Mencintaimu dengan rasa bersalah melupakanmu saya belum sanggup melakukannya, saya sudah terlanjur terkurung dibawa perasaan yang saya tidak perlu mengerti.

Saya tidak mau menoleh, saya tidak mau berhenti. Bukan tidak mau, tapi tidak sanggup!

Karena kamu yang memilih saya menjadi bagian dari kalian dan kenapa sekarang saya yang harus mengalah?

Maafkan, bukan saya tega mau menjadi yang kedua, tapi kamu yang berhasil membuat saya jatuh cinta. Sekarang saat saya tersesat, kamu meminta saya untuk pulang? Saya yang tersesat? Atau memang kamu yang keliru mengambil arah? Sama artinya saya harus mencari jalan sendiri diantara labirin yang sudah kamu buat. Setelah saya denga rela memberi cinta yang saya punya lalu kamu ingin mengakhiri tanpa mau tau bagaimana perasaan saya? Adilkah?

Sedang saya sudah berjuang bersamamu. Menyerahkan hati saya sepenuhnya kepadamu. Dari semua kesakitan saya masih saja menyisakan kepercayaan untukmu, masih bisa percaya bahwa semuanya masih bisa bahagia setelah bagaimana hancurnya jiwa yang saya punya.

Advertisement

Sayapun masih belum percaya sakit sebesar ini karena kamu sebabnya. Kamu yang dulu membuat nyaman, kamu yang memberikan angan-angan kebahagiaan yang luar biasa, kamu yang selalu memprioritaskan saya, memberi banyak waktumu untuk saya dibanding waktu untuknya.

Tapi saat ini saya dipaksa untuk melupakan mu dengan semua ketidak siapan saya, saya dipaksa menjauh bahkan menghapus tentang kamu dan menerima pergantian bahagia menjadi sakit secara tiba-tiba.

Saya sudah di ujung jalan, hanya bisa melanjutkan atau kembali ketempat semula? Masih adakah yang perlu dipaksakan, jika bagimu saya tidak pernah menjadi tujuan?