Berwisata tidak melulu harus ke luar kota atau luar negeri. Mengunjungi tempat wisata di kota sendiri pun bisa menjadi keasyikan tersendiri, lho. Cari dan kunjungi tempat wisata yang menarik minatmu. Misalnya seperti saya yang suka mengunjungi museum, ketika ada waktu luang, saya akan menyempatkan untuk mengunjungi museum yang belum pernah saya kunjungi di kota saya. Seperti pagi itu pukul 08.30 bersama dengan teman saya, kami pergi ke Museum Ullen Sentalu yang terletak di kaki Gunung Merapi. Tidak dekat sekali dengan Gunung Merapi, namun tidak juga terlalu jauh.

Nama ‘Ullen Sentalu’ ternyata merupakan singkatan dari sebuah filosofi Jawa, yaitu ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku yang berarti cahaya dari blencong atau minyak lampu yang digunakan dalam pagelaran wayang kulit adalah penuntun manusia dalam menjalani kehidupan. Museum Ullen Sentalu adalah museum pribadi yang dimiliki oleh orang penting dari Yogyakarta, yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga Keraton Yogyakarta dan Keraton Solo.

Kami menuju ke museum tersebut mengendarai sepeda motor dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam, termasuk dengan tersasar sedikit terlalu ke utara. Setelah membeli tiket masuk, kami harus menunggu sekitar 10 menit supaya ada jeda antara grup yang sebelumnya sudah masuk. Jadi, sistem mengunjungi museum tersebut adalah pengunjung harus dipandu oleh pemandu wisata dari museum tersebut untuk mengelilingi seluruh museum. Ketika itu, kami digabungkan dengan beberapa pengunjung lain sehingga terbentuk sebuah grup kecil.

Pemandu wisata kami mengatakan bahwa area museum yang seluas 1,2 hektar tersebut terbagi dalam tiga bagian yang akan kami kelilingi dalam waktu 50 menit. Area yang pertama berbentuk terowongan. Terowongan tersebut berdinding batu yang batunya berasal dari Gunung Merapi. Di dalam terowongan di sisi kanan terdapat satu set gamelan dari Keraton Yogyakarta dan beberapa lukisan penari yang sedang menarikan tarian tradisional dari Yogyakarta. Sementara itu, di sisi kiri ada beberapa foto dan lukisan anggota keluarga dari Keraton Yogyakarta dan Keraton Solo. Di sana ada sebuah lukisan unik—kalau tidak mau dibilang cukup mengerikan—, yaitu lukisan tiga dimensi seorang wanita yang mata dan kakinya akan selalu mengarah pada orang yang melihat lukisan tersebut dari sisi manapun. Kalau kamu melihat lukisan dari sisi kiri, maka mata dan kakinya akan mengarah padamu. Begitu pula kalau kamu melihatnya dari sisi kanan. Saya masih merinding kalau mengingatnya!

Berpindah ke area kedua di mana terdapat lima rumah berukuran sedang yang terlihat seperti mengapung di atas air, sehingga area tersebut dinamai Bale Kambang atau rumah yang mengapung. Di ruangan pertama, ada beberapa barang kuno dan juga pakaian dari seorang putri keraton, yang saya lupa Keraton Yogyakarta atau Solo. Lalu di ruang kedua, yang merupakan ruangan favorit saya karena terdapat 29 puisi yang ditulis dalam Bahasa Belanda, namun juga tersedia terjemahannya dalam Bahasa Inggris dan Indonesia. Ruangan tersebut adalah ruangan yang berisi kenangan akan adik perempuan seorang raja Keraton Solo yang pernah jatuh cinta pada seorang Pangeran yang memiliki kasta lebih rendah, sehingga ibunya tidak merestui hubungan mereka. Hal tersebut membuat Putri tersebut patah hati sehingga saudara-saudara dan teman-temannya mengirimi surat sebagai penghiburan. Pada akhirnya, Putri tersebut menikahi Pangeran yang dicintainya karena bantuan sang kakak. Saya membaca beberapa puisi tersebut dan itu sungguh menyentuh hati!

Advertisement

Lanjut ke ruang ketiga, di sana terdapat beberapa koleksi batik dari Solo yang memiliki karakteristik: berwarna cokelat keemasan, coraknya cenderung kecil-kecil, dan menunjukkan kelembutan atau sisi feminin. Sebaliknya, di ruang keempat, ada beberapa koleksi batik dari Yogyakarta yang karakternya adalah selalu menggunakan warna putih atau warna terang lainnya sebagai latar belakang, coraknya cenderung besar-besar, dan menunjukan sisi maskulin.

Setelah selesai menyusuri area Bale Kambang, kami memiliki waktu beristirahat selama 2 menit dan pemandu wisata kami menyuguhi kami dengan segelas minuman tradisional dengan resep spesial musem tersebut. Katanya, minuman tersebut berkhasiat untuk mencegah penuaan dan akan membuat peminumnya nampang selalu awet muda. Minuman tersebut disajikan hangat dengan rasa manis, yang terlalu manis untuk saya, dan ada saya merasakan ada sedikit rasa jahe dalam minuman tersebut.

Ketika sudah menyelesaikan minuman, kami berjalan ke arah area selanjutnya, namun di tempat menuju area tersebut, kami dipersilahkan untuk berfoto selama kurang-lebih 5 menit. Perlu kamu ketahui bahwa selama di dalam tiga area tersebut, pengunjung tidak boleh mengambil foto apapun. Kesempatan berfoto hanya diberikan di lokasi tertentu.

Kemudian, kami melanjutkan ke area terakhir yang terdiri dari patung-patung kuno. Pemandu wisata kamu mengatakan bahwa museum menyewa beberapa patung tersebut dari sebuah institusi sejarah karena patung-patung tersebut asli berasal dari ratusan tahun yang lalu. Di sana juga ada beberapa lukisan seperti lukisan tarian mistis dari Keraton Yogyakarta, lukisan Raja Yogyakarta yang paling kuat dan terkenal, lukisan kunjungan Putri Diana dan Pangeran Charles ke Keraton Yogyakarta pada tahun 1980an, dan lukisan seorang perempuan yang mengenakan pakaian pernikahan tradisional dari Yogyakarta.

Hal terakhir yang kami saksikan adalah replika dari salah satu relief di Candi Borobudur yang berukuran sangat besar. Namun, replika tersebut diletakkan dalam posisi miring sebagai cara museum tersebut menunjukkan bagaimana orang Jawa kini mulai melupakan bahkan meninggalkan kebudayaan Jawa. Oh iya, pengunjung boleh berfoto di area tempat replika tersebut berada.

Akhirnya, tur museum pun berakhir! Kami berfoto di sebuah taman kecil yang unik selama 10 menit sebelum akhirnya meninggalkan museum tersebut.

Hal yang saya sukai dari Museum Ullen Sentalu adalah arsitekturnya yang menarik, mistis, namun cantik. Di samping itu, saya juga suka lukisan-lukisan di sana yang indah dan detail, juga saya menyukai ‘ruang puisi’ seperti yang saya sebutkan di atas.