Selalu begini.

Ketika aku membuka mata di pagi hari, selalu keadaanmu yang ingin kuketahui pertama kali.

Saat aku melihat ponsel, jemariku selalu bergerak otomatis ke arah kontakmu hanya untuk sekedar mengatakan, "Selamat pagi :)"

Apa kau tahu kebenaran dibalik ucapan selamat pagi yang ingin kukirimkan ?

" Aku mengingatmu sebelum aku memulai hariku "

Advertisement

Ketika aku mulai beranjak dan merapikan buku-bukuku, aku teringat caramu membacanya.

Tanganmu akan menggenggamnya dengan mantap, dan sorot matamu menandakan jika kau tengah terhanyut dalam dunia lain yang dibuat oleh buku itu.

Mengapa aku memperhatikannya?

Sederhana.

Karena apapun yang kamu lakukan, itu selalu bisa membuatku jatuh cinta

Dan apapun yang membuatku bahagia, maka akan dengan senang hati masuk dalam memoriku bahkan sebelum aku menyadarinya

Ketika aku mencoba mengalihkan pikiranku kepada hal lain, entah mengapa otakku selalu bisa membuatku kembali mengingatmu dengan paksa.

Seperti ketika aku menghabiskan makan siangku, aku teringat menu yang selalu kau pesan ketika kita tak sengaja bertemu di kantin.

Ketika aku mengikat tali sepatuku, aku teringat jika warna tali sepatumu serupa denganku dan anehnya, hal sekecil itu bisa membuatku tersenyum.

Aneh? Memang

Bahkan bisa dikatakan menakutkan karena tingkah lakuku tak ada bedanya dengan penguntit.

Tapi, begitulah kenyataannya.

Tapi sepertinya Tuhan belum cukup mempermainkanku.

Ketika berada di luar, mataku selalu secara otomatis bergerak mencari kehadiranmu diantara banyak orang, yang kutahu pasti hal itu tak mungkin terjadi, mengingat posisi dirimu yang sekarang berada jauh dariku.

Tapi aku bisa apa ?

Karena mataku bergerak lebih cepat daripada otakku.

Ketika aku tertawa bersama temanku, otakku masih tak henti-hentinya menanyakan kabar tentangmu.

Meskipun ponselku sudah kusetting agar tidak berdering, tapi seringkali mataku bergerak ke arah sana.

Harap-harap cemas, takut seandainya kau mengirimkan kabar, namun saat itu aku tak menyadarinya.

Walau kenyataannya hal itu tak pernah terjadi, tapi diriku seakan tak pernah bosan melakukannya

Saat malam tiba ? Lebih parah lagi.

Perasaanku dengan terang-terangan selalu menanyakan kabarmu padaku dan otakku berkali-kali menyuruhku untuk menghubungimu, namun selalu ditepis oleh egoku dan akhirnya berakhir dengan diam.

Tak melakukan apa-apa selain mati-matian memendam perasaan yang perlahan namun pasti, menusukku.

Seperti itulah aku merindukanmu

Aku selalu berharap, aku bisa merindukanmu dengan sederhana.

Sesimpel pikiran orang awam, dimana dikala kau rindu, kau hanya ingin bertemu dengannya atau sekedar mengetahui kabarnya dikala kau tak bisa didekatnya. Itu sudah cukup.

Rinduku? berbeda

Sayangnya dia tak bisa sesederhana itu.

Rinduku datang seperti ombak.

Ombak itu dimulai dari saat aku memulai hariku, sedikit demi sedikit, pelan namun pasti akhirnya tergenang, yang pada akhirnya semua itu membuatku tenggelam di malam hari.

Maaf, aku tak bisa mendiskripsikannya lebih jauh karena aku sendiri takut jika aku terlalu mengungkapkannya, maka aku tak bisa menepati janjiku padaku sendiri dari jauh hari (mungkin saat aku mulai menyadari perasaanku padamu?)

untuk melupakan perasaanku.