Siang itu, aku masih menghabiskan waktuku berdiam diri di dalam kamar. Melakukan hal-hal yang seharusnya sudah tuntas sejak beberapa bulan yang lalu. Hingga akhirnya aku lelah dan memilih melenturkan otot-ototku sejenak sambil memandangi langit kamar. Saat itu tiba-tiba pria kesayanganku masuk dan turut rebahan di sampingku. Sambil sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing, suara lirih itu memecah lamunanku.

“Sayang, ayah selalu berdoa untukmu. Semoga kelak kamu akan dipertemukan dengan pria yang dapat memperlakukanmu sebagaimana ayah memperlakukanmu. Semoga kelak dia akan selalu melindungi dan membahagiakanmu”

Sontak aku kehilangan kata-kata mendengar kalimat magis itu. Melihat seseorang yang sangat aku hormati dan sayangi tengah mendoakanku setulus hati seperti itu, membuatku susah payah mengatur napas dan menahan isakanku. Oh Ayah, dimanakah aku bisa menemukan pria sepertimu? Dan adakah pria sebaik dirimu yang bersedia menjadikanku pendamping hidupnya?

Kau tahu Ayah, mendapatkan suami sebaik Engkau memang merupakan hal yang selalu aku idam-idamkan. Tapi Ayah, apakah putrimu ini sudah cukup pantas untuk mendampingi pria (yang semoga bisa) sehebat dirimu kelak? Adakah pria yang bisa memaklumi semua sifat kekanakan putrimu ini, melebihi semua yang Kau lakukan Ayah? Dan jika memang ada Ayah, kemanakah putrimu ini harus mencarinya? Aku tahu Ayah, seperti katamu semua ini hanya proses. Seperti Engkau yang selalu percaya bahwa putrimu ini merupakan putri yang baik, aku pun akan percaya Ayah. Aku akan percaya, bahwa kelak akan ada pria baik yang bersedia mengambil semua tanggung jawab itu dari pundakmu. Untuk menjagaku, untuk menyayangiku, untuk mengarungi sisa hidup bersamaku. Kalaupun ternyata dia tak sebaik dirimu Ayah, aku mohon maklumilah. Aku tahu bagi seorang Ayah melepaskan putrinya kepada seorang pria bukanlah hal mudah. Aku tahu pasti perlu pemikiran yang matang hingga nanti Engkau akan mempercayakanku pada pria pilihanku. Maka untuk itu Ayah, teruslah mendampingiku kelak. Ajarkan semua kebaikan yang Kau miliki pada priaku kelak. Tetaplah menjadi Ayah terhebatku, agar kelak aku bisa tak hentinya membanggakanmu pada priaku. Menceritakan padanya sehebat apa dirimu. Dan aku akan membisikkan dengan lembut padanya,

“Pria hebat itu telah memilihmu untuk menjaga putri kesayangannya. Dan dia percaya, bahwa kamu akan menjadi sehebat dirinya”.