Dalam keheningan arus neuronku di tengah belaian alunan musik khas tepi lautan ini kuterbenam dalam bayang memori akanmu. Siapakah dia yang tak bisa lepas dari rak perpustakaan dalam ingatanku.
Pernahkah kamu tak bisa melupakannya, dia yang pernah hinggap dalam hatimu yang tak pernah melihatmu.
Seperti alunan musik Boy from Ipanema, pertama kali goresan memori itu tergambar dalam sketsa pikiranmu mendadak langkah kakimu, langkah pikirmu, dan semua detak jantungmu bergerak begitu kencang dan indah. Saat itu seperti di surga, tak peduli dia menyimpan perasaan yang sama atau tidak yang penting dalam hati terasa begitu berbunga-bunga, bahkan versi diri menjadi begitu sempurna. Seringkali kita tak bisa melupakannya sampai kapanpun dan hanyalah menjadi teater imajinasi dalam khayal.
Layaknya sebuah layar lebar, kita dapat menemukan sinkronisasi masa remaja dalam balutan puisi rajutan kata. Persahabatan, cinta pertama, barisan numerik, bahasa, dan masa muda terlukis dalam kanvas terindah di masa puber. Saat jantung terasa berbeda melihat bahkan berbincang dengan teman sekelas yang juara kelas berkacamata yang tampan, atau pemain band yang keren. Namun seringkali mereka juga tak pernah menoleh saat kita menyapa atau ingin berbicara dengan mereka, bahkan berusaha menjauhi kita. Itu semua menjadi satu kenangan yang mungkin pahit tapi tetap manis.
Saat kornea mataku memantulkan imaji darimu dalam lensa mataku, seakan badai serotonin terkatalis dalam reaksi hormon tubuhku. Jalinan saraf neuron yang terajut lebih sempurna, rapi bahkan struktur DNA menjadi begitu teratur. Memberikan sentuhan ajaib yang merevisi semua fungsi logika kreatif ini. Pagi yang tak pernah monokrom menyambut seorang sketsa terindah dari sang Pencipta. Turbulensi kombinasi aksara dan numerik yang terbaik bersahut-sahutan dengan tinta di atas harumnya olahan pinus itu. Melahirkan serial nomor di atas 90 bahkan nomor sempurna yang memberikan makna pada sebuah kertas. Itu semua hanya untuk membuat mata itu bisa bertemu denganku.
Namun, saat ku ingin mencoba berbincang denganmu hanya dengan sepatah aksara dengan surat pendek elektronik. Ku hanya menanyakanmu namun kau dengan ketus mengusirku dengan menolakku "Jangan pernah ganggu aku lagi". Pahit rasanya, ingin rasanya kuhapus semua dalam memoriku. Namun keindahan pertama itu saat kuterpesona dengan semua darinya tak bisa hilang hingga kapanpun, bahkan 14 tahun kemudian dan tahun-tahun berikutnya. Kuhanya bisa berharap akan keajaiban alam yang secara tak sadar akan mempertemukanku denganmu, berharap ada tombol reset yang menetralkan semua reaksi negatif yang ada.
Namun itu hanyalah sebuah khayalan fiksi belaka. Tak pernah akan terwujud. Hanya waktu yang tahu akhir cerita ini.