Mencintai dan mempercayakan hati sekaligus cinta pertama untuk seseorang seharusnya membutuhkan proses dan waktu lama. Kenyataannya, aku dengan mudahnya malah jatuh hati kepadamu. “Hei Kamu, ya kamu Mr. A, kamu yang hadir di 1 Mei, apakah kamu masih ingat denganku?”

Kamu telah berani hadir di waktu yang tak pernah kuharapkan, dan situasi yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Kamu mampu membuatku terlena dan menjadikanmu sebagai cinta pertamaku. Tanpa kesulitan dan keberatan, hatiku menerima dirimu tanpa alasan. Padahal aku sudah berhati-hati untuk tak meletakkan hatiku dan berharap cinta pertamaku itu hanya untuk satu orang di masa depan yakni imamku (suamiku).

Namun sayang semua sudah berakhir, aku sudah terlena dengan sikapmu. Sekarang cinta pertamaku hancur dan semua sudah terlanjur . Aku jatuh cinta dan terluka! karenamu. Tak bisa aku pungkiri, harus berjuang memperbaiki hati yang terluka karena cinta pertama, itu sangat sulit! Entah sampai kapan, akan bertahan tapi hati ini benar-benar sudah terluka. Kalaupun nanti kamu kembali semua sudah berbeda.

kaca sudah pecah tidak akan bisa utuh kembali."

Begitupun hati ini sekali sudah engkau beri goresan sampai kapanpun goresan itu akan tetap membekas. Kamu memang hanya sepenggal episode yang singkat dari cerita kehidupanku, namun episode itu telah dapat memberikan bekas yang dalam hingga aku berani meletakkan hatiku ini kepadamu. Aku terlalu percaya kepadamu, hingga aku sendiri yang terluka.

Advertisement

Ya, aku paham, hadirmu dipertemuan kedua kita meski tak secara langsung seperti pertemuan pertama kita sewaktu SMA. Kali ini entah angin dari mana, kita kembali dekat meskipun sempat vakum satu tahun. Aku malah mulai mencintaimu di situasi yang tak seharusnya.

“Apa yang dapat aku lakukan ?”

Ketika hatiku harus memilih komitmenku atau rasaku kepadamu. Jujur, Waktu itu aku sangat bingung. Aku khawatir di hatiku, kalau aku akan kehilanganmu. Akhirnya, kuceritakan kepadamu, “aku punya komitmen yang harus aku selesaikan jika ada seseorang yang menyayangiku diharus menungguku selama 3 tahun.” Alih-alih supaya aku tak kehilangan cinta pertamaku dan dapat selesaikan komitmenku dan kamu ungkapkan jawabanmu.

“Tenanglah, tiga tahun tidak lama, jika harus menunggu!” Kalimat tampak jelas aku dengar darimu. Dan kita makin dekat hingga kamu umbar janji, bahkan kata kangen hingga kau ceritakan tentang masa depan denganku. Namun semua hanya omong kosong. Nyata, kamu pergi tanpa alasan, tapi kamu tinggalkan janji yang tak kamu tepati.

(Taukah kamu dasarnya itu kode kerasku)”

Aku memilih menceritakan komitmenku kepadamu karena aku percaya kepadamu, kalau kamu akan tetap ada untukku. Sayangnya semua firasatku salah hingga sekarang kamu pun tak kunjung ada kabar.

(bersambung 1/2)