Hai kamu yang sedang berambisi menjadi diri sendiri, tulisan ini khusus buat kamu.

Sampai saya menulis ini, masih ada banyak sekali orang yang salah kaprah dalam memahami istilah 'menjadi diri sendiri'. Menjadi diri sendiri, selama ini kerap hanya dipahami sebagai sebuah penerimaan atas kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Itu saja. Tanpa disertai upaya lain seperti berusaha memperbaiki kekurangan dan mempertahankan kelebihan diri sendirinya itu.

“Ini diri gue!”, “Ini aku!”, “Inilah saya apa adanya!”, kerap diucapkan dengan lantang sembari menepuk dada tanpa pernah melihat ke dalam. Ya, ke dalam. Dalam dirinya sendiri, yang sekarang.

Bagaimana jika kemudian pemahaman seperti itu dibantah dengan pertanyaan berikut,

“Kalau kamu hanya ingin menjadi diri sendiri, memangnya dirimu yang sekarang itu bagaimana?”

Advertisement

Sebuah pertanyaan telak bukan? Apa jawabanmu?

Menjadi diri sendiri tanpa diikuti upaya mengintrospeksi diri yang sekarang itu sama dengan bunuh diri. Karena itu artinya, kamu sama sekali belum memahami dirimu sendiri. Bagaimana mungkin hendak menjadi diri sendiri sementara kamu belum mengenal betul dirimu sendiri?

Pertanyaan kritis semacam itu juga layak dilontarkan pada orang yang selalu berkata ‘Ikuti kata hati saja” dalam setiap pengambilan keputusan. Tunggu dulu, hati yang sedang akan diikuti itu dalam kondisi bagaimana? Kalau hati yang akan diikuti itu dipenuhi dengan hal-hal buruk, maka dapat dipastikan hati tersebut akan mengarahkan pada hal-hal buruk pula. Namun akan berbeda misalnya, jika hati yang akan diikuti itu dalam kondisi yang sangat baik, maka arah yang akan diberikan pun akan sangat baik pula.

Menjadi diri sendiri memang penting. Namun dalam batas apa? Bahwa kamu adalah orang Indonesia, itulah dirimu. Bahwa kamu adalah orang Sulawesi, Papua, Kalimantan, Jawa, Sumatera, itulah dirimu. Bahwa kulitmu berwarna hitam atau putih, itulah dirimu. Bahwa kamu adalah orang yang cantik atau tidak cantik, itulah dirimu. Bahwa kamu adalah orang yang berbakat bermain musik, nyanyi, atau berakting, itulah dirimu. Bahwa kamu adalah orang yang berbakat bermain sepak bola, bulutangkis, itulah dirimu. Bahwa kamu adalah orang yang humoris dan bisa menghibur dan membahagiakan banyak orang, itulah dirimu. Bahwa kamu adalah orang yang bersahabat, itulah dirimu. Bahwa kamu adalah orang yang murah senyum, itulah dirimu.

Namun jika menjadi dirimu sendiri adalah dengan gemar berbohong, itu jelas bukan dirimu. Jika menjadi diri sendiri adalah yang gemar mabuk-mabukan, itu jelas bukan dirimu. Jika menjadi diri sendiri adalah dengan keras kepala tanpa pernah mau mendengar nasihat dari orang lain, itu jelas bukan dirimu. Jika menjadi diri sendiri adalah dengan memelihara kebiasaan ingkar janji, itu jelas akan merugikan orang lain. Jika menjadi diri sendiri dengan memelihara kebiasaan malas, jelas itu akan merugikan dirimu sendiri—juga kelak orang lain. Kamu tidak perlu ingin menjadi artis, sementara bakatmu sebenarnya adalah menjadi atlit. Kamu tidak perlu berambisi menjadi berkulit putih, sementara pada dasarnya kulitmu memang hitam. Kamu tidak perlu berambisi menjadi orang Korea, sementara kenyataannya kamu adalah orang Indonesia. Kamu tidak perlu berambisi menjadi orang yang terlihat kaya, sementara pada kenyataannya kamu bukanlah orang kaya.

Menjadi Diri Sendiri Dalam Batas Kebaikan

Ketahuilah, tak ada orang yang benar-benar bisa menjadi dirinya sendiri. Pasti ada pengaruh dari luar yang turut membentuk perilaku dan karakter seseorang. Bisa dari buku yang dia baca, tokoh yang diidolakan, di mana dia berada, atau dengan siapa dia berteman. Nah, pengaruh-pengaruh itulah yang harus diseleksi. Jika pengaruh itu datang dengan membawa segenap kebaikan, mengapa tidak? Jika memang demikian, maka wajarlah kalau kemudian diadopsi menjadi bagian dari diri sendiri. Namun jika sebaliknya, maka seseorang justru akan kehilangan jati dirinya.

Maka berhati-hatilah ketika kamu bilang ingin menjadi diri sendiri, sebab jangan-jangan kemenjadian dirimu sendiri itu tak lebih dari sekadar sebuah pembelaan atas perilaku burukmu sendiri.

Kamu percaya bahwa tiada manusia yang terlahir sempurna, kan? Nah, itulah yang seharusnya dijadikan pijakan. Dirimu sendiri yang sekarang itu belum sempurna. Sehingga diperlukan adopsi-adopsi diri yang lain untuk dipadukan menjadi bagian diri sendiri. Dan ingat, itu pun dengan syarat jika yang kamu adopsi masih berada dalam koridor kebaikan dan bisa membuat dirimu semakin mendekati sempurna.

Ingat, jika dengan menjadi diri sendiri justru tidak membawamu pada kebaikan, maka lebih baik menjadi orang lain tapi bisa membawamu ke arah kebaikan.

Demikian, selamat berusaha menjadi diri sendiri–sambil memperbaiki diri.