Manusia zaman sekarang seringkali terbuai oleh kata dan rupa. Lupa bahwa masih ada realita yang harus dijalani dan itu lebih nyata. Bahagia dan sengsara banyak tumpang tindihnya. Posesif dan rasa percaya misalnya. Banyak yang lupa hukum keduanya bukan searah, tapi berbalik arah. Bukan semakin posesif maka semakin besar rasa percaya. Tapi sebaliknya, semakin posesif maka semakin kering pula rasa percayanya.

Getaran cinta kadang membius logika, termasuk logika posesif dan rasa percaya. Semua terbuai kata dan rupa, dan seringkali tidak sengaja. Maka dari itu kenapa logika masih sangat urgen untuk masalah cinta, karena cinta itu buta dan membutakan. Bukankah lebih menyenangkan jika rasa percaya itu diperbesar. Sehingga tak ada lagi curiga dan prasangka. Tidak akan ada lagi rasa khawatir yang berlebihan ketika yang dicinta berada jauh dimata. Justru bahagia akan menjelma ketika dua pikiran dikeluarkan bersama – sama.

Dunia ini begitu luasnya, tidak akan bisa diekspolore bersama – sama. Ada kalanya kita akan dijauhkan dengan jarak dan pandangan. Tapi rasa percaya akan melekat dan tidak berubah. Akan ada waktunya orang lain menjadi sahabat orang yang kita cinta. Semesta telah mengisyaratkan bahwa rasa percaya akan menjadi tonggak segala jarak. Tidak usah khawatir yang kita cinta akan berpaling, karena kepercayaan itu layaknya kaca.

Akan selalu menjadi kaca selagi ia bisa menjaga. Dan akan pecah berkeping – keeping ketika salah satu berkhianat. Jangan ditanya lagi, jika sudah pecah tak ada lem perekat yang menghilangkan jejak luka. Jadi Masih memilih untuk mengecilkan rasa percaya dan memperbesar keposesifan kemudian menjadi terbatasi ruang geraknya karena itu ?

Kenapa tidak pilih saja untuk memperbesar rasa percaya dan memperkecil keposesifan serta ruang gerak tidak akan terbatasi, tentu saja bahagia akan menjemput. Mari berpikir jernih dan bening, tanpa buih – buih cinta ikut andil di dalamnya sehingga logika masih akan terjaga.