar 4 jam.

Perjalanannya memang cukup melelahkan tetapi melihat begitu asri kawasan mereka seolah semua terobati. Memasuki kawasan Baduy dalam semua peralatan kamera, alat perekam bahkan handphone tidak di ijinkan untuk di gunakan. Salah satu teman perjalanan saya pernah bertanya kepada anak suku Baduy dalam "kenapa nggak boleh di foto?" Lalu jawab anak itu begitu mengesankan, "nggak usah pake alat foto teh, cukup simpen aja di hati"

Luar biasa mereka!

Dalam keseharian nya penduduk setempat tidak menggunakan sabun, shampoo juga alat mandi yang biasa di gunakan masayarakat modern. Mereka percaya bahwa itu akan merusak alam mereka. Jika suatu hari kalian berkunjung ke desa ini maka kalian akan menemui rumah asli warga yang terbuat dari bambu tanpa menggunakan semen, batu bata atau apapun itu yang biasa di gunakan masyarakat kota untuk membangun rumah, Sedangkan untuk penerangan nya di setiap rumah hanya ada sebuah lilin yang berarti penduduk tidak menggunakan listrik.

Advertisement

Lebih mengejutkan di zaman maju seperti sekarang mereka tetap memilih mempertahankan budaya dan hukum setempat dengan mengenakan pakaian setempat yang di buat oleh kaum wanita penduduk Baduy dalam, tidak mengenakan alas kaki (sepatu, sendal, dll) kemanapun mereka pergi dan tidak boleh menggunakan kendaraan sebagai alat transportasi. Jadi bagaimana kalau mereka berpergian? Tentu saja berjalan kaki. Mereka ini sering juga keluar dari perkampungan dan pergi ke kota lain untuk mengunjungi orang – orang yang pernah berkunjung ke kampung Baduy dalam.

Bermalam di tempat ini mengajarkan saya tentang kesederhanaan dan mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki. Makan malam apa ada nya sambil berbincang dengan pemilik rumah, kang anas namanya. Pria berusia sekitar 50 tahun itu pula yang mengantarkan rombongan saya dari baduy luar ke rumah nya di Baduy dalam dan tentu saja beliau akan dengan senang hati bercerita tentang asal usul baduy dalam jika kita bertanya.

Hari yang melelahkan itu saya akhiri dengan istirahat di atas tikar rotan bersama rombongan dan besok perjalanan yang sama sekitar 4 jam harus kembali di lalui untuk dapat pulang ke rumah. Percayalah, di tengah hiruk pikuk kota masih ada budaya indonesia yang tertinggal di kampung Baduy yang perlu untuk kita jaga. Indonesia kaya, indonesia indah.