Adalah seduhan kopi di cangkir putih penyambung obrolan pagi hari. Menjelma sebagai rutinitas atas dasar ego. Demi sulaman senyum manis di bibirmu yang selalu bisa ku deskripsikan sejelas – jelasnya.

Adalah panas terik yang kemudian membakar kulit – kulit mulusku demi bisa melangkah beriringan menuntut ilmu denganmu. Bermusuhkan lembaran – lembaran kertas putih hingga coklat bercampur tetesan keringat yang sengaja tak kuusap sebagai bukti perjuangan.

Adalah langit sore merah oranye menuntun dua pasang kaki menuju tempat – tempat pemberi ketenangan. Lengkap dengan peci dan mukena putih. Menyiapkan sepasang telinga dan segenap hati untuk mengkaji agama.

Adalah malam bertabur sinar bulan dan bintang menemani cerita – cerita malam kita. Cukup siapkan dua telinga lebar – lebar, satu katup bibir, dan senyum manis. Semua seakan sempurna.

Tapi, bukankah sempurna itu semu ? Sempurna hanya keadaan peralihan dari tinggi ke rendah, yang akan berakhir di titik terendah pula, pilu.

Advertisement

Adalah tentang sajadah – sajadah dan tasbih di sepertiga malam. Doa – doa dipanjatkan, entah nama siapa saja yang kusebut tapi namamu andil di dalamnya. Diam – diam kugantungkan harapan menyandingmu pada Sang Kuasa. Hanya pada-Nya berani kucurahkan semuanya.

Jika pada ujungnya melukai, sudah pasti sebagai hamba akan ditunjukan jalanNya menuju Ikhlas. Hanya saja berproses sebagai hamba yang baik tidak semudah meluluhkan api kepada air.

Adalah jejak – jejak mengasyikan yang kupikir sempurna tadi rupanya maya. Melunakkan perasaan yang semula keras sampai akhirnya kembali mengeras. Tanpa ada isyarat hujan kepada bumi, perempuan itu datang memeluk detik – detik yang biasa kita tapaki bersama. Mengoyak keberadaanku yang semula berdiri tegak menjadi lemah. Memaksaku pergi dari singhasana tinggi, disampingmu.

Adalah buliran air bening yang kemudian mengiringi rinduku akhir – akhir ini. Rindu yang sama klasiknya dengan kalian. Hanya saja ketika Aku menghirupnya, ada pilu yang memakasa masuk di dalamnya. Semakin ku hirup, semakin deras hujan yang menghiasi pipi. Dinginnya terlalu menusuk, sama menusuknya dengan perempuan itu.

Adalah rindu yang kunikmati sendiri sejak paras cantiknya memenangkan khilafmu. Melipat – lipat rindu yang semakin rapat berselang pilu. Indah saja kalau rindu yang terlipat itu masih bisa bertahan. Kalau tidak? entahlah. Kuserahkan rindu pada Sang pembuat rindu.