Senja sudah menghilang. Berganti awan hitam yang kian pekat. Malam siap datang membawa surprise dengan kurir waktu. Aku masih terdiam di ujung karang. Sengaja kujejakkan kaki menjauhi keramaian. Bukan sedang bersedih, tapi tentang kerelaan. Merelakan lelakiku terdiam tanpa sapaan. Memberikan sejengkal jarak yang membuat rindu semakin pekat, sedangkan tatap semakin menjadi harap.

Bibirmu terkunci tanpa ku bawa kuncinya. Lidahmu kelu sepanjang waktu. Mataku masih mengarah padamu, kemudian kamu berpaling. Menjauh sejengkal demi sejengkal hingga akhirnya tak tampak lagi.

Aku lelah. Melihat tekukan kerut wajahmu yang semakin menjadi. Candamu terebut oleh masalahmu. Ceriamu hilang di telan ikan – ikan asing di lautan air tubuh.

Seolah kamu masuk ke dalam gua sedangkan Aku terdampar bersama suara – suara ombak yang menabrak karang. Melegakan setiap nafas sambil menyelipkan harap di sela – selanya.

Berharap kamu tiba – tiba datang membawa seonggok canda dan ceria lagi. Tapi Aku salah. Rupanya kamu memang benar – benar pergi. Menyendiri dalam gua demi ketenangan. Sedangkan Aku? Jangan tanya, Aku akan tetap disini menantimu keluar gua dengan setumpuk semagat lagi.

Advertisement

Mengertilah wanita, ketika laki – laki marah Ia hanya butuh sendiri. Sedangkan wanita selalu bercerita agar masalah – masalah itu luntur dengan sendirinya.