Berbicara mengenai jatuh hati atau patah hati, rasanya sudah tidak asing lagi bagiku. Di masa lalu, keduanya telah kurasakan berkali-kali bahkan dengan orang yang sama. Kini, biarkanlah masa lalu yang menyakitkan itu tetap ada di tempatnya, di belakang. Kali ini aku ingin sekali bercerita mengenai jatuh hati, tepat seperti yang tengah kurasakan saat ini. Sebenarnya, jatuh hati adalah hal yang biasa bagiku, melihat indahnya pemandangan, melihat gulungan ombak di pantai, melihat birunya langit di alam terbuka, atau melihat keimutan seekor kucing sekalipun sudah cukup untukku merasakan apa itu jatuh hati. Jatuh hati bagiku adalah hal yang beragam, dan salah satu dari keragaman yang paling indah itu adalah merasakan jatuh hati padanya, sahabatku.

Aku mengenalnya selama bertahun-tahun dalam lingkungan sekolah yang sama. Tak pernah terlintas di benakku bahwa perasaan ini akan muncul dengan sangat terlambat. Enam tahun lamanya kami bersahabat, baru setelah itu aku merasakan apa itu jatuh hati. Jatuh hati yang begitu arif. Entah angin apa yang membawa pemikiranku terbang, dan entah bagaimana tangan Tuhan menggerakan hatiku untuk lebih dari sekedar peduli padanya. Namun yang pasti, aku ingin masuk lebih dalam ke kehidupannya. Mengenalnya selama bertahun-tahun memang telah cukup untukku mengetahui segala perangainya, baik buruknya, kesukaaan dan ketidaksukaannya terhadap sesuatu. Namun kenyataannya, semakin aku tahu banyak, semakin aku merasa tidak mengetahui apa-apa tentangnya. Seperti teori ilmu, semakin dipelajari semakin kita merasa tidak mengetahui tentang apa-apa tentang dunia. Satu hal yang pasti,


AKU JATUH HATI, KUULANGI, AKU JATUH HATI!


Lalu sebuah pertanyaan pun muncul: Bagaimana caraku mendapatkannya?

Dia adalah lelaki yang baik, lebih dari sekedar fisiknya, ketaatannya pada Tuhan telah membuatku tertarik jauh lebih dalam. Setidaknya begitulah yang dapat kugambarkan menurut pandangan subjektifku. Tak banyak orang sepertinya yang lebih memilih ‘sendiri’ dalam ketaatan seraya memantaskan diri menunggu yang terbaik, orang-orang seperti dirinya inilah yang menurutku langka. Sosok seperti dirinyalah yang aku butuhkan untuk meraih keabadian kelak. Bersamanya, aku merasa yakin akan bisa menapaki hari-hari dengan lebih baik. Ia adalah kado masa depan dambaanku, Tuhan! Saat ini cukup dengan menjadi sahabatnya, meskipun tidak lebih nyatanya telah membutku merasa amat bersyukur pada Tuhan. Aku sangat bersyukur karena Tuhan telah mengahdirkan sahabat sekaligus pengingat dalam ketaatan. Ia banyak memotivasi dalam berbagai sisi kehidupan, sedikit banyaknya ia telah mampu membuatku untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Advertisement


Pertanyaan itu kembali muncul dalam benakku, pertanyaan yang sama: Bagaimana caraku mendapatkannya?


Hari-hari berlalu, dia tetap menjadi sahabatku tak ada yang lebih di antara kami. Dalam kebingunganku, aku bercerita pada Tuhan, mengalir seperti air. Tuhan memang maha mendengar, akhirnya Tuhan menyadarkanku dengan segera. Bahwa segala hal dalam kehidupan, harus ditangani dengan arif dengan melibatkan Tuhan, termasuk urusan jatuh hati. Tuhan tidak pernah meninggalkaku, terutama dalam kebingungan semacam ini. Tangan-tangannya selalu ada untuk menuntunku lebih dekat padaNya hingga dengan ringan aku bisa menyerahkan segala urusan padaNya.

Melalui berbagai cara Tuhan membuatku sadar bahwa untuk mendapatkan segala yang kita inginkan adalah meminta langsung pada Maha Pencipta. Bahwa untuk mendapatkan hati sang pencuri hati bukanlah berlari mengejarnya, melainkan berlari menghampiri penciptanya, Pemilik Asli segalanya. Bahwa untuk mendapatkan pasangan terbaik adalah dengan menjadi pribadi yang baik pula, karena Tuhan selalu berjanji bahwa “pria yang baik adalah untuk wanita yang baik pula.”

Akhirnya kutemukan jawaban atas segala pertanyaanku selama ini: “Memantaskan diri untuk menjadi yang pantas di mata Tuhan.”

Pemahaman semacam itu telah membuat pandanganku banyak berubuah dalam menyikapi perasaan cinta yang pada hakikatnya adalah fitrah umat manusia. Kini aku merasa bisa lebih bijak dalam menendalikan perasaan yang telah Tuhan ciptakan. Mencintainya bukan berarti aku harus ada selalu di sampingnya, mencintainya bukan berarti namaku harus menjadi urutan teratas dalam daftar percakapan media sosialnya dan mencintainya bukan berarti aku harus menjadi kekasihnya. Mencintainya adalah soal ketaatan.

Sepertinya sungguh munafik jika kita menyukai seseorang namun lantas mengatakan tidak ingin menjadi kekasihnya. Namun sebagai hamba Tuhan, bukankah hendaknya kita menjadi pribadi yang lebih bijak. Kita harus mengakui bahwa segala sesuatunya adalah milik Tuhan dan Tuhanlah yang memengang kendali atas segala yang telah diciptakanNya. Tugas kita sebagai manusia hanyalah taat, dengan begitu kita berarti telah berusaha untuk menjadi pantas di mataNya, kan? Kini aku paham bahwa tidak setiap jatuh hati harus digenapi dengan memiliki, melainkan digenapi dengan memantaskan diri di hadapan Tuhan.

Aku percaya jika kita berusaha memantaskan diri, maka Tuhan pun akan mengirimkan pasangan yang pantas pula di mataNya untuk mendampingi kita. Apapun pilihan Tuhan akan selalu menjadi yang terbaik bagi kita hambaNya. Baik dirinya maupun orang lain, yang akan Tuhan sandingkan denganku kelak, aku percaya bahwa itulah jalan terindah.

Tugas kita hari ini dan seterusnya adalah memantaskan diri untuk menjadi yang pantas di mata Tuhan. Mempersiapkan diri menjadi pasangan terbaik bagi siapapun jodoh kita, mempersiapkan hati juga berbagai keterampilan. Takkan lari gunung dikejar, takkan surut lautan dikuras, serahkan segalanya pada Tuhan karena jika memang sudah jodohnya maka takkan lari ke mana. Sesulit apapun rintangannya, cinta sejati akan menemukan jalannya untuk kembali, serumit apapun permasalahannya, cinta sejati pasti akan bertamu pula pada orangtua kita.

Telah kuputuskan bahwa jalan terbaik adalah mencintai dalam diam. Tak mudah memang, namun harus kulakukan. Aku tak ingin ia mengetahui segalanya, cukup Tuhan saja yang mengetahuinya karena ini urusanku denganNya. Biarlah Tuhan menjadi pendengar segala gelisahku, rinduku dan cintaku saat ini. Biarlah pula Tuhan yang mengetahui isi hatinya saat ini, entah aku atau bukan, sungguh aku tak ingin mengetahuinya. Biarlah aku mencintainya dengan debar yang dikumandangkan dengan sabar. Dirinya tak perlu tahu.

Dahulu bahkan hingga detik ini tidak pernah ada sesuatu antara aku dan dirinya. Dahulu dan kini pun aku dan dirinya menjaga jarak dengan ukuran yang sama, yaitu jarak antar sahabat, tidak lebih. Namun segala yang pernah dilalui dengan sendirinya telah menuntun hati ini pada sebuah realita yang tak etis lagi jika disebut tabu. Sesungguhnya aku mencintainya. Sesungguhnya aku mencintainya dengan segala kearifan yang kumiliki. Kearifan yang tidak mudah untuk kupelajari. Kearifan yang selalu menuntunku dalam bertindak. Kearifan yang kucari-cari sendiri hingga akhirnya kutemukan saat jatuh hati padanya. Kearifan yang membuatku selalu tersadar untuk terus memantaskan diri. Kearifan yang membuatku lebih dekat dengan sang pencipta. Dan kearifan yang membuatku merasa jauh lebih tenang.

Untuknya, yang telah berhasil membuatku jatuh hati dengan arif, jika kelak Tuhan tidak menyandingkanku denganmu, itu bukan berarti aku tidak mencintaimu, melainkan Tuhan telah menjawab segala doa-doaku dengan setepat-tepatnya pilihan.

Terima kasih, karena telah hadir dan memberikanku banyak hikmah. Mari kita nanti bersama bagaimana tangan-tangan Tuhan bekerja.