Lembayung senja tersenyum indah diantara genggaman tangan kita seolah spektrum warna melukiskan cinta samar-samar diantara dua hati yang sedang berbahagia. Bukan hanya cinta dua insan manusia yang menyatukan kita namun rasa nyaman hingga terjalin hubungan persahabatan yang membuatku merasa dekat denganmu sedekat urat nadi, saat itu tanpamu seolah jam dinding tanpa batrai yang tak mampu membuat jarum detik untuk berputar.

Langkah kaki kita di bibir pantai meninggalkan jejak yang ternyata lambat laun terhapus oleh desiran ombak yang kini hanya menyisakan memori yang tersimpan di pojokan cerita masa lalu. Relief tawa, canda kini sudah jadi bagian sejarah hidup kita yang tertulis indah dengan rangkaian kata. Mungkin bagimu cerita itu hanya main-main tapi kamu terlalu lama bermain di hatiku, bukan hanya sebulan dua bulan namun kau permainkan hatiku sejak tahun 2010,2011,2012,2013,2014,2015, hingga akhirnya awal 2016 kamu menemukan tempat yang kamu anggap terbaik di matamu sebagai pelabuhan hati. Ya tak apa, aku terima dengan lapang dada, karena aku tau mungkin kini saatnya aku tertluka agar aku bisa bersyukur saat berbahagia.

Dulu kita melangkah di jalan yang sama erat bergandengan tangan, berikrar janji sehidup semati, kini kita menjalani jalan hidup masing-masing melawan arus masa depan yang ntah apa yang akan terjadi, ntah apakah kita akan dipertemukan kembali oleh sang pecipta alam semesta di persimpangan jalan? atau kita akan selamanya menempuh jalan yang berbeda?. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Setidaknya terpisah denganmu membuat aku sedikit lebih dewasa, setidaknya kini aku tau yang ada digenggaman tangan kapan saja bisa terlepas. Setidaknya aku takkan berharap dengan manusia lagi karena sebaik-baiknya berharap hanya kepada sang pencipta.

Ya, aku akui kamu meninggalkan sedikit luka dan trauma akan cinta tapi tenang aku tak selemah ekspetasi mu, percayalah aku tegar mampu berdiri kokoh dan tersenyum, dan satu hal yang kamu tau, kamu bagiku tetap sosok yang baik walaupun kamu mencoba membuat aku untuk membencimu tapi maaf kamu tak berhasil. Aku tak pernah membencimu namun hnaya saja aku sudah sangat kecewa kepadamu hingga terkadang aku tak inign mengenalmu lagi.