Masih segar dalam benak kita, polemik tentang cetakan uang baru. Salah satu ocehan yang menjadi masalah, datang dari kader salah satu partai dakwah yang mengatakan pahlawan nasional yang dipilih menjadi gambar mata uang itu kafir. Pemilihan pahlawannya tak jelas, kok pahlawannya tak terkenal. Padahal Franz Kaisiepo adalah seorang pahlawan yang bahkan namanya sudah diabadikan di Biak sana.

Dan saya pun jadi bertanya-tanya, selain Franz Kaisiepo, pasti ada banyak pahlawan nasional lain yang tidak dikenal oleh masyarakat. Misalnya saja ada Tan Malaka, yang lebih dikenal sebagai bagian dari komunisme (bahkan dicap pemberontak oleh sebagian orang), padahal dia sudah dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Soekarno. Lalu ada juga Sambernyawa. Nah, siapa Sambernyawa?

Julukan Sambernyawa diberikan oleh Nicolas Hartingh, perwakilan dari VOC, kepada Pangeran Mangkunegara I, karena Sambernyawa selalu memberikan kematian kepada musuh-musuhnya. Pangeran Mangkunegara I bernama lengkap Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I dengan nama lahir Raden Mas Said. Beliau lahir di Kartasura, 7 April 1725, meninggal di Surakarta, 23 Desember 1795. Beliau mendirikan Praja Mangkunegaran, di Jawa bagian tengah selatan.

Dari kecil, ia hidup terlunta-lunta karena Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura, ayahnya, dibuang Belanda ke Sri Lanka karena beliau melawan VOC, dan adanya intrik dengan Pakubuwana II. Kisah hidup Sambernyawa ini dinovelkan oleh Sri Hadjojo yang masih keturunan beliau. Berlatar peristiwa pemberontakan orang-orang Jawa dan Tionghoa pimpinan Sunan Kuning, yang berakibat pada jebolnya Keraton Kartasura, novel ini merekam sejarah kehidupan raja Jawa yang paling gigih melawan kompeni Belanda dan kesewenang-wenangan penguasa Mataram.

Pada 30 Juni 1742, Sambernyawa masih berusia 19 tahun, dan ikut bergabung dengan Sunan Kuning melawan VOC dan Pakubuwana II. Martabat orang-orang Tionghoa dan rakyat Mataram saat itu tertindas, kemudian mereka menggempur Kartasura yang dianggap sebagai kerajaan boneka VOC. Peristiwa ini dikenal sebagai Geger Pacinan.

Advertisement

Nama Mangkunegara diambil dari nama ayahnya, Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura. Ketika RM Said masih berusia dua tahun, Arya Mangkunegara ditangkap karena melawan kekuasaan Amangkurat IV (Paku Buwono I) yang dilindungi VOC dan akibat fitnah keji dari Patih Danureja. Karena itulah, Said berjuang mati-matian melawan Belanda.

Keterkenalan Sambernyawa terletak pada tiga peperangan yang melibatkannya. Gubernur Direktur Jawa, Baron van Hohendorff, yang berkuasa ketika itu, memuji kehebatan Sambernyawa. Yang pertama, pasukan Sambernyawa berperang melawan pasukan Mangkubumi, alias Sultan Hamengkubuwono I yang juga paman dan mertuanya di Kasatriyan pada tahun 1752. Yang kedua, Sambernyawa melawan dua detasemen VOC dengan komandan Kapten Van der Pol dan Kapten Beiman di sebelah selatan Rembang, di hutan Sitakepyak. Dalam peperangan itu, lebih dari 600 prajurit VOC tewas, sementara pasukan Sambernyawa yang lebih kecil hanya menderita 3 tewas dan 29 terluka.

Perang besar yang kedua pecah di hutan Sitakepyak, sebelah selatan Rembang, yang berbatasan dengan Blora, Jawa Tengah pada tahun 1756 dan Sambernyawa berhasil menebas kepala kapten Van der Pol dengan tangan kirinya dan diserahkan kepada istrinya sebagai hadiah. Yang ketiga, penyerbuan benteng Vredeburg dan keraton Yogya-Mataram pada tahun 1757. Peristiwa itu dipicu oleh kekalutan tentara VOC yang mengejar Sambernyawa sambil membakar dan menjarah harta benda penduduk desa. Beliau murka dan balik menyerang pasukan VOC dan Mataram.

Setelah memenggal kepala Patih Mataram, Joyosudirgo, Sambernyawa diam-diam membawa pasukan mendekat ke Keraton Yogyakarta. Benteng VOC, yang letaknya cuma beberapa puluh meter dari Keraton Yogyakarta, diserang. Lima tentara VOC tewas, ratusan lainnya melarikan diri ke Keraton Yogyakarta. Selanjutnya Sambernyawa menyerang Keraton Yogyakarta. Pertempuran ini berlangsung sehari penuh.

Sambernyawa tak pernah kalah. Pertanyaannya, kalau Sambernyawa tak pernah kalah, kenapa ia tak mengusir Belanda? Saya menanyakan hal itu kepada seseorang yang masih keturunan Sambernyawa.

Setelah pertempuran tersebut, Nikolas Hartingh mengusulkan perundingan kepada Pakubuwana III ketimbang terus berperang dengan Sambernyawa. Perundingan itu diterima oleh Sambernyawa dengan syarat tak melibatkan VOC. Sambernyawa pun bertemu dengan Sultan Pakubuwana III dan terjadi perjanjian Salatiga pada 1757. Sambernyawa diberi wilayah yang dikenal sebagai Mangkunegaraan. Meski tingkatnya sama dengan kadipaten, Sambernyawa diperlakukan khusus layaknya raja kecil sehingga ia juga mendapat julukan raja ketiga pulau Jawa.

Penerimaan ini, menurut seseorang tadi, dikarenakan sebetulnya Sambernyawa merasa lelah belasan tahun berperang melawan saudara-saudaranya sendiri. Ia ingin mengusir VOC dari tanah Jawa, namun intrik politik berkata lain, VOC merangkul saudara-saudaranya sendiri. Pada tahun 1983, Sambernyawa diangkat menjadi Pahlawan Nasional.

Yang unik dari pasukan Sambernyawa adalah adanya pasukan perempuan dalam pasukan Sambernyawa, yang memegang senapan juga pasukan berkuda. Sambernyawa dianggap sakti mandraguna dan memiliki ajian Sasrabirawa. Kemenangan perangnya adalah berkat strategi jitunya dalam bergerilya dan berpasukan. Konon, nama Cakrabirawa dalam pasukan pengamanan presiden terinspirasi dari beliau, mengingat salah satu ibu negara kita, Ibu Tien Soeharto, adalah seorang Mangkunegaraan.