Kita perlu banyak minum kopi untuk memahami lebih jauh tentang Indonesia. Tidak semua orang (Indonesia) itu tahu dalam mendedah suasana riuh yang belakangan ini marak terjadi. Ya, peristiwa yang sarat dengan nuansa politisnya, muncul bagai banjir bandang. Tidak main-main, isu sentral yang diusung membawa nama agama. Soal yang satu ini, Indonesia sudah khatam betul. Bahkan, saking khatamnya atas kondisi sosiologis dan psikologis massa, mudah saja bagi sebagian orang menggunakan instrumen ini untuk mengeruhkan air. Dan, apa yang terjadi, sudara-sudara? Bola panas meliar. Wajah-wajah suci terbakar olehnya hingga gosong berbuah amarah. Pikiran langsung disergap kebencian, lantas diimplementasikan lewat bahasa. Luar binasa!

Media sosial seperti facebook, twitter, whatsap, instagram, diseraki sampah berupa caci maki dan sumpah serapah. Seperti barang obral, ucapan banal nan bajingan memenuhi beranda masing-masing. Apa sebenarnya yang terjadi? Bagaimana persoalan seperti ini tiba-tiba menderas jadi banjir? Sebegitu rendahkah orang Indonesia sampai-sampai gampang terpengaruh dengan hal-hal yang berbau provokasi atau sejenisnya? Pertanyaan demi pertanyaan itu tidak lantas dijawab di sini. Tapi, lagi-lagi, perlu didedah lebih dalam sumber perkara kenapa sampai demikian.

Kita, orang Indonesia, terkenal sebagai wilayah penghasil kopi terbaik. Beberapa daerah seperti Aceh, Gayo, Tanah Toraja, Flores, dan lainnya, berhasil menuliskan namanya di pentas perkopian dunia lantaran rasa kopinya yang mantap. Kita, orang Indonesia, terkenal sebagai pecandu kopi tingkat tinggi. Hampir di setiap keluarga pasti salah satunya yang punya kebiasaan nyeruput kopi. Kita, orang Indonesia, terkenal dengan warung kopinya (segala bentuk). Makanya, jangan heran, bila warung kopi selalu ramai oleh orang Indonesia. Bukan berarti di masing-masing rumah tidak ada kopi atau tidak disediakan kopi. Tetapi, kebiasaan nyangkruk di warung kopi sambil menyeruput kopi dan ngobrol ngalor-ngidul sudah mendarah daging. Disebut tradisi juga boleh.

Sayang, tradisi minum kopi ini ternyata bertolak belakang dengan kenyataan bahwa hakikat kopi selain rasa, juga ditopang oleh suasana yang ada di tempat tersebut. Saat ngopi, misalnya, kehangatan tumbuh seiring obrolan yang berlangsung. Apa saja itu. Kebersamaan dalam satu meja, tawa renyah diselingi seseruput kopi, sesungguhnya muncul bukan karena kepamrihan. Suasana itu hadir apa adanya, tanpa dibuat-buat. Bahwa, itulah potret Indonesia yang sebenarnya. Siapa saja yang duduk satu meja akan dipandang sama. Tidak peduli, apakah anda dosen, pejabat, tokoh agama, atau siapapun itu, selama kontak obrolan berlangsung, semua setara. Dan, itu sudah menjadi tradisi. Sekali lagi, tradisi yang datang dari rahim kultur orang Indonesia.

Atas pertanyaan tadi, sebelum dijawab, perlu diluruskan terlebih dahulu. Ini penting, untuk menghindari kesalah pahaman soal siapa orang Indonesia yang dimaksud. Jangan sampai paradigma berpikir, bertindak, dan mengambil kesimpulan itu sama dengan orang-orang dari luar Indonesia. Mereka berkata di Indonesia telah terjadi peristiwa demo besar-besaran. Pertanyaannya, siapa yang mendemo? Ya, orang Indonesia. Lah, demonya di Jakarta. Yang melakukan orang Jakarta, kenapa yang di Aceh, di Papua juga ikut terkena juga?

Advertisement

Untuk itu, sebagai orang Indonesia, perlu memperbaiki bangunan berpikir kita agar jangan sampai terperangkap dalam kesalah kaprahan, apa lagi sampai sesat pikir. Itu bahaya, sudara!

Orang Indonesia yang belakangan gencar hadir menggeluti "profesi" sebagai tukang demo, tukang caci-maki, tukang menyembur sumpah-serapah, adalah mereka yang selama ini jarang minum kopi. Bahkan, barangkali menyebut kopi sebagai minuman yang lebih banyak mendatangkan mudhoratnya tinimbang manfaat. Mereka-mereka ini adalah sekelompok manusia Indonesia yang mengeksklusifkan diri dari bacaan, dari obrolan. Istilah Jawanya, dolan kurang adoh, mulih kurang bengi (jalan kurang jauh, pulang kurang malam).

Mereka baca, tapi hanya sebatas judulnya saja. Mereka baca, tapi dari sumber bacaan yang diragukan keabsahannya. Mereka baca, tapi rerata berita hoax dari media abal-abal. Intinya, mereka baca tapi tidak ditemani kopi. Mereka, orang Indonesia tadi, lebih percaya pada kata-kata orang yang ditokohkan. Soal benar salah tidak dipedulikan. Disuruh terjun ke jurang, insya Allah pasti dituruti juga.

Kendala terbesar dari negara sebesar Indonesia ini memang terletak pada masih rendahnya kualitas sumber daya manusianya, di mana belum terbiasanya budaya kritis yang elegan. Kita bertanya dan jawaban yang diterima tidak lantas diterima sebagai kebenaran mutlak, melainkan perlu ditelusuri lebih jauh tentang dasar kebenarannya. Sifat skeptisme sebagai perwujudan dari ciri manusia modern berwawasan luas mestinya sudah harus ada, minimal di kalangan tepelajar di Indonesia. Tapi, apa lacur? Alih-alih mengajak mereka berdialektika, yang ada malah kita dituduh liberal, sekuler, dan istilah tetek-bengek lainnya. Kan, runyam jadinya.

Kita memaklumi ini merupakan hasil dari kegagalan membangun sistem pendidikan kita selama ini. Pendidikan tentang kopi terutama, yang tidak ada sama sekali dalam kurikulum selama ini. Apa itu? Nilai-nilai kearifan lokal Nusantara yang luput dari perhatian. Baiklah, secara teori, ada bidang khusus dalam kurikulum, tapi pada praktiknya? Nol sebesar bumi bisa saya cantumkan di sini. Maka, tidak heran, keluaran-keluarannya adalah mereka yang otaknya bersumbu pendek; disumut langsung meledak. Bah, macam mercon saja!

Mama Pertiwi tidak bisa hanya dilihat dari satu perspektif semata, Jawa misalnya, atau Islam. Sudara harus melihatnya dari berbagai sudut: dari Aceh, Papua, Flores, dan sebagainya. Jika sudah demikian, peristiwa-peristiwa yang melukai hatinya Mama Pertiwi mustahil terjadi, Isu seputar SARA tidak akan betah berlama-lama di negeri Kathulistiwa ini. Tidak mempanlah ceritanya. Sebabnya, masyarakat yang tinggal di dalamnya sudah paham betul bahwa bumi tempatnya tinggal berbentuk bulat dan yang ada di sekelilingnya adalah warna lain yang mencipta pelangi. Sederhananya, jika pelangi yang membentang sehabis gerimis itu indah, maka sudah barang tentu pelangi kemanusiaan yang kita rangkai dalam kerangka heterogenitas lebih indah dari itu. Lantas, nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Mari seruput kopi dulu, Bung!