Sudah sejak sebelumnya menginginkan perjalanan ini. Menuju Kawasan Mandeh, di Pesisir Selatan. Aku adalah mahasiswa asal Sumbar yang merantau ke pulau Jawa, tepatnya kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Artikel yang berkali-kali muncul di beranda media sosial betul-betul menarik hati untuk turut menginjakkan kaki. Semenjak diresmikan menjadi kawasan wisata bahari, Kawasan Mandeh menjadi sangat populer dan sering diliput media televisi. Terumbu karang, kapal karam hingga gugusan pulau-pulau kecil membuat kawasan ini dikenal sebagai Raja Ampatnya Indonesia barat.

Juni 2015, ini waktunya pulang. Akhir semester genap yang mestinya dihabisi dengan liburan diganti dengan magang di daerah Bungus, Padang, Sumatera Barat. Sambil menyelam minum air, sepertinya inilah yang menjadi pikiran sebelum habis masa kuliah. Memang sebelumnya target utama dari magang tersebut adalah kegiatan lapangan ke Pulau Mentawai, tapi hingga akhir sepertinya itu masih jadi harapan yang membutuhkan waktu lebih lama lagi.

Akhir Juli, kuliah akan dimulai sebentar lagi. Sudah saatnya untuk pergi mengantarkan laporan sebagai syarat selesainya kegiatan magang. Pukul 6 pagi, air dingin yang terlalu dingin dan air hangat yang terlalu hangat telah memulai hari. Ini adalah pertama kalinya menempuh jarak yang jauh menggunakan sepeda motor sendirian. 120 km lebih, dari Kota Payakumbuh menuju Kota Padang, mulai dari barisan bukit hingga monyet-monyet yang berkeliaran di sepanjang jalanan yang tepat bersebelahan dengan laut membuat perjalanan ini jauh dari kata membosankan.

Tengah hari, laporan sampai ditempat tujuan. Hari masih cukup panjang dan teman yang hendak dikunjungi masih kuliah. “Hmm kemana?, Pulang saja?, Ah tidak nikmati waktu terakhir disini sebelum kembali pergi jauh”. “Tapi kemana?, Hmm tunggu, ini sudah direncanakan sebelumnya”. Hari masih cukup panjang mengapa tidak kesana saja. Ke tempat yang sebelumnya urung dikunjungi karena kurang mobilenya menggunakan angkot. Seketika dadu dilempar. Jarak ke sana? Lama menunggu, 50 km itu jawaban di pesan singkat yang baru saja masuk. Yap, 50 km jarak menuju Kawasan Mandeh.

Entah apa istilah bahasa Indonesia untuk mengatakan berbesar-besar hati, tapi yang jelas sangat gembira sekali saat itu. Ini adalah perjalanan yang dinanti-nantikan sejak berbulan-bulan yang lalu. Klakson truk pertamina memulai perjalanan itu. Lewat di batas terjauh yang sebelumnya ditempuh menggunakan angkot yang putar balik karena kurangnya penumpang adalah sesuatu. Dengan ketidaktahuan akan tujuan, dalam hati bertanya-tanya “Ada apa di depan sana?”.

Advertisement

Benar atau tidak, perjalanan 50 km ke tempat yang tidak pernah dikunjungi sebelumnya itu seperti ilusi. Perasaan jauh itu begitu terasa ketika dibandingkan dengan berangkat 50 km ke tempat yang pernah dikunjungi sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda akan sampai, semangat pun perlahan menurun. Namun tiba-tiba, mobil dengan logo unik baru saja lewat. Wonderfull Indonesia itu tulisannya, semangat kembali menggebu. Tanjakan dan turunan yang silih berganti mengantar hingga sampai ke batas wilayah memasuki kabupaten Pesisir Selatan. Sedikit lagi, plank petunjuk jalanan mulai bermunculan.

Satu demi satu hingga sampai di petunjuk belok kanan. Di balik bukit ini, ada kawasan Mandeh yang telah menunggu. Sempat berpikir sebelumnya akan ada pungutan-pungutan liar tapi hingga mencapai puncak bukit ternyata sama sekali tidak ada, hanya sendirian saja yang melewati jalanan itu. Ah iya, ini bukan hari libur.

Dan akhirnya di hadapan lautan, di hadapan pulau-pulau dan di bawah pohon-pohon yang bisa menyaksikan itu semua, Inilah Kawasan Mandeh. Jernihnya air yang membuat pasir di bawahnya tampak jelas, barisan kapal nelayan di bagian kiri teluk, inilah yang ada dalam artikel-artikel itu, yang kemaren muncul di televisi, dan yang diinginkan beberapa bulan yang lalu. Kawasan Mandeh..