Jam menunjukkan hampir pukul setengah 6 pagi dan saya baru keluar dari hostel, sedikit meleset dari rencana awal. Tak ingin terlambat, saya segera menyesuaikan ketinggian sadel sepeda. Peta dibentangkan, jemari mengurut rute terdekat dan tercepat untuk sampai tujuan. Kayuhan pun dimulai. "Kreett.. kreett.." jalanan yang masih lengang membuat suara aneh itu terdengar jelas. Suara yang berasal dari sepeda sewaan seharga 5 Ringgit per 5 jam. “Ah, seharusnya tadi test drive dulu,” gerutu saya dalam hati.

Entah karena sudah berumur atau hanya kurang pelumas dan perawatan, kayuhan sepeda terasa cukup berat, ditambah tak ada pilihan gear yang tersedia. Jadilah saya melaju agak pelan, sembari menyesuaikan diri dengan si roda dua yang berpostur sedikit pendek itu. Anehnya, saya justru tersenyum sepanjang jalan, ditemani suara “Kreett.. kreett..” yang berbunyi setiap satu kayuhan terlampaui. Menjelajah tempat asing dengan bersepeda memang mengasyikkan, kamu harus mencobanya sendiri.

Sudah beberapa menit mengayuh tapi langit masih saja gelap, lampu-lampu jalan masih menyala dengan garang. Setelah sempat berhenti untuk mengintip peta dan memastikan tak salah arah, di penghujung Gat Lebuh Armenian saya disambut persimpangan jalan yang lebih lebar. Sepeda melaju agak cepat, membelah Pengkalan Weld yang tampak amat lengang. Bayangan menikmati matahari terbit di pinggir laut dengan latar belakang Penang Bridge yang berkilauan membuat saya semakin mempercepat kayuhan sepeda, sampai-sampai mengabadikan perjalanan dalam jepretan foto pun tak sempat.

Jalanan Pengkalan Weld yang lengang dan lebar rasanya seperti tak berujung. Hingga akhirnya saya bertemu dengan persimpangan dan highway tak jauh di atasnya. Ragu hendak mengambil jalan yang mana, saya pun mencoba berbelok ke kiri, mencari seseorang untuk ditanyai, karena jalan dan tempat yang saya tuju tak ada dalam peta yang saya punya. GPS? Maaf, tapi ponsel kuno saya tak mendukung fitur ini. Lagipula saya lebih suka membaca peta fisik dan bertanya pada orang lokal.

Saya pun mulai bertanya-tanya dalam hati, sudah jam 6 pagi tapi langit masih saja gelap, matahari belum menunjukkan tanda-tanda untuk menampakkan diri. Baguslah, setidaknya saya masih punya waktu untuk mengejar matahari terbit. Saya pun sampai di sebuah tempat yang dipenuhi warung-warung berjajar. Sebagian besar masih tutup, tapi ada satu yang sudah bersiap mengawali hari. Tanpa ragu saya menghampiri dua orang yang tengah sibuk menyiapkan warungnya. Keduanya laki-laki keturunan China, satu sudah berusia senja, satu lagi terlihat berusia paruh baya.

Advertisement

Bertanyalah saya pada mereka perihal Penang Bridge, tempat yang ingin saya tuju. Meski orang bilang kami satu rumpun, nyatanya saya tak sepenuhnya memahami bahasa Melayu yang mereka gunakan. Di sela-sela ketidakpahaman saya dengan ucapan mereka, seorang diantaranya yang berusia senja bertanya mengenai asal saya. Sepatah dua patah kata berhasil saya pahami, rupanya beliau tak habis pikir dengan saya yang nekat pergi sendiri di hari yang masih gelap, bahaya katanya. Saya pun mengangguk-angguk sambil membatin dalam hati kalau di Indonesia jam 6 sudah terang benderang.

“Orang bisa bikin kacau you,” ucap beliau berulang kali dengan nada sedikit tinggi. Entah, mungkin maksudnya orang bisa berbuat jahat pada saya.

Mungkin tak tega melihat saya tersesat sendiri, beliau lalu meminta temannya yang paruh baya itu untuk mengantarkan saya. Tapi akhirnya beliau pun turut serta dan meninggalkan warungnya yang masih berantakan. Keduanya menunjukkan jalan dengan mengendarai sepeda motor di depan, sementara saya menguntit di belakangnya dengan sepeda yang saya kayuh secepat mungkin. Sang kakek lalu menjajari saya dan lagi-lagi mengeluarkan nasehat-nasehatnya, bagaimana kalau ada orang yang bikin kacau dan mengambil uang serta paspor saya. Mendengar itu saya pun hanya mengangguk sambil tersenyum polos.

Kami bertiga melewati jalan yang tak seberapa besar, sepi dan agak gelap. Duh, bersama dua orang asing di tempat seperti ini, apa yang saya pikirkan? Dalam setiap perjalanan saya selalu mengandalkan insting dan naluri, selain berdoa tentunya. Kalau merasa tak ada yang aneh atau janggal, biasanya tidak akan terjadi apa-apa. Dan benar saja, keduanya mengantar saya hingga jalan pintas menuju Penang Bridge. Saya diwanti-wanti kalau sebenarnya jalan ini tidak cukup aman karena merupakan highway. Mendengar kata highway saya pun sedikit tersontak. Ah, rupanya mereka salah menyangka kalau saya ingin melewati Penang Bridge. Padahal sebenarnya saya hanya hendak melihatnya dari bawah sambil menikmati matahari terbit di sepanjang rute sepeda.

Tapi tak mengapa, saya pun berterima kasih berulang kali pada keduanya karena mau repot-repot mengantar saya sejauh itu. Akhirnya saya mengurungkan niat untuk menikmati matahari terbit di bawah Penang Bridge dan kembali ke Jetty saja. Kami bertiga melanjutkan perjalanan, sang kakek mengantar saya sampai jalan besar ke arah Pengkalan Weld. Kemudian beliau menanyakan apakah saya membawa uang sembari merogoh saku bajunya dan hendak memberikan sejumlah uang pada saya. Untuk makan katanya. Ah, kakek ini meski cara bicaranya terdengar seperti marah-marah tapi sesungguhnya baik sekali. Saya pun menolaknya sambil tak henti-hentinya menebar senyum dan berucap terima kasih; thank you, terima kasih, xie xie, kamsia. Semua saya sebut demi menyampaikan rasa terima kasih yang begitu besar pada beliau. Kami pun berpisah, beliau berbalik jalan sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Senyuman yang mengawali hari saya dengan begitu manis.

Sungguh, tak ada penyesalan sedikitpun karena gagal mencapai tempat tujuan. Saya justru melenggang dengan senyum terkembang sepanjang jalan. Peristiwa ini rasanya jauh lebih indah dari menikmati matahari terbit di bawah Penang Bridge. Toh akhirnya saya masih bisa menyaksikannya di Jetty bersama sesama pejalan lain.

Melakukan perjalanan berarti menetapkan tujuan. Sebagian orang mengamini hal ini. Apapun akan dilakukan demi sampai ke tempat idaman. Namun ketika terjadi sesuatu hingga membuat rencana berantakan, tak jarang yang mengutuknya habis-habisan. Padahal proses mencapai tempat tujuan itu sendiri merupakan bagian dari perjalanan yang selayaknya bisa dinikmati sepenuh hati. Karena perjalanan bukan semata-mata soal tujuan. Interaksi dengan sesama adalah esensi, tersesat adalah kunci. Sebuah kunci untuk membuka pintu yang akan mempertemukan kita dengan hal-hal baru. Pengalaman yang akan membuatmu percaya bahwa selalu ada kebaikan dalam setiap perjalanan. Selamat berjalan! 🙂