Dalam sebuah pertempuran, sniper atau penembak jitu, adalah tentara yang vital perannya. Ia tak hanya bertugas menghajar objek-objek dari musuh yang dianggap penting. Tapi juga untuk menggetarkan mental bertempur lawan. Sebab keberhasilan seorang sniper, bisa meruntuhkan daya juang para serdadu lawan.

Apalagi jika yang berhasil ditembak sniper itu adalah tentara yang punya posisi penting. Misalnya perwira atau komandan pasukan. Dan Indonesia, punya sniper legendaris. Namanya Tatang Koswara. Kehebatannya sebagai sniper diakui dunia. Dalam buku," Sniper Training, Techniques and Weapons" yang ditulis Peter Brookesmith, Tatang jadi salah satu sniper terbaik dunia. Ia ditempatkan di posisi 14 sniper terbaik dunia.

Namun republik ini, punya kisah pahit di medan tempur yang diakibatkan ulah sniper lawan. Tercatat, ada dua perwira penting di tubuh tentara republik yang pernah jadi korban sniper lawan. Bahkan dua perwira ini bisa dikatakan adalah prajurit terbaik. Siapa perwira tentara republik yang jadi korban peluru penempak gelap? Mari simak cerita tentang kisah Kisah dua perwira TNI yang jadi korban sniper.

Slamet Riyadi adalah salah satu prajurit terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Belanda, saat menjajah Indonesia, terutama dalam fase agresi militer II, mengakui kehebatan Slamet atau biasa dipanggil anak buahnya Pak Met. Beberapa perwira Belanda merasakan betul cerdik dan cerdasnya strategi bertempur yang dijalankan Pak Met bersama pasukannya. Padahal ketika itu, usia Pak Met masih sangat muda. Tapi walau muda, Pak Met jadi komandan tempur yang disegani lawan.

Salah satu kisah kehebatan Pak Met saat menggempur tentara Belanda terjadi di Solo, di masa agresi militer II. Agresi ini dilancarkan Belanda sekitar tahun 1948, beberapa tahun usai Soekarno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, di Jakarta.

Advertisement

Pertempuran Solo terjadi pada 7 Agustus 1949. Ini medan laga dahyat. Empat hari, empat malam, pasukan republik bertempur melawan serdadu Belanda. Pak Met, inisiator serangan tersebut yang kelak dikenal sebagai 'serangan umum Surakarta'. Tidak hanya sebagai inisiator serangan, Pak Met juga turun ke palagan. Ia pula yang Meracik strategi dalam menggempur tentara Belanda. Serdadu Belanda pun kerepotan dihajar terus menerus oleh pasukan republik. Akhirnya terjadi gencatan senjata.

Nah, saat prosesi gencatan senjata itulah terjadi kisah 'lucu'. Ketika itu perwira Belanda yang jadi pemimpin dalam proses gencatan senjata sempat kebingungan. Ia bingung, siapa yang ditunjuk sebagai wakil tentara republik. Saking bingungnya si perwira Belanda, sempat menanyakan, siapa yang jadi pemimpin perundingan Indonesia. Padahal perwakilan dari tentara Indonesia sudah ada di ruangan perundingan. Bahkan Pak Met, telah ada di dekat si perwira Belanda. Si perwira kian kaget, ketika akhirnya dia tahu, yang ia lawan di medan tempur adalah Pak Met, prajurit yang ia pandang hanya anak muda 'bau kencur'. Tapi setelah itu, si Perwira menaruh hormat pada Pak Met. Ia tak menyangka, tentara 'ingusan' itu yang membuat pasukannya kerepotan sedemikian rupa. Empat hari, empat malam, pasukannya kelimpungan menghadapi pasukan yang dipimpin Pak Met.

Tahun 1950, di Maluku terjadi pergolakan. Pasukan pimpinan Andi Anzis, melakukan perlawanan pada pemerintah Indonesia. Bersama Christiaan Robbert Steven Soumokil atau Dr. Soumokil, Andi memproklamirkan Republik Maluku Selatan (RMS). Karena dinilai bentuk makar, maka pemerintah bertindak tegas. Operasi militer pun digelar. Di bawah pimpinan Kolonel Kawilarang dan wakilnya Letkol Slamet Riyadi, pasukan republik dikirim ke Maluku.

Pertempuran pun pecah dan berlangsung sengit. Pasukan RMS dapat dukungan dari para tentara jebolan KNIL. Tidak hanya itu, diduga sejumlah pasukan khusus Belanda ikut terlibat. Namun, setelah melalui beberapa pertempuran sengit, tentara republik mulai menguasai keadaan.

Di palagan Maluku itulah, pasukan Pak Met sempat kerepotan. Saat itu, Pak Met merasa tentara Indonesia membutuhkan sebuah satuan kecil pasukan dengan kemampuan komando yang bisa bergerak lincah dan taktis dalam bertempur. Semua itu oleh Pak Met dituangkan lewat buku hariannya yang ditulis tangan. Kelak, apa yang Pak Met tuliskan, menjadi embrio dari pembentukan pasukan khusus Indonesia. Konsep Pak Met, kemudian ditindaklanjuti oleh Kolonel Kawilarang, atasannya. Sejarah pun mencatatkan, Indonesia akhirnya punya pasukan khusus. Pak Met punya jasa besar dalam merumuskan konsep awalnya. Sementara Kawilarang berjasa karena dia yang mengeksekusi konsep tersebut hingga jadi kenyataan.

Nah, salah satu pertempuran yang paling sengit adalah saat merebut Benteng Victoria yang dikuasai pasukan RMS. Pasukan pimpinan Pak Met yang terlibat langsung dalam baku tembak dengan tentara RMS. Sampai kemudian pasukan Pak Met, menguasai keadaan. Tapi Benteng Victoria yang akhirnya dapat direbut jadi saksi bisu berakhirnya perjalanan sejarah Pak Met. Ia gugur oleh peluru yang ditembakan sniper 'RMS'. Ketika itu, tentara republik sudah berhasil merangsek hingga mulai menguasai Benteng Victoria.

Di dekat benteng itu pula, peluru sniper menyambar Pak Met yang tiba-tiba keluar dari dalam panser yang dinaikinya. Ketika keluar dari panser itulah, peluru sniper menyasar Pak Met. Pak Met pun tersungkur. Nyawanya tak bisa diselamatkan. Padahal saat itu, usia Pak Met baru 23 tahun. Masih sangat muda. Dan, Pak Met juga saat itu belum menikah alias masih bujangan. Pak Met sendiri lahir pada 26 Juli 1927. Pak Met di makamkan di Ambon, sesuai wasiatnya ingin dikuburkan dimana ia bertugas.

Perwira lainnya yang gugur di medan tempur, karena peluru sniper adalah Atang Sutisna. Kisah gugurnya Atang, terjadi ketika Indonesia memutuskan operasi militer ke Dili Timor-Timor pada 7 Desember 1975. Atang, perwira Kopasandha (Kopassus-red), adalah salah satu yang diturunkan untuk terjun langsung ke Dili, Timor-Timur. Ia memimpin Tim Nanggala-5 atau Tim A.

Hanya dalam tempo 7 jam, setelah mengalami pertempuran sengit dengan tentara Fretilin, pasukan TNI yang diterjunkan dari beberapa pesawat dan didukung serbuan dari arah pantai, akhirnya bisa menguasai Dili. Saat itu terjadi pertempuran yang brutal. Banyak prajurit TNI yang gugur. Salah satu pertempuran yang sengit terjadi saat pasukan TNI coba merebut sebuah bangunan yang dijadikan benteng pertahanan Fretelin.

Bangunan itu kelak dijadikan kantor Gubernur Timor-Timur, ketika provinsi itu resmi jadi bagian Indonesia. Tim Nanggala-5 pimpinan Mayor Atang yang ditugaskan merebut gedung tersebut. Baku tembak terjadi. Pasukan TNI, berhasil menguasai keadaan. Fretelin terdesak. Sampai suatu ketika dari sebuah bangunan, sniper Fretelin membidik Atang. Atang pun terjengkang disambar peluru penembak gelap. Dan gugur.