Aku dan mereka dulu adalah sahabat yang sangat dekat. Sahabat yang selalu ada, tidak peduli situasi, kondisi dan sepertinya juga nasehat orangtua. Meskipun aku tahu, tidak mendengarkan nasihat orangtua adalah salah.

Sekumpulan cewek-cewek ABG yang pada waktu itu masih mencari jati diri. Dan memang dalam masa pencarian itulah semua terasa menyenangkan karena kebersamaan yang tidak terpisahkan. Dan kemudian, tiba di mana aku menemukan titik yang menurutku benar. Ya, jati diriku. Dan rasa bersalah pada orangtuaku.

Semua terasa berbeda. Bahkan dalam diriku pun berbeda sejak saat itu. Rasanya seperti melompat jauh ke arah jingga sang surya kala terbenam. Sama seperti persahabatan ini. Aku seakan menghilang dari kalian. Dan jauh.

Aku tidak menyesal, karena memang ini arus yang harus kita lalui. Berpencar kedelapan arus yang berbeda menuju muara masa depan yang diimpikan. Bagiku, waktu itu adalah sebuah kekecewaan yang besar tapi kini semua itu hanyalah sedikit pelajaran dari perjalanan hidup.

Dan tersimpan rapi dalam memori kehidupan kita masing-masing. Kita memilih perbedaan yang mengagumkan. Dan tentu saja tidak terlupakan. Karena petualangan itu membawaku menjadi pribadi yang siap menghadapi dunia yang sesungguhnya.

Advertisement

Masing-masing dari kita kini sudah melewati jalan penuh liku menuju impian. Yang tersisa kini hanya jejak-jejak langkah kaki yang tidak tersapu ombak. Dan menjadi saksi yang tidak bersuara dari perjalanan yang mengesankan. Aku bersembunyi dan siap untuk menyatukan arus kita menuju muara yang sama lagi. Persahabatan.

Meskipun aku tahu, kita tidak akan bisa sedekat dulu.