Nyanyian ombak begitu riuh terdengar, diiringi tarian gelombang menyapa langit. Gemercik air yang sesekali menghanyutkan butiran pasir yang berlinang menjadi irama yang selalu menyanyikan lagu merdu menyelinap di lubang telingaku. Tidak seperti biasanya aku menikmati sore kali ini di sebuah pulau Lemukutan, di Kalimantan Barat. Pulau yang kecil, namun terbentang genangan air nan kebiru-biruan jernih yang menyimpan sejuta pesona yang hanya dapat terucap oleh jiwa. Aku hanya tahu disinilah daratannya, di tanah tempat ku berdiri kini.

Percayalah cinta sejati tak akan pernah terlupakan, walau jiwa kini berada di tempat yang berbeda. Meski kini aku sedang berjuang dalam kesendirian dan kesedihan. Dan memang cintaku telah terpisah jauh, tapi tak kan pernah hilang tuk selamanya. Karena cinta akan selalu berlabuh, bersarang dan terluka di hati yang tak akan berbeda: aku. Mungkin, berbeda pula dengan hati dia yang kini telah menemukan pemiliknya. Sementara aku. Aku hanya masih rindukan sentuhan hangat sore ini hingga akhirnya tertutup awan yang tak relakan fajar tergantikan oleh malam. Masihkah sore itu menunggu ku disana? Ah terlalu klise semua kenangan itu terlintas.

Kau, yang kini sudah benar-benar tak lagi bersamaku disini. Entah dengan cara apa aku harus menghilangkan bayangmu dalam pikiranku. Kau yang sudah tidak sabar untuk menikah, sampai-sampai kau meninggalkanku tanpa alasan. Apakah kau tidak memikirkan perasaanku kini? Sakit, perih, menjadi satu dalam sesak dada ini. Lalu, kau? Ah, tentunya kau sudah bahagia atas pernikahanmu. Selamat!

Perkara menikah bukanlah perlombaan, namun kenyataannya untuk mencapai hari sakral itu; mempercepat diri untuk bersiap atau akan tertinggal dengan keterpurukan karena menunda dengan alasan belum siap. Dan aku akan selalu mempersiapkan diri untuk bersiap, untuk memantaskan menjadi seorang yang bertanggung jawab, dan itu bukan lagi kau. Aku belum mencoba untuk mencari penggantimu.

Masalah hati bukan perkara yang instan, karenanya aku sedang menata hati disini dengan sejuta luka yang masih menganga dan basah. Aku pergi, sendiri. Selamat tinggal.