Sebelum kamu datang, aku terpuruk selama 2 tahun dari seseorang yang sangat aku sayangi. Aku tak yakin akan ada hati yang bisa membuatku nyaman kembali.

Sudah ada beberapa laki-laki yang mencoba gantikan posisi dia, tapi tak pernah berhasil. Berulang kali aku hanya menerima mereka setengah hati lalu aku tinggal pergi. Aku tahu aku salah, aku menyakiti banyak perasaan yang tulus. Tapi apa boleh buat, hatiku masih bimbang antara benar sayang atau sekedar menyukai.

Sampai setahun terakhir, aku berhasil menyetir diriku sendiri dengan menjalani hidup tanpa kekasih dan berbahagia dengan sahabat-sahabat terdekat. Ya, itu cara terbaik untuk menghibur diri sendiri.

Karena benar kata mereka, "hidup tak selalu tentang pasangan dan bahagia tak mesti dengan pasangan".

Next

Advertisement

Ketika di akhir bulan Mei, kamu datang dengan cara yang biasa saja. Seiring berjalan waktu aku menemukan nyaman ada padamu. Tiba-tiba rasa suka itu tumbuh, lalu semakin lama semakin menyatu.

Sampai di bulan berikutnya kamu memintaku untuk menjadi kekasihmu, teman hidupmu selamanya. Aku meng-iya kan karena selama kita dekat kamu terlihat baik dan tulus. Aku merasa kamu adalah bahagia terbaruku.

"Kamu datang ketika aku belum benar-benar sembuh dari sakit hatiku. Namun aku bahagia karna kamu berhasil menyembuhkan lukaku"

Hari ke hari berlalu, banyak cerita yang tersimpan, banyak yang berubah termasuk rasa sedih yang berubah jadi kebahagiaan. Lalu kesetiaanku mulai diuji, di waktu pertengahan bulan puasa lalu kamu menghilang begitu saja. Aku sangat kawatir, aku memikirkanmu setiap saat.

Apa yang terjadi padamu, masalah apa yang kamu alami, dimana kamu, bagaimana keadaanmu. Itu saja kalimat yang aku tanyakan setiap hari.

Ke mana pelangiku pergi ?

Aku menyebutmu sebagai pelangi karena keindahan yang kamu bawa padaku, tapi sebagaimana pelangi yang hanya muncul sesaat, kamu pun hanya datang sesaat lalu pergi tanpa pamit terlebih dahulu.

Aku mengoreksi diriku, mungkin aku melakukan kesalahan atau menyakitimu, tapi sungguh aku tak merasa melakukannya. Aku sedih, bahagiaku baru sebentar tetapi harus menghilang dengan cepat.

Aku berusaha mencarimu dengan berbagai macam cara, menghubungimu tapi tidak bisa, menanyakan pada teman-temanmu, tapi tidak ada yang tahu. Harus ke mana aku mencarimu? Apa yang kamu rencanakan, aku tak bisa berpikir lebih jauh.

Aku lelah.

Aku lelah menunggumu. Aku berpikir sudah saatnya aku menyerah. Ketika aku ingin mengikhlaskan mu, tak lama aku mendapatkan panggilan masuk di handphoneku dan itu adalah kamu!

Aku sangat bahagia, rasanya seperti memakan durian ditemani dengan kelapa muda dipinggir pantai. Hehee sangat damai bukan? Ya, begitulah rasanya.

Hampir 1 jam kami melepas rindu lewat telpon, kami sudah berbaikan. kami pun berjanji akan menjelaskan apa yang terjadi ketika bertemu nanti. Baiklah, kesedihanku mulai mereda.

Keesokkan harinya aku menerima pesan singkat darimu. Isinya sungguh amat mengejutkan, kamu memutuskan hubungan kita dengan alasan kamu masih menyayangi mantan kekasihmu.

Kamu lebih memilih dia yang jelas-jelas sudah menyakitimu? Kamu tega meninggalkan aku yang selalu mendoakanmu dalam shalatku. Kamu mempermainkan ketulusanku!

Seakan-akan hubungan kita hanya lelucon yang kamu ceritakan lalu kamu tertawakan.

Dari pernyataanmu itu aku hanya bisa menjawab, "terima kasih kamu sudah mengajarkan aku arti ketulusan yang sebelumnya belum pernah aku rasakan. Aku minta maaf kalau selama ini aku belum bisa jadi yang terbaik buat kamu. Aku minta maaf karena selama kita berhubungan, aku selalu cerewetin kamu dan aku minta maaf karena aku gak bisa bikin kamu bahagia."

Selang percakapan berlalu aku tak kuasa menahan air mata yang sudah kutahan-tahan. Tangisku pun terluap, aku hanya bisa menangisi kisah cintaku yang selalu saja disakiti, berkali-kali, beruntutan tiada akhir. Tidak mudah menerima kenyataan bahwa aku hanyalah tempat singgah ketika seseorang bersedih.

Semoga kalian berbahagia.