Aku memang bukan calon istri yang sempurna. Terkadang rasa egois masih saja menghantui pikiranku. Sifat manjaku juga terkadang masih tampak.

Sebagai seorang perempuan, aku harusnya sudah khatam dengan kegiatan mengurus rumah dan tetek bengeknya. Namun, memasak bukanlah keahlianku, pun dengan mencuci dan membereskan rumah yang kulakukan dengan semampuku. Aku juga bukan seorang perempuan yang rapi. Aku masih suka menunda membereskan selimutku ketika aku bangun pagi. Aku juga bukan perempuan yang pandai menghias diri. Membersikan muka dan pakai krim malam, tak pernah kulakukan. Ya mungkin pernah kulakukan sesekali kalau sifat rajinku sedang kumat. Aku juga tak bisa berdandan layaknya perempuan kebanyakan. Tak mengerti bedanya lipstik Rp50.000,- dan Rp500.000,-. Kosmetik yang kutahu cuma bedak, alas bedak, dan lipstik yang biasa-biasa saja.

Aku memang bukan calon istri yang sempurna. Aku belum mengerti dan memahami sepenuhnya keinginanmu. Belum sepenuhnya bisa menerima pekerjaanmu. Namun, aku akan belajar. Belajar mendorongmu, belajar untuk mengelus dadamu ketika kamu dipusingkan dengan pekerjaan, belajar untuk memahami suasana hatimu. Hingga nanti ketika kau pulang dengan wajah kusut, aku akan menyekanya dengan sebuah senyum hangat dan bersahabat. Bukan dengan rengekan atau tekanan.

Aku memang bukan calon istri yang sempurna, tapi tolong bantu aku untuk bisa menjadi pendampingmu yang selalu setia mengiringi perjalanan hidupmu. Bantu aku untuk bisa menjadi perempuan yang tegar agar ketika kau butuh sandaran, pelukku masih tegak menopang keluh kesahmu. Usapku masih lembut menyeka keringat dan peluhmu ketika lelahmu melanda.

Aku akan selalu berusaha untuk menciptakan kenyamanan untukmu, untuk kita di rumah kita yang mungil. Agar kebahagiaan dan kesejahteraan selalu turut serta dalam perjalanan hidup kita yang penuh cinta dan kasih.

Advertisement

Semoga semesta turut melangitkan doa kita kepada Yang Maha Kuasa.