Dulu saya mengira, menjadi teman yang baik adalah melakukan segala hal untuk kebaikannya menurut apa yang saya pikirkan. Saya dengan watak keras kepala sering dengan sengaja menyatiki teman saya sepeti : Saya marah ketika ada hal yang tidak seharusnya dilakukan, saya sedih ketika teman tidak memperlakukan saya dengan apa yang saya harapkan. Walaupun, begitu saya orang yang paling totalitas menolong teman yang sedang kesusahan. Karenanya dari sekian banyak calon teman, loloslah beberapa teman yang setia bersama saya walaupun ia pernah tersakiti oleh ucapan dan tingkah laku saya dan lahirlah gelar baru bagi mereka adalah “Sahabat”. Dengan segala kelebihan dan kekurangan saya, mereka tetap ada dan menjadi teman setia bagi saya yang tempramental ini.

Saya diam-diam sering mempelajari bagaimana caranya agar menjadi lebih baik. Dan dari pengamatan sosial yang saya lakukan, timbullah teori dan pemahaman baru dalam berteman untuk saya jajaki saat mengenal lingkungan baru. Saat menemui lingkungan baru dan saat sudah siap dengan pemahaman yang saya anggap matang, saya praktikan pemahaman saya dan ternyata saya masih harus belajar. Dalam lingkungan baru, saya belajar dari nol lagi. Belajar memahami bagaimana menjadi yang terbaik bagi si A, bagaimana menyelesaikan masalah bagi si B, bagaimana agar hidup si C lebih baik. Sungguh saya memikirkan itu semua walaupun kalian tidak menyadarinya.

Saya sering mengalami konflik saat sedang memasuki lingkungan baru. Semangat untuk menjadi diri yang lebih baik sirna saat kita harus belajar, belajar dan belajar lagi. Teori dan pemahaman tentang kehidupan sosial pertemanan sirna sudah. Setelah satu tahun lamanya, baru saya bisa memahami lagi dan melakukan semaksimal mungkin untuk menjadi teman yang baik.

Masa-masa kuliah adalah masa-masa yang paling saya suka. Dimana teman-temannya hampir setipe dengan saya. Dan saat kuliah itu juga saya merasakan bahwa ya ini adalah dunia saya mereka adalah teman-teman saya. Benar-benar terbaik !!!

Saat lulus kuliah, lagi-lagi saya harus menjalani masa adaptasi yang menyebalkan saat diterima dalam pekerjaan. Pertama saya bekerja di sebuah pabrik tekstile dengan situasi yang mengharuskan saya untuk cepat beradaptasi. Bagaimana bisa? Hal itu tidak mungkin bisa saya lakukan? Semua butuh proses dan tidak mudah menjalaninya kan? Sampai akhirnya sepuluh hari bekerja, saya keluar dan menyerah. Saat itu saya juga masih mengira bahwa merekalah yang tidak benar.

Advertisement

Setahun kemudian, saat saya sudah mencoba melamar lagi ke banyak perusahaan dan tes CPNS dan semuanya gagal. Saya diterima disuatu lembaga sosial. Ya, saya senang saya senang sekali karena akhirnya bisa bekerja juga dan itu saya angap sebagai pengabdian saya sebagai seorang manusia untuk beribadah kepada Allah dan mahluknya yang membutuhkan. Disana saya langsung disambut hangat oleh teman-teman sesama Amil. Saya pikir saya bisa dengan cepat mendapatkan teman disini. Awalnya saya memiliki teman, teman bekerja juga teman bermain. Dan saya jga mengira bahwa memperlihatkan aslinya saya tidak apa karena mereka akan mengerti. Dan ternyata teori itu salah…

Dan dari sanalah saya mengalami banyak konflik batin dan perang pemikiran dalam otak saya bagaimana seharusnya saya bersikap? Bagaimana seharusnya saya berpikir? Bagaimana seharusnya saya dll. Dari semua itu, ketika saya tak lagi bekerja disana, saya sadar. Saya adalah ornag yang teramat egois, orang yang tidak pernah mendengarkan orang lain, ornag yang selalu tidak ingin paham atas pemkiran orang lain. Saya sadar saya telah lupa bahwa manusia di bumi ini beraneka ragam dengan segala jenis kepribadan mereka. Dan kita tidak bisa menyamakan semua ornag itu sama.

Sebenarnya untuk menjadi teman yang baik itu tidak sulit. Pertama kita harus mendengarkan, dan mencoba memahami mereka dengan segala keluh kesah mereka. Sedih kah? Bahagia kah? Kecewa kah? Rasakan perasaannya hingga kamu merasakannya juga. Tatap matanya agar ia mengerti bahwa kamu juga ada disisinya saat ini. saat mungkin dunia kejam padanya, katakan padanya dengan pelukan bahwa kamu ada disisinya. Peluklah ia seakan kamu berkata “ semua akan baik-baik saja “. Kita memang tidak bisa mengubah dunia, tapi kita akan selalu ada untuk memperbaiki perasaan sesama teman.

Teori saya yang pertama juga tidak salah, hanya saja kita harus memahami betul-betul apa yang sedang dirasakan oleh teman. lalu lakukanlah semampumu agar keadaan temanmu menjadi lebih baik.

Selamat berteman.