Setiap dari kita pasti punya titik terlemah.

Beberapa di antaranya mungkin menyadarinya saat berada di ketinggian luar biasa dan tak berani mellihat ke bawah. Beberapa lainnya mungkin merasakannya saat berdiri di depan banyak mata dan harus bicara meski hanya sepatah kata. Beberapa ada juga yang mengalaminya ketika harus berjalan di tengah malam dan terlalu takut untuk menoleh ke belakang, Dan tak terkecuali, mereka yang menemukan titik terlemahnya saat pulang ke rumah, seorang diri, bersambut gelap dan hanya suara derit pintu juga saklar lampu.

Setelah seharian penuh mereka berusaha untuk menyibukkan diri yang tak cuma raganya saja, tapi juga isi kepala. Mereka berharap dengan hiruk-pikuk kegiatan bisa membunuh keheningan dan menyumbat ruang-ruang kosong di dalam diri mereka, di pikiran mereka. Mereka ingin dengan memikirkan setumpuk ‘apa yang akan kulakukan besok’ bisa mematikan setan-setan yang selalu mencoba untuk membisikkan sesuatu. Tapi sayang, mereka lupa, ada 24 jam dalam satu rotasi hidup mereka. Mungkin mereka bisa menyiasatinya dengan strategi-strategi kacangan macam barusan—hanya untuk 10 jam dalam satu hari.

Lalu, bagaimana dengan residu 14 jam yang ada?

Beberapa di antaranya mungkin mencoba menjejali serpih sisa jam itu dengan menertawakan tayangan drama komedi dari keping-keping dvd lima ribuan. Beberapa lainnya rela menggadaikan raga mereka dan membakar kalori bahkan meski tahu itu tak selamanya aman. Beberapa lagi mencoba membunuh setan-setan itu bersama teman-temannya bahkan walau harus membakar uang jerih payah mereka juga. Dan tak sedikit pula yang akhirnya berserah. Mereka tak punya trik jitu untuk menyumpal residu waktu selain dengan berbaring dan rela dikoyak.

Advertisement

Lewat pertanyaan ‘sampai kapan?’ atau ‘haruskah aku bertahan?’ atau ‘untuk siapa semua ini?’ atau ‘lalu apa setelah ini?’ atau ‘kenapa aku?’ bahkan ‘aku lelah’ hingga ‘aku benar-benar tak sanggup lagi’.

Nyatanya, meski mereka selalu mencoba memeranginya karena mereka sadar sudah seharusnya mereka menghentikan ini semua… Mereka selalu mati berkeping-keping terhempas dan tertumbuk ribuan pertanyaan dan pernyataan korosif, setiap hari, setiap malam. Raga mereka mungkin masih bisa terbangun keesokan paginya. Tapi batin mereka sudah sekarat sejak lama.

Terpanggang dalam panasnya dengki, teriris dalam tajamnya benci, dan mungkin terbunuh getirnya perasaan ingin lepas dan memaafkan yang tak pernah bisa benar-benar mereka realisasikan. Mereka sudah lama mati. Sebenarnya.

Tapi lucunya, hidup seolah tak memberikan pilihan lain bagi mereka untuk benar-benar mati atau benar-benar hidup. Mereka selalu terbangun keesokan paginya dalam raga yang berbalut daging, tanpa jiwa, tanpa hasrat, tanpa tujuan, dan bahkan mungkin tanpa cinta.

Sampai kapan?

Dan anehnya, meski pertanyaan itu selalu hidup dan tumbuh subur di setiap sudut ruang pikiran mereka, mereka selalu saja bertahan dalam harapan bahwa akan ada saatnya giliran mereka tiba. Entah kapan.