Sakit dalam hati ini mungkin masih bisa ku bendung karena aku mencoba menghibur diriku sendiri atas kepergianmu yang serba mendadak, mengacaukan impian, menghancurkan segalanya yang terlihat indah karena kita membangunnya bersama. Namun, kemudian kepergianmu itu perlahan menyadarkanku bahwa kamu itu meninggalkan aku karena aku tak sadar, bahwa kamu pun akan bosan dengan cintaku yang terlampau jauh membawamu masuk ke dalam sebuah perjalanan yang datar dengan pemandangan yang sama, dengan kejadian yang sama dan setiap runtutan impian yang selalu sama bagimu. Akupun terbawa dan kemudian tak sadar aku telah terjebak dalam imajinasiku sendiri !

Imajiku bermain dan berlarian begitu bahagia ! betapa aku sangat menikmati diriku terikat erat dalam sebuah mimpi mimpi yang membawaku jauh melupakan kenyataan bahwa kita sebenarnya hanya mengulur – ulur setiap masalah yang menghampiri kita ! imajiku mengikatku begitu rupa hingga aku tak sadar bahwa kamu telah berjalan perlahan – lahan menjauh dariku.. membuka pintu bagi tamu yang bisa kapan saja mengunjungi pintu itu .. kamu membuka pintu yang akupun tak tahu dimana kuncinya tersimpan ..

Aku yang terjebak dalam angan – angan ku sendiri, anganku yang sedang takjub akan hubungan kita, kita yang menurutku pasangan yang hebat ! pasangan yang mampu menerjang segala masalah dan percaya akan pasangannya hingga tak pernah aku berfikir bahwa kamu akan meninggalkan aku, baik secara perlahan – lahan maupun secara langsung ! tak sedikitpun aku mengira kita tak akan pernah melanjutkan angan angan yang kita bangun, terkadang aku menjadi ragu, apakah hanya aku yang membangun angan indah di atas kepenatanmu bersamaku, aku yang tak pernah sadar bahwa memang kau mulai merasa lelah dan bahkan kau telah menyiapkan segala sesuatu untuk dapat menjauhiku. menghilang dari kehidupanku memang mudah, yang kau perlu lakukan hanyalah berjalan keluar dari setiap rutinitas yang aku jalani, melangkah menuju keseharian baru, kebiasaan baru yang berbeda denganmu, aku yang kala itu terseok bahkan kelu tak dapat berbuat apapun melihat kau pergi, mendengar kata – kata perpisahan darimu. Dan jika aku ingin untuk melupakannya pun pikiranku seolah terarah untuk selalu berbalik pada kenangan kenangan tentangmu !

“Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.” 
Dee Lestari

Dalam waktu aku terikat dengan angan angan ku sendiri bersamamu, dalam penat aku sesak merasakan hampanya jiwaku tanpa dirimu, di atas serpihan hatiku yang terpecah dan terkoyak aku mencoba melangkah dan membuat suatu langkah – langkah baru yang memang sulit sekali aku pahami, aku tak dapat memahami segala sesuatu dengan cepat kala itu. Yang aku tahu kala itu aku hanyalah seorang yang mencinta dengan seluruh hatiku kemudian hatiku yang utuh itu terhempas sangat jauh hingga serpihannya tak terlihat namun dapat menusuk siapapun yang tak sengaja melewatinya. Aku yang kala itu sangat ketakutan dengan hidupku tanpamu seolah berputar sendiri dalam ruang hampa yang kubangun sendiri.

Aku memang seorang pencinta yang telah jatuh cinta, dan aku tau bahwa Jatuh Cinta sangatlah berbeda dengan saat aku mengenal cinta yang penuh dengan nyala nyala bahagia, getaran getaran rindu, hingga debaran debaran kata indah yang selalu kubaca hingga kudengar hingga bosan. Jatuh Cinta yang aku rasakan kini memang berbeda, aku jatuh kemudian lupa caranya bangkit dan berdiri lagi melangkah keluar dan menuju masa bahagiaku kembali.

Advertisement

Setelah waktu membuatku sadar dan mengubahku, sebenarnya memang bukan hanya waktu yang menyadarkan aku betapa aku ini berarti dan berharga. Waktu secara perlahan menghantarkan aku pada pertemuan pertemuan baru yang memang memulihkan hidupku, hatiku, bahkan pikiranku tentang dirimu. aku yang dulu sangat mencinta kemudian sangat sulit untuk dapat percaya adanya cinta ini kemudian menyadari bahwa memang kamu pergi dariku dengan caramu sendiri. Kamu memilih pergi dariku, kamu bukan orang yang pantas untuk dapat menerima utuhnya cintaku, besaran cintaku untukmu tak dapat kau bendung hingga kamu memilih pergi dariku kemudian memilih takdir baru yang kamu percayai akan lebih baik dariku.

Kini aku mulai menyadari bahwa rasa sakit itu tak akan bertahan lama pada orang yang terluka, rasa itu akan berbalik menyakiti orang yang menghancurkan rasa cinta itu. Entah kapan, kamu akan mulai merasakan kehilangan sosok yang mencintaimu dan kemudian merindukannya. Pada saat kamu merindukannya, sosok tersebut menjadi senjata yang kembali berbalik menusukmu bahkan bisa lebih dalam lukanya menyakitimu sendiri.

Aku yang selalu mendoakanmu dalam setiap bahagia yang kau alami hingga kesulitan yang menghampirimu tak pernah kau anggap sebagai seseorang yang harus kau pertahankan, aku yang selalu berbuat segala cara untuk membuatmu bahagia, aku yang selalu memenuhi segala keinginanmu, aku yang selalu merawatmu, aku yang selalu merindukanmu, aku yang sangat sangat perduli padamu, hingga aku yang selalu berusaha yang terbaik untuk bisa merawatmu dalam segala tindakanku, bukan hanya dalam kata. Aku yang akan pergi menjauh darimu, mencoba terbiasa tanpa adanya dirimu, kemudian menyimpan segala kenangan kenangan yang telah kau lupakan. Apalah arti janji janjimu padaku, apalah arti setiap kata kata indah yang selalu aku percayai itu ? aku ! yang kini telah yakin untuk melupakanmu telah melewati waktu, membangun kembali ruang baru untuk hatiku, menjalin kembali hatiku yang terkoyak karena mencintai dirimu. aku yang kau rindukan itu telah pergi, aku tidak lagi mengharapkanmu ada di dalam hidupku, aku yang dahulu telah terkoyak dan membangun kembali segalanya seperti saat aku belum mengenalmu.

“Perpisahan dengan orang yang tidak ingin bersamamu selalu indah. Kalau belum terasa indah sekarang, pasti terasa nanti, saat kamu bertemu orang yang benar-benar ingin bersamamu.”
Lucia Priandarini,