Tak terkecuali saya, situasi di mana kita harus jeli untuk lebih memilih hati atau pikiran bahkan memilih untuk menyeimbangkan keduanya.

Pergi berlalu pun seperti menunggu, hati terpaksa merawat sendiri lukanya. Dengan merelakan segala yang pernah kita anggap sebuah pertemuan menjadi sebuah kehilangan yang percuma..

“aku yg pergi atau kau yg meninggalkan, samasama luka”– bukan begitu?

tp…. pada “akhirnya yang benarbenar harus kita mengerti adalah kau harus pergi, dan aku terus melangkah tanpa menoleh lg”

kadang “pergi adalah jawaban doa sebelum kau patah hati dan aku terluka lagi…”

Advertisement

perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.

“barangkali takdir serupa koin yg Tuhan lempar keudara dan kita layaknya dua orang penjudi yg menunggu hasilNya”

“di air yang keruh pun ikan-ikan tak pernah berhenti berenang syang… kadang kita tak diberi pilihan selain bertahan”

saya sempat termenung melihat salah satu adegan diorangeTv “NAT geo Wild” di mana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannya dengan alami. Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap kekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari, manusia dengan segala macam cara juga menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan berhenti…

"Semua pny waktunya, waktu pny semuanya”

Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami:

memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama.. jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa..

“Jika diantara miliaran manusia Tuhan pny alasan kenapa kau dan aku dipertemukan, barangkali Tuhan jg pny alasan mengapa kau dan aku dipisahkan”

+++ Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya…