Aku masih ingat bagaimana pertama kali aku beradu pandang denganmu. Aku masih ingat bagaimana senyumanmu membawaku pergi jauh ke alam khayalan. Aku masih ingat betapa konyolnya surat yang kutitipkan pada seorang tukang masak untuk diberikan padamu. Hai segalaku, masihkah kau menyimpannya? Kedatanganmu bekerja di perusahaanku sebagai "part-timer" telah mengalihkan pandanganku hanya tertuju padamu. Aku terpukau dengan senyuman dan tatapan meneduhkan itu. Kerendahan hati yang begitu bersahaja. Kita mengikat hubungan, berlibur selama 4 hari bersama. Sungguh memori singkat yang begitu berarti.

Telah kutemukan bahu ternyaman dan dekapan terhangat. Sosok pelindung dan teman terbaik. Ayah, abang, adik dan pacar sekaligus.

Di depanmu, aku takluk. Kau terlalu memikatku. Meski di mata dunia kau biasa saja, setiap kali melihatmu… aku seperti melihat "zorro-ku". Hari demi hari kita jalani. Terkadang kita mencuri kesempatan untuk bertemu di akibatkan kesibukan. Setiap kali kau lelah, aku menghampirimu dan membiarkanmu mengecup keningku. Karna katamu, senyuman dan kecupan kening dariku membuat tenagamu kembali pulih. Sebelum bertemu denganmu, aku berada dalam posisi hancur karna kecewa. Tapi kau berjanji untuk menyembuhkanku dan memegang erat tanganku selamanya walau apa yang terjadi. Lalu kau kembali ke negaramu, karna kita terpisah oleh lautan.

Dan kini semua hanya tinggal wacana.

Kita terpisah karena "teori manusia" yang tak bisa dikekalkan kebenarannya. Hujatan dari beberapa teman yang tak ku pedulikan, karena aku lah yang memilihmu. Kau berkata aku harus menunggu… Namun belum berakhir penantianku, kisah kita telah berakhir. Kita terpisah karna adat yang berbeda, pemikiran tradisional yang mengekangmu untuk bersamaku. Namun aku tak peduli semua itu. Aku rela jika harus meninggalkan kehidupanku untuk bersamamu. Dan yang paling menyayat hati, kau sengaja menyakitiku agar aku jauh darimu. Namun hatiku berkata lain, bukan hanya aku, kau pun terluka. Hingga akhirnya kau menyerah sebelum berperang dan aku kalah. Aku kembali hanyut di lautan duka. Namun sejak denganmu, kau telah menempahku menjadi wanita kuat dan lebih dewasa. Tanpa air mata, dengan senyum ku ikhlaskan kepergianmu sambil menawarkan persahabatan tulus yang tanpa pamrih.

Advertisement

Mungkin ini sangatlah menyakitkan, di saat aku ingin berjuang menemanimu melangkah dari nol, tapi harus terhenti disini. Aku harus siap melihatmu kelak bahagia dengan wanita pilihan ibumu dan aku harus tegar dengan pria pilihan ibuku. Namun, biarlah kamu menjadi rahasia di sudut hatiku dan aku akan terus mencintaimu… Aku akan tetap menjadi pendukung setia dan teman sejatimu meski kadang aku harus menahan diri dan terluka. Mencintaimu saja sudah cukup.

Meski tak bersama tapi cinta ini akan ku pelihara meski aku harus berdusta. Kita akan tetap bersama meski tak seperti biasa. Kini ada jarak, kini ada batasan… Namun bagiku tak ada batas untuk mencintaimu. Aku akan rahasiakan rasa ini dan berpura-pura menjadi teman baikmu untuk membuatmu bahagia. Berpura-pura mencintai pria itu agar keluargaku bahagia. Sungguh malang cinta kita… Tapi hidup harus terus berjalan…

Namun Ada cinta yang takkan pernah luluh, sekalipun tulang menjadi debu itulah kamu segalaku.