Rasa yang dititipkan Tuhan kepadaku

Aku berhenti tepat disebuah gang kecil, ketika awan mulai menutupi dan senja mulai bertebaran. Tak lama setelah itu, sebutir rasa telah jatuh ke lantai hatiku. Rasa yang dititipkan Tuhan kepadaku. Menetes ke dalam hati, memandang sisa tangisan langit yang membuat hatiku basah tak karuan.

Aku berjalan, menuntun rasa yang memberikan kenyamanan. Dan rasa itu hanya untukmu. Rasa untukmu biar kusimpan dalam-dalam. Jauh dilubuk hati biarkan tersimpan rapi dalam peti memori. Tak akan ku biarkan seorang pun mencuri peti memori yang telah ku kunci.

Aku tak ingin mengatakan aku cinta padamu. Biar ku titipkan kalimat itu pada bentangan langit biru. Kamu tak perlu tau itu. Kelak jika telah tiba waktu ketika kamu dan aku telah sama-sama siap mungkin barulah aku menyatakannya padamu. Setelah Kamu dan aku sama-sama telah selesai mencari. Setelah aku dan kamu sama-sama telah memperbaiki diri.

Saat ini, biarlah aku mencintaimu, mengasihimu, menyayangimu serta mendoakanmu dari kejauhan. Tanpa Kamu tau aku ingin melihatmu tetap mekar dan berseri yang terus berkembang dan mendapatkan yang terbaik di masa depan.

Advertisement

Aku sudah cukup bahagia manakala seyuman menjadi penghias sehari-harimu, keceriaan menjadi warnamu dan ketentraman mengaliri denyut nadimu. Teruslah jadi dirimu, raih apa yang selama ini kamu impikan.

Aku akan sangat bahagia melihatmu semakin bijak dan semakin dewasa menjadi seseorang yang dicinta oleh banyak manusia. Mencintaimu membuatku semakin sadar bahwa aku hanya manusia biasa yang tidak sanggup melawan naluri.

Hari ini aku menyadari bahwa cinta bukan sekedar tentang kebahagiaan, cinta juga adalah sumber luka hati. Hari ini aku menyadari cintaku bertepuk sebelah tangan. Rinduku hanya terpendam. Dan kasih ku tak terbalas. Aku hanya menunggu yang akan hilang.

Aku bersyukur untuk cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sebab dengan itu aku mengerti bahwa bukan kehendakku yang berlaku di dunia ini. Kehendak Tuhan lah yang pasti terjadi.

Aku tidak merisaukan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Tapi aku risau jika tidak mampu mencintaimu dengan ketulusan. Aku ingin melepaskan rasa ini. Mencintamu membuatku sadar bahwa aku hanya manusia biasa yang tidak sanggup melawan naluri dan hasrat dalam diri.

Sekarang, aku akan menjaga rasa yang dititipkan Tuhan kepadaku. Hingga entah, hingga lelah.