Aku memahami betul ini sesuatu yang baru bagimu. Menerima adanya aku di hari-harimu. Aku yang, sangat jelas, berbeda dengan harapanmu.

Kamu selalu berpikir, mengapa akhirnya kita memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama?

Kamu selalu mencari, kesamaan apa yang kita miliki sampai akhirnya kamu menyadari kita sudah berdua segini lama?

Si Introvert dan Si Ekstrovert

Kamu yang tak banyak bicara, terkadang menasehatiku agar bertingkah polah layaknya seperti perempuan kebanyakan. Mendengar kabarku di luar seharian, meski dengan agenda yang jelas, terkadang membuatmu sebal sendirian. Dan aku harus merayumu semingguan.

Advertisement

Rentetan nama teman-temanku, yang sebagian besar tak dapat kamu ingat pun menjadi keluhan. Berbanding terbalik denganmu. Aku mampu menghapal setiap nama dan wajah teman-temanmu. Karena ya, teman-temanmu hanya itu-itu saja.

Sikapku yang supel dan terbuka dengan siapapun selalu jadi bahan perdebatan. Katamu, itu bisa memancing lawan jenis melakukan pendekatan. Dan aku menyadari, kamu hanya tidak ingin aku dilecehkan.

Jika memang begitu, apakah cinta dapat di ukur hanya dari kepribadian seseorang? Toh sebenarnya dalam setiap diri kita memiliki kedua tipe kepribadian tersebut, introvert dan ekstrovert. Bedanya, aku yang lebih cenderung ekstrovert.

Si Pelupa dan Si Pengingat

Ingatan selalu menjadi hal yang lucu, buatku.

Bagaimana tidak? Aku bahkan dapat mengingat setiap materi kuliah yang di berikan dosen di setiap pertemuannya. Tapi aku tidak dapat mengingat kapan aku mulai menelisik masuk dalam hidupmu. Dan kamu mengingatnya. Itu mungkin kelupaan tak termaafkan yang aku lakukan. Tapi kamu bahkan untuk hal-hal kecil saja harus selalu aku ingatkan. Ketika kamu lupa arah jalan kerumahku, yang hampir setiap harinya kamu singgahi selama beberapa tahun ini, apa aku pernah merajuk?

Jika memang begitu, apakah cinta bisa di ukur hanya dari ingatan seseorang? Toh sebenarnya kita sebagai manusia memiliki ingatan yang kadang baik dan kadang buruk. Bedanya, aku yang lebih memiliki ingatan yang buruk.

Si Agamis dan Si Sosialis

Berawal dari dua keluarga yang berbeda, tentu, aku dan kamu terbentuk dengan pola asuh yang tak sama.

Kamu yang lebih terlihat tenang, memiliki pemahaman agama yang baik, well—itu jelas bentukan dari pola asuh keluargamu. Dan aku mensyukurinya. berarti, do’a ku untuk memiliki calon imam yang baik berarti sebentar lagi di kabulkan oleh-Nya.

Aku yang terlahir dari ibu yang sangat sosialis, tak ku pungkiri, menjadikan aku perempuan yang memiliki jiwa sosial tinggi. Itu mengapa penampilanku (terkadang) terlihat “berantakan”. Dan kamu tak pernah bosan mengingatkan aku untuk selalu memperhatikan pakaianku.

Hei, kamu tau, aku selalu jatuh cinta dengan caramu menjagaku.

Jika memang begitu, apakah cinta bisa di ukur hanya dari pembentukan karakter seseorang? Toh sebenarnya agamis ataupun sosialis adalah dua karakter yang dapat dibentuk dan saling menguntungkan.

Jika kamu sungguh mencintai, perbedaan ini akan melengkapi, itu satu yang aku yakini.