Salah satu persiapan sebelum menikah adalah persiapan finansial. Salah satu poin dr 3 poin di bab ini adalah kita tidak berbicara tentang berapa banyak materi yang dimiliki oleh calon suami kita. Tapi bicara potensi dan kesungguhannya untuk bertanggung jawab sepenuhnya sebagai kepala keluarga.

Banyak hikmah yang sering saya dapat seputar poin ini dari para sahabat dan kerabat yang lebih dulu menikah. Namun ijinkan saya berbagi kisah tentang pengalaman pribadi saya.

Dulu suami menikahi saya saat beliau belum lulus kuliah, di usia 23thn. Saat itu beliau memang sudah berpenghasilan dengan aktifitasnya sesekali mengisi training- training mahasiswa atau memeriahkan acara dengan menjadi MC. Tapi bisa dibayangkan berapa penghasilannya. Tentu tidak bisa dikatakan besar.

Orang tua sempat tanya kepada saya saat itu : “Yakin mau nikah sama Mas Adri? Belum lulus kuliah, gak punya penghasilan tetap. Terus ntar kamu mau dikasih makan apa? Mending nikah aja sama si fulan anak teman mama itu, pekerjaannya sebagai dokter lebih menjanjikan.”

Hm.. Saya buang jauh-jauh pikiran bahwa orang tua saya materialistis. Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, tidaak ada orang tua yang menginginkan anaknya hidup susah. So, wajar kalau pernyataan itu meluncur dari bibir beliau.

Advertisement

Alhamdulillah, dulu sebelum menikah saya sudah suka baca-baca buku dan artikel seputar pernikahan. Jadi sedikit banyak punya argumenlah untuk menepis kekhawatiran beliau. Saya sampaikan saat itu dengan lembut,
“Ma, Pak Adri memang saat ini tidak berpenghasilan tetap, tapi insya Allah yang penting beliau tetap berpenghasilan. Saat ini memang gak punya gaji tetap, tp insya allah tetap punya gaji. Walaupun kami gak pernah pacaran, tapi saya lebih mantap kalau meneruskan proses ta'aruf dengan beliau, dari pada dengan anak teman mama yang dokter itu. Dia nggak sevisi sama aku, Ma. Ngerokok pula! Bismillah Ma, kalau memang Pak Adri yang dipilih Allah jadi pendampingku, aku tidak terlalu khawatir kesulitan ekonomi kedepannya. Aku yakin nikah itu mengkayakan. Yakin, karena itu janji Allah. Gak mungkin kan Allah mau ingkar janji?”

Bareng-bareng kami buka buku Ust. Salim yang mencuplik penggalan Quran surat An-Nur: 32 “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang- orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan
kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”

Kami juga buka cuplikan tentang hadist yg jangan menikah karena silau pada harta, jusru bisa jadi Allah akan percepat miskinnya. Begitu pula dg ketampanan dan keturunannya. Yg penting agama jadi patokan utama. Bisa tidak beliau jadi imam untuk saya? Layak tidak dia jadi ayah untuk anak-anak saya?

Alhamdulillah setelah itu orang tua ACC saya melanjutkan proses dengan beliau sampai akhirnya gerbang pernikahan itu nyata di dpn mata. Meski sempat mengalami kondisi sulit ekonomi, tapi kami merasa banyak campur tangan Allah disana. Misal, kami pernah ada dalam kondisi minim uang. Pernah hanya bisa beli telur 2 biji, beras 2 kg. Pernah juga “terpaksa” beli soto ayam di langganan kami yang hanya dengan uang 5000 bisa dapat kuah soto plus potongan ayam yang tidak sedikit. Kenapa beli soto? Biar kalau kuah sotonya habis, sisa potongan ayamnya bisa dicuci dan diolah lagi untuk bikin sop dan sebagainya. Tapi meski begitu, ada saja keajaiban yg terjadi. Pas-pasan kalau org bilang. Pas butuh, alhamdulillah pas ada. Adaaaa saja jalan keluarnya meski di detik-detik terakhir.

Begitu pula saat kami memutuskan pisah dari orang tua untuk belajar mandiri, 2 bulan setelah menikah, kami sempat bingung. Mau pindah kemana? Mau ngontrak rasanya nggak mungkin. Ngga ada uangnya kalau langsung bayar penuh di depan. Pilihannya cuma 1 : cari kos-kosan suami istri.

Tapi saat agenda training di Banyuwangi, ada peserta yang baru kenal di sana menawarkan rumah anak beliau untuk ditempati oleh suami dan saya karena sang pemilik sedang melanjutkan studi S3 di Australi bersama keluarga kecilnya. Kami tinggal bawa badan aja. Lingkungan nyaman, Rumah bagus, AC, mesin cuci, spring bed, cooking set, semua lengkap. Dan gratis ! Ma sya Allah, rasanya nggak percaya. Seneng pakai banget.

Tapi kami disana cuma sekitar 7 bulan, karena pekerjaan suami cukup jauh kalau harus dijangkau dari tempat tinggal pinjaman kami saat itu. Akhirnya kami pindah haluan, cari kos-kosan suami istri dibilangan Raya Prapen Surabaya. Kamar ukuran 3×4 plus kamar mandi dalam, menjadi catatan jejak perjalanan rumah tangga kami. Biar mungil tapi hangat. Apalagi ditambah kehadiran bayi mungil kami.

Sekitar 7 bulan juga kami menempati kos-kosan keluarga hingga akhirnya Allah beri rizki dari arah yang tak terduga dan bisa beli rumah sendiri (tanpa subsidi dari orang tua maupun saudara) di kawasan perumahan yang nyaman, 5 menit dari kampus ITS. Impian yang dulu kami pikir dan kami hitung, baru bisa diraih saat setidaknya sudah 10-15 tahun berumah tangga, tapi Alhamdulillah terwujud saat belum genap usia 2 tahun pernikahan.

Mohon maaf, tiada maksud sedikitpun untuk menyombongkan diri. Pencapaian ini bukan karena hebatnya kami, sama sekali bukan !
Tapi mutlak karena Rahmat dan karunia dari Allah. Cerita ini disampaikan semoga bisa makin meyakinkan kita bahwa janji Allah itu benar. Jangan pernah takut miskin karena menikah, karena Allah pasti memampukan.

Kadang suka sedih ketika dengar ada laki-laki yang sudah matang secara usia tapi menunda nikah karena gak yakin akan bisa menghidupi keluarganya. Pun begitu juga saat saya beberapa kali mengisi seminar pra nikah. Terenyuh saat mendapati justru banyak remaja putri yang tak siap berjuang dari nol, susah payah jatuh bangun di masa-masa awal pernikahan. Padahal ini masalah iman. Masalah keyakinan kita pada Allah yg telah berjanji akan memampukan mereka yg menggenapkan separuh agama.

Menikah : Tak perlu menunggu kaya, tak harus dengan yang kaya.
Menikahlah, maka kamu akan kaya

Moga yg belum yakin untuk menikah, segera Allah beri kemantapan hati dan kegigihan mempersiapkan serta memantaskan diri.
Moga kelak Allah pertemukan dengan permaisuri/pangeran terbaik, di waktu terbaik, dengan cara terbaik dan dalam kondisi terbaik.
Semoga rumah tangga kita semua Allah beri kelancaran rezeki, kebarokahan harta. Berkah berlimpah, hingga sanggup menebar kemanfaatan yang lebih luas dengan harta kita.
Dan yg paling penting, moga keluarga-keluarga kita bisa samara sampai berhimpun kembali di surga-Nya.

Insya Allah.