Merpati baik akan tahu ke mana tempat terbaik untuk pulang!

Merpati. Sebuah kata yang bisa dibilang tidak asing lagi; putih, dan rupawan. Iya, memang aku menamainya “merpati”. Seorang pemuda tampan, gagah, tinggi, putih, berambut cepak, dan berdada bidang, bekerja, memiliki moto “NKRI Harga Mati”. Deskripsi yang sedikit sempurna dan pasti sudah bisa ditebak dia berprofesi sebagai apa.

Aku seorang wanita yang tidak begitu cantik. Sebagai seorang mahasiswi, untuk prestasi bisa dibilang lumayan walaupun belum melejit sampai dapat beasiswa luar negeri (sekarang lagi berjuang untuk mendapatkan beasiswa itu). Aku memiliki seorang kekasih yang sudah terdeskripsi itu. Tentu saja menjadi hal yang sedikit membanggakan untuk aku yang masih berstatus menjadi mahasiswi.

Siapa yang tidak mau mendapatkan kekasih seperti yang aku deskripsikan di atas?

Menjadi seorang kekasih abdi negara memang banyak rintangannya, banyak cobaannya. Ya, tentu saja LDR, menahan rindu, tidak bisa dikontak, jarang ditelepon, tidak bisa ditemui dan banyak lagi.

Aku mengenal kekasihku tidak lama, hanya hitungan bulan saja. Berbeda dengan yang lain, yang mengenalnya dari sebelum dia belum jadi seperti sekarang. Untuk hubungan yang bisa dibilang masih seumur jagung, dan jarang bertemu (hanya bertemu lewat pesan suara yang itupun tidak pasti waktunya), beberapa waktu kemarin adalah bulan yang membahagiakan buatku.

Advertisement

Aku dapat menemuinya setelah sekian lama hanya berkomunikasi lewat dunia maya. Wah, bisa kalian bayangkan 'kan bagaimana rasa senangnya bisa ketemu pujaan hati? Hihihi. Di penghujung bulan ke lima adalah hari di mana dia resmi dan dilantik untuk penempatan; setelah pendidikan yang lama.

Senang, sedih, kecewa. Rasanya campur aduk ketika mendengarkan pengumuman di Aula Jenderal Soedirman saat itu. Lagi-lagi, aku harus menelan pil pahit LDR-an. Penempatannya yang jauh sekali (ya, menurutku jauh karena harus naik pesawat) adalah ke sebuah pulau dengan sebutan Celebes”.

Ya, untuk penugasan pertama dan tanpa tahu untuk berapa lama. Setahun, dua tahun, tiga tahun atau justru lebih? Ah, aku tidak tahu! Yang aku tahu adalah aku sedih karena harus berpisah dengannya lagi untuk waktu yang sangat lama dan tidak diketahui juga kapan dia cuti.

Inilah sedikit ceritaku.

***

Hari itu adalah Senin, dan aku masih PPL. PPL itu mirip magang; menjadi guru di sekolah menengah negeri. Pas banget hari ini juga hari terakhir PPL dan juga ujian untuk penentuan nilai setelah hampir 4 bulan. Hari ini, harusnya ujian pukul 11.00 tapi untung saja temanku mau bertukar posisi sehingga ujianku bisa dimajukan menjadi pukul 09.00. Tepat pukul 11.00, aku sudah selesai ujian dan ditelepon kakakku untuk segera berangkat ke Banten. Lelah, deg-degan dan lega karena tugas masa kuliah sudah terlewati dengan baik.

Pukul 11.00 tepat aku dijemput kekasih kakakku dan kami segera meluncur ke Banten, tempat di mana besok dia melakukan upacara penutupan dan pengumuman untuk penempatan tugas pertama. Perjalanan Bandung-Banten lumayan lama. Kita sampai di penginapan daerah Rangkas Bitung sekitar pukul 18.00. Rasa capek setelah perjalan jauh rasanya akan terbayar oleh rinduku yang akan segera terbalas. Setelah Isya, aku tidur dan bersiap besok pukul 08.00 untuk berangkat ke daerah Ciuyah.

Pukul 07.00, Selasa itu, aku sudah mandi dan bersiap-siap. Tepat pukul 09.00, kami sampai di Ciuyah. Rupanya cuaca Banten tidak begitu cerah, pagi sudah gerimis, dan upacara penutupan diundur menjadi pukul 09.35; menunggu sampai gerimis sedikit berkurang.

Sesaat kemudian, upacara penutupan sudah dilaksanakan dan aku belum menemukan sesosok pemuda putih, berdada bidang, berambut cepak yang aku kenal. Banyak sekali siswa yang ikut penutupan hari itu. Ada sekitar 127 siswa dengan pakaian dinas upacara yang sama, berbadan hampir sama dan juga rambut yang sama-sama cepak. Huh, untuk menemukan merpatiku sangatlah sulit karena ternyata dibagi menjadi beberapa kompi. Betapa bodohnya aku! Aku tidak tidak tahu dia pleton berapa dan kompi apa. Hmm, yaa maklum deh karena orangnya sulit banget untuk dikontak.

Sambil mencari sesosok merpatiku, aku berjalan dan bersiap menunggu pengumuman di Aula Jendral Soedirman. Suasananya riuh, ramai, dan sedikit menegangkan karena pengumuman akan segera dibacakan. Rasa was-wasku muncul ketika satu persatu nama mulai disebutkan.

Untuk penempatan di daerah 3 nyatanya tidak ada nama dia. Rasa deg-degan-ku semakin menjadi ketika mengetahui bahwa kakakku ditempatkan di daerah 6 Borneo”. Sontak kekasih kakakku langsung menangis dan berlari. Ah, aku tidak peduli! Aku sendiri masih deg-degan untuk penempatan dia.

Penempatan daerah 7Celebes dibacakan dan duer!

Ada nama dia dibacakan. Tanpa ku sadari, sedikit air mataku menetes ketika tahu penempatan yang lumayan jauh. Aku berjalan dan mencari kekasih kakakku tadi, dan mendapatinya masih menangis. Meski sama-sama kecewa dengan hasil penempatan kekasih hati, aku mencoba menenangkannya karena memang sudah menjadi resiko seorang abdi negara. Mereka harus siap ditempatkan di mana saja. Dan kami, sebagai seorang kekasih hanya bisa mendukung dan selalu memotivasinya.

Upacara penutupan sudah dilakukan, pengumuman penempatan sudah juga diumumkan. Siswa segera bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing sebelum pemberangkatan ke tempat penugasan. Fyi, hanya di beri waktu 2 hari saja untuk bertemu orangtua dan orang-orang yang disayang.

Kakakku segera kembali ke barak untuk mengemas barang-barangnya yang akan dibawa pulang. Sementara aku? Tentu saja aku masih berjalan-jalan mencari merpatiku.

Oh! Betapa kagetnya aku ketika melihatnya berdiri dengan gagah di sana!

Aku menemukan dia di depan barak, di samping barak kakakku. Seorang pemuda bersih, tinggi, dan memakai tas selempang. Teman-temannya memanggil merpatiku dengan sebutan "Bule". Aku ingin segera menyapanya, tapi aku masih malu untuk melakukannya. Aku takut salah orang!

Acara kemas-kemas telah selesai dan saatnya kembali ke mobil untuk pulang ke Bandung. Ternyata merpati yang aku jumpai di depan barak tadi adalah benar-benar merpatiku. Aku pun hanyut dalam rasa terharu, ingin nangis (tapi malu).

Pukul 12.00 kita meluncur ke Bandung. Merpatiku duduk di depan, dekat dengan sopir, sedangkan aku, kakakku, dan kekasih kakakku duduk di belakang. Di sepanjang perjalanan Bandung-Banten aku hanya sedikit menyapa merpatiku; aku masih malu. Berbeda dengan kakakku dan kekasihnya yang sudah akrab karena memang sudah lama mengenal. Aku hanya bisa sedikit menatapnya. Kadang dia lontarkan senyum kecil (yang benar-benar membuatku meleleh).

Pukul 22.00 kami tiba di rumah masing masing. Jarak rumahku dan merpatiku tidaklah jauh. Kami satu kompleks perumahan, hanya beda gang saja. Malam itu kami masih saling berkabar-kabaran untuk membayar rasa rindu yang selama ini terpendam. Sampai pukul 23.00 aku izin ke dia untuk tidur duluan. Dan besok pagi kami janjian untuk lari di stadion kampusku.

Rabu, awal bulan ke-6 hari itu, aku bisa bertemu dengannya. Aku dan dia saling bercerita, dan saling mendekatkan diri satu sama lain. Kami mulai bercerita bagaimana selama pendidikan, bagaimana dia selama ini dan saling bercerita tentang keluarga masing-masing. Satu hal yang membuat aku sedikit tercengang adalah ketika dia bilang kalau rumahnya yang di dekat rumahku itu sudah lama dan kita baru diketemukan beberapa bulan terakhir. Hehe. Ya, memang kita tidak akan pernah tahu bagaimana kita akan bertemu dengan orang-orang baru walaupun dia sebenarnya dekat dengan kita, bukan?

Setelah kami bercerita dan lari bersama, dia mengantarkanku pulang ke rumah. Hingga di rumah pun kami masih bercerita lagi tentang kehidupan masing masing; aku sebagai mahasiswa dan dia sebagai abdi negara. Sedikit menambah pengalaman dan mengobat rasa rindu.

Pukul 09.00 setelah dia mengantarku pulang, dia izin untuk pergi ke rumah temannya, di daerah Cisarua. Jelas aku mengizinkannya karena sadar ia pun butuh hiburan. Selama dia pergi, aku tidak mengontaknya karena aku tahu dia sedang ingin menyegarkan otaknya setelah sekian lama ditempa. Sampai malamnya dia baru berkabar dan ingin ke rumah lagi untuk mengantarkan makan malam.

Rabu malam, dia mengantarkan aku makan malam, sekaligus sedikit membicarakan kenapa kita ketemu terlambat di masa sebelum dia penempatan jauh.

Bagiku, untuk dipertemukan dengan orang yang tepat itu tidak harus mengenalnya lama. Justru ketika kita benar-benar berjodoh, walaupun dipertemukan dengan cara yang singkat, kita akan tetap bersama. Begitu kataku ketika dia menyesali kenapa kita dipertemukan secara terlambat.

Kamis, dia izin pulang ke rumah ke-2 nya selain di Bandung. Waktu malam sebelum Maghrib, dia baru memberi kabar kalau dia baru sampai Bandung dan ingin potong rambut sekalian mampir ke rumah lagi. Sore inilah benar-benar sore terakhir di mana aku bisa menatapnya untuk terakhir sebelum dia benar-benar tugas dinas. Sore ini dia pamit kalau mau benar-benar pergi dinas dan belum tau kapan dia dapat cuti.

Wah, hatiku rasanya nano-nano. Antara ingin menangis, tapi harus ikhlas melepaskan dinas ke luar pulau.

Malam ini, malam terakhir mas bisa ketemu kamu. Kamu jaga diri baik-baik, doain mas yang terbaik. Mas di sana nggak senang-senang. Mas di sana kerja. Mas pasti pulang; kamu sekolah yang bener! Nanti mas pulang ke Bandung dan bakal temuin kamu lagi. Rumah kamu jangan pindah. Kamu nggak boleh nangis; tahu keajaiban sebuah doa, 'kan? Doakan saja mas terus. Sugestinya yang baik-baik. Walaupun ketemu hanya 2 hari, mas yakin kalau kita jodoh pasti mas akan kembali ke kamu; bukan ke orang lain.”

Kata-kata itu sungguh menyentuhku. Terharu, dan menguatkanku.

Jumat, hari ke-3 di mana dia harus kumpul di Rindam sebelum berangkat ke “Celebes”. Sore jam 15.00, semua siswa harus sudah kumpul di sana. Termasuk kakakku, aku dan kekasih kakakku ikut mengantar. Ternyata merpatiku diantar oleh kedua orangtuanya. Itu kali pertama aku benar-benar melihat kedua orangtuanya. Kami hanya saling memandang, kami tidak saling sapa. Oh, mungkin hanya sekadar kata ‘Hai' waktu itu.

Sabtu, hari ke-4. Aku ditelepon kekasih kakakku kalau hari ini benar-benar hari terakhir kita bisa menemuinya sebelum berangkat ke Jakarta. Ternyata kami diizinkan bertemu siswa sampai jam 08.00 pagi. Pagi-pagi betul, pukul 05.00 aku bergegas mandi. Aku dan kekasih kakakku sampai di Rindam pukul 06.00 dan saling berpamitan lagi sebelum mereka pergi. Sudah tertebak, ya? Suasana haru biru, dan tangisan meliputi kami waktu itu. Air mata ku benar-benar tidak bisa di tahan setelah bis-bis itu pergi menginggalkan kami.

Dan sampai saat ini merpatiku belum berkabar lagi.

***

Inilah pengalaman jatuh cinta terbaikku. Di mana aku harus berjuang, terus berdoa yang terbaik untuknya. Dengan hanya diberi kesempatan bertemu untuk 4 hari (itupun tidak ada 24 jam), hingga pada detik ini merpatiku pun belum berkabar lagi.

Ah, bukan untuk bersugesti yang buruk. Hanya saja aku berpikir merpati terbaik pengawal keselamatan nusa 'sedang' aku lepaskan. Merpatiku siap menepati sumpah satrianya, merpati terbaikku 'sedang' aku lepaskan dan aku yakin dia tahu ke mana dia harus pulang.

Yang bisa aku lakukan saat ini hanya berdoa yang terbaik. Menyampaikan rindu-rinduku lewat doa.

Ku pikir, sekarang jarak aku dengan dia tidak jauh lagi; hanya sebatas kening dan sajadah saja.