Siapa yang tidak mengenal nama Isyana Sarasvati? Penyanyi cantik yang dikenal dengan kemampuan musik yang mumpuni dan melejit lewat tembang "Tetap dalam Jiwa" ini mulai mewarnai industri musik Tanah Air sejak 2014 lalu. Tak sedikit pendengar yang merasakan perbedaan Isyana dengan penyanyi-penyanyi pop lainnya di Indonesia. Berdasarkan riset berbasis resepsi khalayak dan teknik wawancara mendalam terhadap enam responden remaja, terdapat beberapa identifikasi khalayak terhadap Isyana Sarasvati.

Bagi pembaca yang belum mengetahui, Isyana adalah seorang musisi yang memiliki basis kemampuan di musik klasik. Isyana sebelumnya merupakan seorang penyanyi opera dan pianis yang beberapa kali menjuarai festival musik internasional. Sebagian masyarakat mulai mengenalnya ketika Isyana mengunggah berbagai lagu cover melalui situs berbagi video Youtube. Dari situlah titik balik kesuksesan Isyana yang kemudian membawanya ke industri musik populer di bawah bendera Sony Music dan ditangani langsung oleh produser musik internasional Hayden Bell.

Belasan tahun berkecimpung di musik klasik memberikan sentuhan berbeda dalam musik yang ia hasilkan, baik secara teknis maupun melodis. Hal itulah yang disadari khalayak penikmat musik di Indonesia. Melalui hasil riset selama enam bulan, khalayak melihat bahwa Isyana adalah seorang penyanyi pop yang memberikan sentuhan-sentuhan musik klasik dalam lagu-lagunya. Salah satu yang disadari responden tersebut adalah teknik bernyanyi Isyana yang masih kental dengan unsur seriosa di beberapa bagian, terutama pada nada-nada tinggi.


"Waktu dia nyanyiin emang beda. Kayak beda aja, ada seriosa-seriosanya tiap akhir lagu gitu. Terus lagu Mimpi sama Tetap dalam Jiwa itu kayak klasik banget." ujar Tria, salah satu responden penelitian.


Teknik bernyanyi seriosa dan melodi-melodi yang lazim digunakan pada musik klasik juga disadari responden lainnya. Rinela yang juga berkecimpung di dunia musik klasik ini mengaku jika seseorang akan sulit melepaskan jubah musik klasiknya, terlebih musik klasik bagi Isyana sudah mendarah daging berkat ibunya yang seorang guru musik memperkenalkan musik ini sejak dini.

Advertisement


"Menurutku karena emang udah nempel sih, apalagi dia sekolah musik klasik pasti pelajarin banget tentang musik klasik, jadi kebawa di popnya entah sengaja atau nggak sengaja. Soalnya emang susah lepas juga sih ya," tutur Rinela.


Kedua jenis musik yang bertolak belakang secara sejarah ini ternyata menimbulkan berbagai spekulasi bagi khalayak ketika di tanya mengenai identitas musik Isyana Sarasvati. Jawaban responden bervariasi, mulai dari musisi pop, klasik, RnB, hingga musisi eksplor.


Berdasarkan jawaban yang beragam dari para responden, peneliti mengidentifikasi Isyana Sarasvati sebagai "musisi posmodern", di mana musisi posmodern ini memiliki identitas khas era posmodern, yakni identitas yang tidak tetap, cair, berubah-ubah, serta sangat dinamis. Perlu ditekankan di sini bahwa identifikasi "musisi posmodern" merupakan musisi dengan identitas posmodern, bukan musisi dengan aliran musik posmodern.


Andy Bennett, seorang sosiolog asal Inggris dalam artikel ilmiahnya berjudul "Subcultures or Neo-Tribes? Rethinking The Realtionship Between Youth, Style, and Musical Taste" menyatakan bahwa identitas musik posmodern ini seperti yang dialami pada komposisi musik elektronik (electronic dance music) atau EDM yang memungkinkan pendengarnya merasakan perubahan identitas jenis, bunyi-bunyian, hingga karakteristik musik. Demikian dengan Isyana, perubahan jenis-jenis musik yang kental dalam komposisi yang ia hasilkan dan juga identitasnya sebagai penyanyi pop sekaligus klasik merupakan suatu simbol alter identity yang menjadi ciri khas era posmodern pasca-perang.

Argumen tersebut seperti 'diamini' dengan munculnya album baru Isyana bertajuk "The Voice of Paradox" yang diluncurkan beberapa waktu lalu. Seperti ditulis dalam booklet CD-nya:

"Paradox menunjukkan bahwa kita tidak benar-benar tahu tentang identitas suatu fenomena. Kehidupan hari ini seakan terjebak dalam paradox, saling silang dan kontradiktif namun terus berjalan. Demikianlah posisi berkesenian saya saat ini,… …pop sekaligus klasik, dan sebagai hasilnya telah mendorong saya menciptakan karya yang membangun keseimbangan dari berbagai kontradiksi tersebut. …karena di sana sini kita akan menemukan lirik, ritme, dan nada-nada paradoxical."

Berbeda dengan musisi crossover yang melakukan suatu cara untuk menyilangkan dua genre musik berbeda yang umumnya dari audiens anti-mainstream ke audiens yang lebih mainstream (seperti Gita Gutawa atau Maylaffayza), musisi posmodern ini lebih kepada identitas musiknya yang berubah seiring dengan dinamisme masyarakat. Isyana Sarasvati pun dikenal sebagai pribadi yang mampu menempatkan diri sesuai dengan setting musiknya, yakni suatu alter identity di mana saat konser musik klasik dirinya bisa jauh berbeda dengan saat ia berada di panggung musik populer.

Penelitian ini membuktikan, jika di Indonesia musisi crossover tidak sepopuler musisi pop pada umumnya, musisi posmodern seperti Isyana ternyata terbukti mampu menarik jumlah audiens yang lebih besar, baik dari kalangan musik klasik, musik populer, atau penikmat musik secara umum.