Sore datang tanpa diundang, mentari menjadi lembayung, dan aku masih tetap terkatung. Di sini, di mana aku mengungkap semua egoku. Di antara puluhan tombol yang selalu aku sentuh untuk mewakili perasaanku, masih dengan teman yang sama, kebisingan umat manusia yang sama, tak bermakna. Di sini, di antara ribuan mikroba yang tak kasat mata.

Masih tentang kamu, hati yang mengudara di sekitar kepala. Hal yang sulit aku rengkuh bukan karena aku angkuh atau rapuh tapi karena kamu adalah alasanku patuh. Lalu aku berpikir, adakah waktu untukmu takluk, akan aku dan segelintir perasaan sang mahluk, walau hanya sekejap peluk.

Sesulit merajut benang laba laba, jika aku bisa mungkin aku bukan manusia. Lalu milyaran pertanyaan bergelayut dalam satu kata, "KENAPA?" cinta selalu bertepuk sebelah tangan. Mungkin aku salah mengikrarkan dalam jiwa ciptaan Sang Kuasa atau mungkin aku terlalu lelah berusaha. Aaahhhhh aku lelah menerka.

Lalu, apa jiwa yang sangat lemah ini harus pasrah? Setiap detik jarum jam menahan amarah, setiap hitungan menit selalu belajar tabah, setiap jam selalu mengalah, lalu dalam hitungan windu aku menyerah .

Melewatinya tidak akan mudah. Seperti selama kau hidup menghitung triliunan langkah, dari kau disapih sampai ditatih dan kau melatih.

Advertisement

Berjuang untukmu membuatku berhalusinasi akan kamu yang selalu aku amini. Bayang ilusi tentang kamu yang membuatku selalu bermimpi, membuatku takut akan perasaan kalut, membuatku senang hanya denagn melihatmu riang. Jelas bukan aku sang alasan, itu tamparan yang selalu aku rasakan dalam setiap putaran waktu.

Sampai kapan kau mau begini terus? Sampai perasaanku tergerus, hangus sampai laut tak berombak?

Sampai nelayan menjadi perompak?

Atau sampai debur melebur?