Aku masih ingat dengan pertemuan itu. Bahkan setiap detailnya tidak ada yang aku lupa sedikitpun.
Aneh rasanya, dari setiap cerita hidupku soal cinta dan patah hati, sepertinya ini menjadi cerita paling favorit sehingga sulit untuk dilupakan.

Iya, aku dan kamu pernah kuanggap menjadi kita walaupun itu hanya berlaku untuk aku seorang dan kamu tidak. Dulu, atau mungkin itu baru terjadi kemarin sore rasanya.
Mungkin kamu belum pernah merasakan yang namanya berjuang sendirian itu melelahkan sehingga kamu dengan mudah mengabaikan.
Tidak apa.
Setelah kamu memilih pergi dengan dia yang menurutmu lebih menarik hati, aku menjadi belajar untuk mencintai diri sendiri dengan lebih baik lagi.
Seseorang pernah berkata padaku,

Terkadang, beberapa pemain yang kita anggap sebagai pemeran utama, ternyata hanya sebagai cameo dalam beberapa adegan pertunjukkan kita saja.

Menurutku, kamu salah satunya.

Aku tidak akan menyebutkan berapa malam yang kuhabiskan hanya untuk menagisimu seperti orang bodoh dan juga berapa tulisan yang aku terbitkan hanya untuk menceritakan kamu, kamu lagi dan kamu terus karena akhirnya aku menemukan titik jenuh dengan kisahku tentangmu. Jadi kupastikan ini akan menjadi yang terakhir dan kamu sudah kuanggap selesai.

Advertisement

Hujan deras di hatiku sudah mulai berkurang dan hanya menyisakan gerimis yang kutahu tidak akan lama lagi reda.

Aku hanya tinggal menunggu pelangi itu mucul dengan menikmati secangkir cokelat panas dan melihat diriku sudah lebih bahagia saat ini.
Ya, pernah begitu hebat mencintaimu namun diabaikan ternyata berhasil membuatku lebih tangguh untuk mencari kebahagianku sendiri yang layak untuk aku dapatkan.
Karena aku percaya, meskipun kamu pernah begitu tidak adil padaku, tetapi Tuhan adalah sebaik-baiknya pemberi balasan untuk rasa tidak adilku ini.

Dan merelakanmu pergi adalah cara terampuh untukku berdamai dengan diri sendiri tanpa harus menahan sakitnya melupakan. Karena untuk bagian "melupakan", aku sudah menyerahkannya pada waktu untuk mengaturnya.

Terima kasih telah menyempatkan diri hadir dan menjadi bagian dari cerita hidupku. Kini, ceritamu sudah kuanggap selesai dan aku siap membuat cerita baru tanpa ada kamu di dalamnya.