Pernikahan dini masih dinilai menjadi pemicu meningkatnya angka perceraian. Banyak hal yang dibawa-bawa menjadi alasan untuk melaksanakan perceraian ini. Jika yang menjadi salah satu alasan akhir perceraian dari para pelaksana pernikahan dini adalah “ketidakcocokan”, lalu bagaimana cerita awal mereka memutuskan menikah? Landasan apa yang dipakai? Motivasi apa yang menguatkan untuk menyegerakan membangun bahtera rumah tangga jika mereka tidak sanggup untuk melewati cobaan? Apakah pernikahan hanya sekedar percobaan seperti membeli baju apabila tidak cocok maka halal untuk ditanggalkan?

Heranku melihat beberapa diantara mereka bangga dengan status baru yang diemban, tanpa memikirkan bagaimana perasaan buah hatinya. Atau apakah bagi beberapa di antara mereka menganggap bahwa perceraian merupakan tren supaya dibilang kekinian? Kalau memang hal itu yang dipikirkan oleh beberapa di antara mereka, maka menurutku memutuskan untuk tidak menikah itu justru lebih baik, daripada akhirnya harus menyakiti buah hati yang tidak tau apa-apa dengan perceraian.

Bukankah kita sudah terlalu banyak menimbun dosa, dan bagaimana jika ketidakmampuan mengasuh buah hati dengan status single parent membuat menambah dosa semakin bertumpuk? Hey, kenapa beberapa diantara mereka tidak berpikir sejauh itu?

Ah sudahlah! Kalaupun memang menikah adalah suatu keputusan yang diambil, maka tolong setolong-tolongnya bagi calon orang tua dan yang sudah menjadi orang tua bertanggungjawablah sesuai peran masing-masing. Itu semua demi perkembangan psikis anak supaya menjadi generasi bangsa yang bermoral, bermartabat, serta terhindar dari kenakalan remaja seperti yang sekarang marak terjadi. Karena bagaimanapun juga, orangtua memberi andil yang sangat besar dalam kehidupan anak..